Presiden menyebut sebelumnya pengemudi mendapatkan sekitar 80 persen hasil kerja, sedangkan 20 persen menjadi bagian aplikator.
Melalui rekomendasi pemerintah, porsi pengemudi disebut meningkat menjadi 92 persen.
Prabowo mengatakan banyak pengemudi melaporkan pendapatan mereka meningkat signifikan.
Bank Emas Kelola 153 Ton Senilai Rp360 Triliun
Sektor strategis lain yang disorot adalah pengelolaan kekayaan alam.
Prabowo menyebut Bank Emas di Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia telah mengelola sekitar 153 ton emas dengan nilai sekitar Rp360 triliun atau USD20 miliar.
Menurutnya, emas Indonesia tidak boleh hanya ditambang kemudian keluar sebagai komoditas mentah.
“Kekayaan Indonesia harus memperkuat tabungan, pembiayaan, dan perekonomian Indonesia,” kata Prabowo.
Pemerintah juga mengembangkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal pengelolaan ekspor komoditas strategis.
DSI Temukan Potensi Tambahan USD5 Miliar
Sejak beroperasi pada Juni 2026, Prabowo menyebut DSI telah mengelola devisa ekspor sekitar USD14 miliar dari tiga komoditas, yakni batu bara, kelapa sawit dan besi baja.
Lebih dari 6.000 transaksi ekspor disebut telah dimonitor dan menghasilkan temuan potensi tambahan sekitar USD5 miliar dari perbedaan serta penyesuaian harga.
Ke depan, pengawasan akan diperluas ke 50 pelabuhan di 25 provinsi dan mencakup komoditas strategis lainnya.
Logikanya sederhana: kalau barang yang keluar dari Indonesia bernilai besar, maka pencatatannya juga tidak boleh memakai logika “kira-kira”.
Ekonomi Hijau Harus Menghasilkan Uang untuk Rakyat
Prabowo juga menekankan ekonomi hijau harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pemerintah disebut telah memberlakukan sistem registrasi unit karbon dan menjalankan bursa nilai ekonomi karbon dengan standar karbon dunia.
Menurut Presiden, hutan yang dijaga dan emisi yang dikurangi memiliki nilai ekonomi.
“Ekonomi Hijau harus memberi manfaat kepada rakyat kita. Kita bangun, tapi harus menciptakan nilai tambah bagi rakyat kita,” ujarnya.
Dari Desa hingga Emas, Ujian Terbesarnya Bukan Pidato
Jika dirangkum, pidato Prabowo menawarkan satu garis besar: kekayaan dan program negara harus semakin dekat dengan rakyat.
Mulai dari koperasi desa, jembatan, air bersih, MBG, kesehatan, bansos, perumahan, ekonomi digital, karbon hingga emas dan ekspor komoditas.
Namun, sederet target dan angka tersebut pada akhirnya akan diuji di lapangan.
Sebab bagi rakyat desa, jembatan bukan angka 5.000, tetapi jalan agar anak bisa sekolah. Air bersih bukan angka 3.000 titik, tetapi air yang benar-benar mengalir. MBG bukan angka puluhan juta penerima, tetapi makanan yang benar-benar sampai ke piring anak.
Dan Bank Emas maupun pengawasan ekspor juga bukan sekadar angka triliunan rupiah.
Ukuran akhirnya tetap sama: seberapa besar kekayaan Indonesia benar-benar kembali menjadi kesejahteraan rakyat.
Karena pidato bisa selesai dalam hitungan jam.
Pekerjaan rumah negara tidak.***













