Ia memberikan apresiasi kepada tokoh adat, masyarakat, pelajar, dan generasi muda yang ikut menyukseskan festival tersebut.
Menurut Ela, Pemkab Lampung Timur berkomitmen memberikan perhatian terhadap penguatan dan pengembangan desa-desa budaya.
“Kebudayaan bukan hanya sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi masa depan dan penggerak ekonomi kreatif masyarakat,” ujar Ela.
Pandangan tersebut membuka perspektif yang lebih luas.
Budaya bukan hanya soal tari, pakaian adat, musik, atau seremoni. Di belakangnya terdapat potensi pariwisata, kuliner, kerajinan, industri kreatif, jasa pertunjukan, hingga peluang ekonomi masyarakat.
Dengan kata lain, ketika budaya hidup, ekonomi di sekitarnya juga berpeluang ikut bergerak.
Festival Melinting dapat menjadi pintu masuk untuk membangun ekosistem tersebut.
Tetapi syaratnya jelas: jangan berhenti pada panggung dan seremoni.
Harus ada keberlanjutan, promosi, pembinaan sanggar, pelibatan sekolah, penguatan desa budaya, dokumentasi sejarah, hingga penciptaan ruang ekonomi bagi masyarakat adat.
Seribu Penari dan Pesan untuk Generasi Berikutnya
Pada akhirnya, kekuatan Festival Melinting 2026 bukan semata-mata terletak pada angka 1.000 penari.
Angka itu menjadi simbol bahwa estafet kebudayaan masih berjalan.
Anak-anak sekolah yang hari ini belajar Tari Melinting adalah mereka yang suatu hari akan menjadi guru, birokrat, pengusaha, seniman, tokoh masyarakat, bahkan pemimpin daerah.
Jika mereka memahami budaya sendiri sejak dini, maka adat tidak akan berhenti sebagai cerita yang hanya terdengar dari mulut para tetua.
Festival Melinting memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu tampil serius dan kaku.
Ia bisa meriah. Bisa menjadi tontonan. Bisa menarik wisatawan. Bisa menggerakkan ekonomi.
Bahkan bisa membuat seribu anak muda bergerak serempak ketika dunia digital sedang sibuk membuat mereka bergerak sendiri-sendiri di depan layar.
Tantangannya sekarang adalah memastikan kemeriahan itu tidak selesai ketika panggung dibongkar.
Festival Melinting harus tumbuh dari sekadar acara menjadi gerakan kebudayaan.
Dari agenda lokal menjadi ikon Lampung Timur.
Dari ikon daerah menjadi daya tarik nasional.
Dan dari warisan masa lalu menjadi kekuatan masa depan.
Sebab budaya yang benar-benar lestari bukanlah budaya yang paling sering dikenang, melainkan budaya yang masih dipraktikkan oleh generasi yang belum lahir ketika sejarahnya pertama kali dimulai.
Festival Melinting 2026 telah menyalakan api itu.
Tugas pemerintah, tokoh adat, masyarakat, sekolah, dan generasi muda adalah memastikan apinya tidak padam setelah lampu panggung dimatikan.***













