Scroll untuk baca artikel
Budaya

Putri Keraton hingga “Bodybuilder Genteng” Bikin Cirebon Bergemuruh di Kirab Mahkota Binokasih

×

Putri Keraton hingga “Bodybuilder Genteng” Bikin Cirebon Bergemuruh di Kirab Mahkota Binokasih

Sebarkan artikel ini
KDM Tampil memukau diatas kuda putih pada Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napaktilas Padjadjaran di Kota Cirebon - foto doc

CIREBON – Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napaktilas Padjadjaran di Kota Cirebon bukan sekadar parade budaya biasa. Acara ini berubah menjadi panggung raksasa yang memadukan kemegahan sejarah, kecantikan putri keraton, kekuatan para buruh genteng berotot baja, hingga filosofi masa lalu dan masa depan ala Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Sejak iring-iringan dimulai dari Taman Pedati Gede menuju Alun-alun Keraton Kasepuhan, ribuan warga memadati jalur kirab. Mata penonton dimanjakan oleh penampilan putri-putri Keraton Kasepuhan dengan balutan busana tradisional elegan yang membawakan Tari Bedaya penuh kelembutan dan wibawa khas budaya Cirebon.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namun suasana langsung berubah ketika rombongan kesenian Binaraga Jebor Jatiwangi tampil. Jika biasanya pertunjukan budaya identik dengan gerakan gemulai, kali ini panggung juga diisi otot-otot “kelas pekerja”. Para pria bertubuh kekar yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik genteng tradisional tampil percaya diri layaknya atlet binaraga profesional.

BACA JUGA :  Melihat Ritual Thudong, 32 Biksu Jalan Kaki dari Thailand sampai Borobudur

Bedanya, mereka bukan mengangkat dumbbell mahal dari pusat kebugaran, melainkan tumpukan genteng asli produksi Jatiwangi. Sebuah pengingat satir bahwa di beberapa tempat, “gym terbaik” ternyata masih bernama kerja keras.

Atraksi khas Jatiwangi itu memang telah lama menjadi tradisi tahunan, terutama saat perayaan Hari Kemerdekaan RI. Namun di Kirab Mahkota Binokasih, penampilan mereka sukses mencuri perhatian publik dan menjadi simbol unik perpaduan budaya rakyat dan identitas industri lokal.

Puncak kirab ditandai dengan diaraknya Mahkota Binokasih—simbol historis peninggalan Padjadjaran—menuju Alun-alun Keraton Kasepuhan. Ribuan masyarakat tampak antusias menyaksikan jalannya prosesi yang dipenuhi pertunjukan seni budaya dari berbagai daerah.

BACA JUGA :  “Kirab Mahkota & Luka Sejarah: Tatar Sunda Dirayakan, Tapi Kita Masih Setengah Kenal Leluhur Sendiri”

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa kirab budaya bukan sekadar romantisme masa lalu atau “nostalgia berkostum kerajaan”.

Menurutnya, sejarah harus menjadi jembatan menuju masa depan.

“Banyak orang bicara masa depan tapi tidak mengerti sejarah. Ada juga yang terus bicara masa lalu tapi tidak mau membangun masa depan. Saya mengambil dua-duanya,” ujar Dedi.

Ia menyebut masa lalu adalah histori, filosofi, sekaligus ideologi yang tidak boleh diputus dari pembangunan masa depan. Sebab, menurutnya, tidak ada negara besar yang lahir tanpa keterikatan kuat dengan sejarah dan identitas budayanya sendiri.

Kirab budaya ini juga menjadi penegasan bahwa warisan Padjadjaran bukan sekadar cerita legenda atau dongeng turun-temurun. Dedi menyinggung keberadaan Prasasti Batu Tulis dan Mahkota Binokasih sebagai bukti historis yang masih terjaga hingga hari ini.

BACA JUGA :  Usai Baliho Jokowi Diprotes, Muncul Video "Anjing Menggonggong", Warga: Siapa yang Dimaksud?

Acara bertema Mahkota Bertahta Cinta itu terasa semakin spesial karena melibatkan berbagai kesenian lintas daerah, termasuk dari Jakarta, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes yang berbatasan langsung dengan Jawa Barat.

Dari Cirebon, rangkaian kirab budaya akan berlanjut ke Bandung. Dedi menyebut agenda berikutnya akan diisi kegiatan budaya hingga drama kolosal di Gedung Sate.

Kirab Mahkota Binokasih sendiri seolah menjadi pesan bahwa budaya bukan benda museum yang hanya dipajang dan dipotret. Budaya hidup ketika ditampilkan, dirayakan, dan dirasakan masyarakat.

Dan di Cirebon kali ini, budaya tampil lengkap: ada putri keraton yang anggun, pengawal kerajaan yang gagah, hingga “bodybuilder genteng” yang membuktikan bahwa identitas lokal bisa sama memukaunya dengan panggung modern mana pun.