Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Otak Jangan Diisi Drama dan Mi Instan Terus! Dokter Ungkap 7 Makanan yang Bikin Pikiran Tetap Tajam dan Tak Cepat “Loading”

×

Otak Jangan Diisi Drama dan Mi Instan Terus! Dokter Ungkap 7 Makanan yang Bikin Pikiran Tetap Tajam dan Tak Cepat “Loading”

Sebarkan artikel ini
ilustrasi dokter

JAKARTA — Di era banjir informasi, otak manusia bekerja lebih keras daripada admin media sosial saat internet lemot. Ironisnya, banyak orang justru merawat otaknya dengan pola makan seadanya: pagi kopi gula, siang nasi gunung, malam mi instan plus rebahan.

Akibatnya, tubuh memang kenyang, tetapi otak perlahan masuk mode “lemot permanen”.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Padahal, kesehatan otak bukan cuma urusan usia lanjut atau penyakit Alzheimer. Gaya hidup modern yang dipenuhi makanan ultra-proses, kurang gerak, dan stres digital diam-diam mempercepat penurunan fungsi otak sejak usia muda.

Para ahli kini mengingatkan bahwa pola makan punya pengaruh besar terhadap daya pikir, konsentrasi, memori, hingga risiko kepikunan.

Sebab sekitar 25 persen aliran darah tubuh menuju otak. Artinya, apa yang dimakan hari ini ikut menentukan apakah otak bekerja optimal atau malah berubah seperti browser dengan 73 tab terbuka.

Makan Asal Kenyang: Tradisi yang Pelan-pelan Merusak Otak

Spesialis bedah saraf Dimas Rahman Setiawan menyoroti kebiasaan makan masyarakat yang masih berorientasi “yang penting kenyang”.

Menurutnya, banyak orang terlalu fokus pada karbohidrat, tetapi melupakan keseimbangan nutrisi lain seperti protein, lemak sehat, vitamin, dan serat.

“Kadang-kadang nutrisi tidak seimbang, yang penting kenyang. Jadi makan nasinya banyak banget,” ujarnya.

Fenomena ini sangat khas Indonesia.

Piring penuh nasi dianggap sukses. Sayur cuma tempelan. Protein hadir sekadar formalitas. Setelah makan, tubuh memang terasa penuh, tetapi otak belum tentu mendapat bahan bakar berkualitas.

BACA JUGA :  Organ Tunggal Lewat Malam Siap Disidik, Polsek Tanjung Bintang Pasang Alarm Hukum

Di sisi lain, konsumsi makanan ultra-proses atau Ultra-Processed Food (UPF) terus meningkat. Mulai dari makanan instan, minuman manis kemasan, camilan tinggi gula, hingga makanan cepat saji.

Masalahnya, makanan jenis ini tinggi lemak jenuh dan karbohidrat olahan yang dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di otak.

Kalau dibiarkan terus-menerus, bukan cuma lingkar perut yang melebar kemampuan berpikir pun ikut melambat.

Ahli Saraf Bongkar “Menu Anti-Lemot” untuk Otak

Seorang ahli saraf asal Amerika Serikat, Aaron Lord, membagikan sejumlah makanan yang rutin ia konsumsi demi menjaga fungsi otaknya tetap optimal.

Daftarnya ternyata sederhana, tetapi sering kalah populer dibanding promo ayam crispy dan minuman boba ukuran ember.

1. Kacang Kenari: Cemilan Kecil, Efek Besar untuk Otak

Kacang kenari kaya omega-3, lemak baik yang penting untuk fungsi otak dan perlindungan saraf.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients tahun 2020 menyebut konsumsi 28–42 gram kenari per hari dapat membantu menjaga fungsi kognitif.

Secara bentuk pun kenari memang mirip otak manusia. Bedanya, kenari benar-benar dipakai untuk berpikir bukan untuk overthinking mantan.

2. Ikan Berlemak: Nutrisi yang Sering Kalah oleh Ayam Goreng Tepung

Ikan seperti salmon dan kerapu kaya asam lemak omega-3 EPA dan DHA yang bersifat anti-inflamasi dan baik untuk otak.

Masalahnya, banyak orang sekarang lebih sering makan makanan viral daripada makanan bergizi.

BACA JUGA :  Puasa Ramadan Lebih dari Sekadar Ibadah, Begini Manfaat untuk Kesehatan Tubuh

Padahal otak manusia membutuhkan lemak sehat, bukan cuma konten receh dan gorengan tiga kali sehari.

3. Sayuran Hijau: Musuh Anak Kos, Sahabat Otak

Bok choy, brokoli, asparagus, hingga sayuran hijau lain mengandung folat, serat, lutein, dan beta karoten yang membantu menjaga fungsi otak.

Penelitian yang dipublikasikan jurnal Neurology tahun 2023 menunjukkan orang yang rutin mengonsumsi sayuran hijau memiliki penumpukan beta amiloid lebih rendah di otak salah satu penanda penyakit Alzheimer.

Namun kenyataannya, banyak orang dewasa masih memperlakukan sayur seperti mantan toxic: tahu itu baik, tetapi tetap dihindari.

4. Tomat: Murah, Merakyat, Kaya Antioksidan

Tomat mengandung likopen, antioksidan kuat yang membantu melawan stres oksidatif dan peradangan di otak.

Artinya, sambal tomat sebenarnya punya kontribusi baik selama bukan sambal level neraka yang bikin lambung ikut menyerah.

5. Minyak Zaitun: Lemak Baik yang Sering Kalah oleh Minyak Jelantah

Minyak zaitun kaya lemak tak jenuh tunggal yang membantu menurunkan kolesterol jahat dan menjaga kesehatan pembuluh darah otak.

Ahli diet Kristin Kirkpatrick bahkan menyarankan konsumsi sekitar tiga sendok makan minyak zaitun per hari.

Sementara di banyak dapur, minyak goreng dipakai berkali-kali sampai warnanya lebih gelap daripada masa depan dompet akhir bulan.

6. Kunyit dan Jahe: Bumbu Dapur yang Diam-diam “Menjaga Server Otak”

Kunyit mengandung kurkumin yang bersifat anti-inflamasi dan antioksidan.

BACA JUGA :  Ribuan Siswa Indonesia Dapat Layanan Skrining Gigi Gratis dari Dr Clobo Camera

Sebuah studi tahun 2018 menunjukkan konsumsi kurkumin membantu meningkatkan memori pada orang dewasa tanpa demensia.

Sementara jahe membantu meningkatkan kejernihan berpikir.

Artinya, rempah-rempah Nusantara sebenarnya sudah kaya manfaat sejak lama. Sayangnya, sekarang lebih sering kalah pamor dibanding minuman warna-warni penuh gula.

7. Kopi dan Teh: Penyelamat Produktivitas Nasional

Kopi dan teh mengandung flavonoid dan kafein yang membantu meningkatkan konsentrasi dan metabolisme otak.

Namun, para ahli mengingatkan konsumsi kafein tetap harus wajar. FDA menyebut batas aman sekitar 400 mg per hari atau sekitar 2–3 cangkir kopi.

Karena kalau sudah lima gelas kopi tetapi kerjaan tetap tidak selesai, kemungkinan masalahnya bukan di kafein — melainkan di deadline dan kebiasaan menunda.

Selain nutrisi, aktivitas fisik dan mental juga sangat penting untuk menjaga kesehatan otak.

dr Dimas mengingatkan otak manusia harus terus dilatih berpikir dan beraktivitas.

Menurutnya, banyak orang lanjut usia mengalami percepatan penyusutan fungsi otak karena berhenti aktif dan terlalu lama pasif.

“Nah, tidak beraktivitas inilah yang akhirnya menyebabkan manusia tidak biasa berpikir,” katanya.

Artinya, otak itu seperti otot: makin jarang dipakai, makin melemah.

Dan di zaman sekarang, tantangan terbesar otak bukan hanya penyakit tetapi juga kebiasaan hidup instan, rebahan berkepanjangan, serta maraton konten pendek tanpa jeda.

Sebab otak manusia diciptakan untuk berpikir, bukan sekadar menghafal diskon tanggal kembar dan drama media sosial tiap malam.***