Scroll untuk baca artikel
Nasional

Gangguan Pembangkit Jadi Pemicu Listrik Padam Bergilir di Jawa, Pelaku Usaha Keluhkan Omzet Turun dan Pelanggan Kabur

×

Gangguan Pembangkit Jadi Pemicu Listrik Padam Bergilir di Jawa, Pelaku Usaha Keluhkan Omzet Turun dan Pelanggan Kabur

Sebarkan artikel ini
Pengusaha kafe merugi akibat pemadaman listrik di Kota Bekasi - foto dok

KOTA BEKASI – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah di Pulau Jawa dalam beberapa hari terakhir memicu keluhan dari masyarakat dan pelaku usaha. Di Kota Bekasi, wilayah Rawalumbu menjadi salah satu daerah yang terdampak, membuat aktivitas warga dan bisnis terganggu.

Sejumlah pengelola kafe mengaku merugi akibat listrik yang kerap padam tanpa kepastian waktu. Selain mengganggu operasional, kondisi tersebut membuat pelanggan memilih meninggalkan lokasi karena fasilitas seperti pendingin ruangan, jaringan internet hingga sistem pembayaran digital tidak dapat digunakan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Lampu mati, WiFi mati, mesin kasir mati. Yang hidup cuma keluhan pelanggan,” ujar salah seorang pengelola kafe di Rawalumbu.

Di tengah keluhan masyarakat, PT PLN (Persero) menyampaikan permohonan maaf atas gangguan pasokan listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa.

BACA JUGA :  LSK Tata Boga Gembleng Juru Masak MBG, Benteng Mutu Gizi Nasional

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan pihaknya memahami kesulitan yang dialami masyarakat dan memastikan proses pemulihan sistem ketenagalistrikan terus dilakukan.

“Kami memahami kesulitan yang dialami masyarakat dan menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan ini,” kata Darmawan dalam konferensi pers Update Sistem Ketenagalistrikan,sebagaimana dikutip Wawai News, pada Sabtu (20/6/2026).

Menurut Darmawan, salah satu penyebab terjadinya pemadaman bergilir adalah gangguan teknis pada dua pembangkit listrik besar di Pulau Jawa yang dimiliki dan dioperasikan oleh mitra PLN.

Akibat gangguan tersebut, kedua pembangkit terpaksa keluar dari sistem kelistrikan Jawa sehingga memengaruhi pasokan listrik di sejumlah daerah.

PLN bersama mitra saat ini mengerahkan tim teknis untuk mempercepat perbaikan agar pembangkit dapat kembali beroperasi dan memasok kebutuhan listrik masyarakat.

BACA JUGA :  Pembongkaran Pagar Laut Misterius di Tangerang, Ribuan Personel Gabungan Dikerahkan

“Tim PLN dan mitra terus bekerja agar perbaikan bisa berjalan cepat sehingga pasokan listrik kembali normal,” ujar Darmawan.

Selain gangguan teknis, PLN juga menyinggung soal pasokan batu bara sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Menurut Darmawan, PLN telah mendapatkan dukungan pemerintah dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait penyediaan medium rank coal atau batu bara dengan tingkat kalori menengah untuk memastikan operasional pembangkit berjalan lancar.

PLN juga mengapresiasi para produsen batu bara yang mendapat penugasan dari pemerintah untuk memasok kebutuhan PLTU milik PLN maupun mitra swasta.

Pasokan tersebut akan didistribusikan ke sejumlah PLTU di Pulau Jawa, di antaranya PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Lontar, PLTU Labuan, PLTU Suralaya, PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9 dan 10, PLTU Indramayu, PLTU Rembang, PLTU Pacitan hingga PLTU Tanjung Awar-Awar.

BACA JUGA :  PGI Diingatkan Tak Diperalat dalam Konflik Pekerja di KPK

Sementara itu, para pelaku usaha di Bekasi berharap PLN tidak hanya menyampaikan permohonan maaf, tetapi juga memberikan kepastian terkait jadwal pemadaman dan percepatan pemulihan.

Pasalnya, bagi pelaku usaha, padamnya listrik bukan sekadar lampu yang mati, melainkan juga berdampak pada omzet, pelayanan hingga kepercayaan pelanggan.

“Kalau listrik padam sebentar mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau berulang dan tanpa informasi yang jelas, usaha kecil yang pertama merasakan dampaknya,” kata seorang pemilik kafe.

Pemadaman bergilir ini pun menjadi pengingat bahwa di era digital, listrik bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan urat nadi aktivitas masyarakat dan perekonomian.

Sebab ketika listrik padam, bukan hanya lampu yang gelap, tetapi juga aktivitas usaha, produktivitas, dan kesabaran masyarakat ikut diuji.***