KOTA BEKASI — Tumpukan sampah liar di Jalan Cipendawa, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, kembali menuai keluhan warga. Sampah rumah tangga, ranting pohon, hingga limbah campuran terlihat menggunung di sisi jalan dan trotoar tanpa penanganan serius, membuat kawasan tersebut kian semrawut dan menyebarkan bau menyengat.
Ironisnya, sebagian tumpukan sampah tampak ditutupi menggunakan terpal. Namun “kamuflase” itu dinilai hanya menyelesaikan masalah secara visual, bukan substansi.
Sebab meski sampah tertutup dari pandangan sekilas, aroma busuknya tetap menyebar bebas ke udara seperti “pengumuman terbuka” bahwa persoalan lingkungan di lokasi tersebut belum benar-benar ditangani.
Pantauan di lokasi menunjukkan sampah menumpuk hingga memakan area trotoar. Akibatnya, hak pejalan kaki ikut terganggu karena akses pedestrian tertutup limbah dan karung sampah.
Kondisi itu membuat Jalan Cipendawa yang seharusnya menjadi jalur aktivitas warga justru terlihat seperti tempat pembuangan sementara dadakan.
Salah seorang warga, Ivan (43), mengaku resah karena persoalan tersebut sudah berlangsung cukup lama tanpa solusi nyata.
“Ini bukan baru beberapa hari, sudah lama begini. Sampahnya makin banyak dan kayak tidak ada tindakan,” ujarnya, Selasa (20/5/2026).
Menurut Ivan, menutupi sampah dengan terpal bukan jawaban atas persoalan yang sebenarnya.
“Kalau sekilas mah enggak kelihatan karena ditutup pakai terpal supaya tidak terlalu terlihat. Tapi baunya tetap menyebar ke mana-mana,” katanya.
Keluhan warga bukan hanya soal estetika lingkungan yang terlihat kumuh. Mereka juga khawatir tumpukan sampah tersebut memicu penyakit, terutama saat cuaca panas dan hujan datang bergantian.
“Kalau terus dibiarkan bisa jadi sumber penyakit juga. Apalagi ini di pinggir jalan yang tiap hari dilewati banyak orang dan menutup akses pejalan kaki karena ada di trotoar,” ujarnya.
Situasi ini kembali memperlihatkan persoalan klasik perkotaan: sampah sering kali baru dianggap masalah serius ketika sudah viral, menumpuk tinggi, atau baunya lebih cepat datang daripada petugas kebersihan.
Padahal Jalan Cipendawa merupakan salah satu jalur padat aktivitas warga di wilayah Rawalumbu. Namun di beberapa titik, wajah kota justru dipenuhi tumpukan sampah yang seolah menjadi “ornamen permanen”.
Warga menilai pembiaran berkepanjangan bisa memicu munculnya titik-titik pembuangan liar baru jika tidak segera ditindak tegas.
Sebab ketika satu tumpukan dibiarkan, biasanya akan muncul “partisipasi publik” berupa tambahan kantong sampah baru dari orang-orang yang merasa lokasi itu sudah resmi menjadi TPS.
Ivan berharap Pemerintah Kota Bekasi dan dinas terkait turun tangan lebih serius menangani persoalan sampah liar, khususnya di sepanjang Jalan Cipendawa.
“Harapannya ada perhatian serius dari pemerintah. Jangan sampai dibiarkan terus karena makin lama makin parah,” pungkasnya.***













