Scroll untuk baca artikel
Opini

Pinjol Masuk Rumah, Keharmonisan Keluar: Saat Utang Jadi Penghancur Keluarga

×

Pinjol Masuk Rumah, Keharmonisan Keluar: Saat Utang Jadi Penghancur Keluarga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi, Pinjaman Online
Ilustrasi, Pinjaman Online

OLEH – Ustadz Shofi MustajibullahAlumni Az-Zahirul Falah Ploso Kediri.

WawaiNEWS.ID – Di era kapitalisme digital hari ini, manusia tampaknya tidak lagi dinilai dari isi kepala, melainkan isi keranjang checkout dan limit paylater. Iklan datang tanpa henti, diskon bertebaran setiap jam, dan algoritma bekerja siang malam memastikan masyarakat terus merasa kurang meski isi rumah sudah penuh kardus belanja online.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Akibatnya, lahirlah generasi “tanggal tua tapi gaya tetap kaya”. Sebuah budaya konsumtif yang perlahan berubah menjadi jebakan finansial massal.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan emak-emak grup WhatsApp atau curhatan bapak-bapak penghuni warung kopi. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kualitas utang rumah tangga terus memburuk. Nilai kredit macet sektor rumah tangga bahkan menembus Rp48,80 triliun.

Secara makro, keadaan memang masih terlihat “aman”. Bank Indonesia menilai rasio utang nasional terhadap PDB masih terkendali. Namun di level dapur rumah tangga, kenyataannya sering jauh dari kata stabil.

Sebab yang terjadi bukan sekadar masyarakat berutang, tetapi masyarakat hidup dengan cara berutang.

Dari Kebutuhan ke Gengsi: Utang Kini Jadi Gaya Hidup

Masalah makin pelik ketika portofolio utang masyarakat didominasi pinjaman konsumtif berbiaya tinggi. Mulai dari pinjaman online, kredit instan, cicilan barang elektronik, sampai utang untuk memenuhi kebutuhan harian.

Ironisnya, sebagian besar utang itu bukan dipakai membangun usaha, melainkan mempertahankan ilusi sosial.

BACA JUGA :  BAHAYA! KTP Anda Bisa Dipakai Pinjol Tanpa Izin, Begini Cara Cek dan Mencegah NIK Disalahgunakan

Gaji Rp2 juta, tetapi gaya hidup ingin setara influencer. Motor belum lunas, sudah tergoda ganti ponsel terbaru. Dapur ngos-ngosan, tetapi kopi susu premium tetap harus masuk story Instagram.

Data menunjukkan sekitar 44 persen pengajuan utang baru berasal dari kelompok berpenghasilan Rp1–3 juta per bulan. Kelompok ini paling rentan terjebak pola “gali lubang tutup lubang”, sebuah siklus ekonomi yang kadang lebih konsisten daripada janji hidup hemat tiap awal bulan.

Di titik inilah kapitalisme bekerja sangat halus: membuat orang merasa miskin bukan karena tak punya kebutuhan pokok, melainkan karena tak mampu mengikuti standar gaya hidup digital.

Ketika Pinjol Masuk Rumah, Kehangatan Keluarga Keluar Pelan-Pelan

Utang konsumtif bukan hanya soal angka di aplikasi finansial. Ia perlahan berubah menjadi bom waktu psikologis dalam rumah tangga.

Awalnya mungkin hanya cicilan kecil. Lalu bertambah. Kemudian muncul tagihan lain. Setelah itu datang telepon penagih, notifikasi jatuh tempo, dan pertengkaran yang makin rutin.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah seperti kantor debt collector emosional.

Suami mulai mudah marah. Istri mulai kehilangan percaya. Anak-anak tumbuh di tengah ketegangan finansial yang tidak pernah selesai.

Banyak keluarga retak bukan karena tidak saling mencintai, tetapi karena terlalu lama hidup dalam tekanan ekonomi yang tak dikelola dengan sehat.

Lebih parah lagi, sebagian orang berutang demi memenuhi gengsi sosial, bukan kebutuhan mendesak. Akibatnya, utang tidak menyelesaikan masalah—justru memproduksi masalah baru dengan bunga tambahan.

BACA JUGA :  OJK Bongkar 951 Pinjol Ilegal dalam 5 Bulan, Modus Makin Kreatif: Nonton Drama China hingga Investasi Kripto Palsu

Nabi SAW Sudah Mengingatkan: Utang Bisa Menyeret pada Dusta dan Pengkhianatan

Islam sejak awal tidak memandang utang sebagai perkara ringan. Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW bahkan berulang kali memohon perlindungan kepada Allah dari lilitan utang.

Dalam hadits riwayat Aisyah binti Abu Bakar, Rasulullah SAW berdoa:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.”

Ketika ditanya mengapa begitu sering memohon perlindungan dari utang, Nabi menjawab:

“Karena seseorang apabila terlilit utang, dia akan berbicara lalu berdusta, dan berjanji lalu mengingkari.”

Pesan ini terasa sangat relevan di zaman sekarang. Sebab banyak orang akhirnya terpaksa berbohong demi bertahan dari tekanan utang.

Awalnya hanya berkata, “Besok saya transfer.”

Besoknya berubah jadi, “Masih proses.”

Lusa berganti, “HP saya error.”

Sampai akhirnya nomor kontak berubah lebih cepat daripada niat melunasi cicilan.

Kapitalisme Menjual Mimpi, Utang Menagih Realita

Para ulama menjelaskan istilah al-maghram dalam hadits tersebut sebagai lilitan utang yang menekan hidup seseorang. Bukan sekadar pinjaman biasa, tetapi utang yang menyeret pada kehinaan moral dan tekanan psikologis.

Dalam syarah Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengutip penjelasan Al-Muhallab bahwa Nabi SAW memohon perlindungan dari utang karena utang sering menjadi pintu menuju dusta dan ingkar janji.

Artinya, Islam memahami bahwa tekanan finansial bisa mengubah karakter manusia.

Orang baik bisa berubah temperamental.

Orang jujur bisa mulai mencari alasan.

Orang yang dulu romantis bisa mendadak lebih akrab dengan aplikasi pinjaman daripada pasangan sendiri.

Utang Tidak Haram, Tetapi Kebodohan Finansial Bisa Menghancurkan

Islam tidak melarang utang secara mutlak. Utang produktif untuk usaha, pendidikan, atau kebutuhan mendesak tetap diperbolehkan selama ada kesungguhan melunasi.

Bahkan dalam hadits riwayat Imam Ad-Darimi disebutkan:

“Allah bersama orang yang berutang sampai utangnya lunas, selama utang itu bukan untuk sesuatu yang dibenci Allah.”

Masalahnya, banyak orang kini berutang bukan untuk bertumbuh, melainkan demi mempertahankan citra.

Padahal citra sosial tidak pernah kenyang. Setelah satu barang terbeli, muncul standar baru lagi.

Akhirnya hidup berubah menjadi lomba cicilan tanpa garis finis.

Pernikahan Tidak Dibangun dengan Paylater

Al-Qur’an menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghaliza perjanjian yang kuat. Hubungan keluarga berdiri di atas kepercayaan, tanggung jawab, dan komitmen.

Namun ketika rumah tangga dipenuhi kebohongan finansial, fondasi itu perlahan rapuh.

Tagihan mungkin bisa ditunda. Tetapi luka karena pengkhianatan sering jauh lebih mahal biayanya.

Karena itu, keputusan berutang seharusnya tidak hanya dihitung dengan kalkulator ekonomi, tetapi juga dengan pertimbangan moral dan psikologis.

Sebab tidak sedikit rumah tangga runtuh bukan karena kurang cinta, melainkan karena terlalu banyak cicilan dan terlalu sedikit kejujuran.

Pada akhirnya, kapitalisme boleh terus menjual mimpi lewat diskon dan paylater. Tetapi keluarga tetap membutuhkan satu hal yang tak bisa dicicil: ketenangan.

***