KOTA BEKASI – Di tengah derasnya arus informasi yang kerap lebih cepat menghakimi daripada mencari fakta, Unity School yang berlokasi di Komplek Grand Galaxy City, Bekasi, secara resmi menggelar deklarasi “Unity School Safe School Movement 2026” pada Jumat (7/8/2026).
Unity School .memilih menjawab dengan tindakan. Bukan melalui perang narasi, melainkan lewat komitmen nyata membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak. Gerakan ini menjadi penegasan bahwa sekolah bukan sekadar tempat mengejar nilai akademik, melainkan rumah kedua bagi peserta didik untuk tumbuh dengan rasa aman, dihargai, dan dilindungi.
Di era media sosial, sebuah kabar bisa berlari lebih cepat daripada klarifikasi. Sayangnya, tak semua informasi yang beredar selalu utuh. Ada kalanya opini lebih nyaring dibanding fakta. Karena itulah, Unity School memilih menjadikan deklarasi ini sebagai jawaban bahwa kepercayaan dibangun bukan lewat perdebatan, melainkan melalui transparansi dan kerja nyata.
Perwakilan Unity School, Dewi Uliana Sitohang atau yang akrab disapa Miss Uli, mengatakan budaya sekolah yang aman hanya dapat terwujud apabila seluruh unsur pendidikan berjalan bersama.
“Kami menyadari bahwa setiap suara dan setiap masukan dari orang tua, peserta didik, guru, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam membangun sekolah yang semakin baik. Budaya sekolah yang aman dibangun melalui kolaborasi yang kuat antara sekolah, orang tua, peserta didik, dan masyarakat,” ujar Miss Uli.
Menurut Miss Uli, keselamatan dan kenyamanan peserta didik merupakan prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Seluruh laporan maupun pengaduan yang diterima sekolah akan ditangani secara profesional, objektif, serta sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Lebih dari itu, setiap kritik dan masukan dari masyarakat akan menjadi bahan evaluasi untuk terus memperbaiki kualitas pelayanan pendidikan.
Baginya, sekolah yang baik bukanlah sekolah yang tidak pernah menerima kritik, melainkan sekolah yang mau mendengar, memperbaiki, dan terus bertumbuh.
Dalam kesempatan tersebut, Miss Uli juga menjawab berbagai pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat terkait legalitas lembaga pendidikan yang menaungi Unity School.
Ia menegaskan bahwa yayasan penyelenggara memiliki izin yang sah sehingga orang tua tidak perlu khawatir terhadap aspek legalitas sekolah.
Pernyataan tersebut sekaligus merespons beredarnya berbagai narasi yang dinilai menimbulkan keresahan di kalangan wali murid.
Menurutnya, pihak yayasan berkomitmen menyelesaikan seluruh persoalan yang ada secara bertanggung jawab dan sesuai mekanisme yang berlaku.
“Kami berharap seluruh orang tua terus mengawal proses ini bersama-sama. Fokus utama kita tetap sama, yaitu memastikan anak-anak memperoleh pendidikan yang terbaik dalam suasana belajar yang aman dan kondusif,” katanya.
Miss Uli juga menegaskan bahwa kualitas pendidikan Unity School telah dibuktikan melalui capaian akreditasi.
“Soal izin Unity School sudah sangat jelas. Tentunya tidak mudah menutup sekolah dengan akreditasi A dan nilai 97 yang mendekati sempurna,” tegasnya.
Di zaman digital, kadang kabar burung memiliki sayap lebih lebar daripada fakta. Satu unggahan bisa berkelana ke mana-mana, sementara klarifikasi masih sibuk memakai sepatu.
Padahal dalam dunia pendidikan, yang seharusnya tumbuh bukan prasangka, melainkan karakter. Yang perlu dipupuk bukan kegaduhan, tetapi kepercayaan.
Karena sekolah bukan panggung drama. Sekolah adalah tempat anak-anak belajar menjadi manusia yang berakhlak, berilmu, dan beradab.
Sebagai implementasi komitmen tersebut, Unity School memperkuat berbagai program perlindungan anak.
Program itu meliputi penguatan pendidikan karakter, peningkatan pengawasan guru, optimalisasi Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), pemanfaatan sistem CCTV sebagai sarana perlindungan sekaligus klarifikasi apabila terjadi persoalan, pembentukan Duta Anti-Bullying, hingga membangun komunikasi terbuka bersama orang tua dan seluruh warga sekolah.
Deklarasi ini juga mengajak seluruh warga sekolah menerapkan nilai Respect, Protect, and Care—menghormati, melindungi, dan saling peduli sebagai budaya yang harus hidup dalam keseharian.
Deklarasi Unity School Safe School Movement 2026 menjadi momentum memperkuat sinergi seluruh elemen pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri berbagai pemangku kepentingan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan perlindungan anak di lingkungan pendidikan.***













