Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi
WawaiNEWS.ID – Di tengah memanasnya rivalitas global antara Amerika Serikat, China, Rusia, hingga Uni Eropa, kritik terhadap politik luar negeri bebas aktif Indonesia kembali bermunculan. Ada yang menuduh pemerintah terlalu lunak, tidak tegas, bahkan dianggap “tak punya keberpihakan”.
Padahal tudingan semacam itu kerap lahir dari cara pandang dangkal: mengira bebas aktif hanyalah sikap netral, diam, atau takut memilih kubu. Ini keliru sejak dari definisi paling dasar.
Politik luar negeri bebas aktif bukan sikap pasif. Bukan pula seni cuci tangan diplomatik. Ia adalah instrumen strategis negara untuk mencapai tujuan nasional: melindungi segenap bangsa Indonesia dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi serta keadilan sosial, sebagaimana ditegaskan dalam alinea keempat UUD 1945.
Artinya jelas: ukuran kebijakan luar negeri Indonesia bukan tepuk tangan blok tertentu, bukan pujian media asing, dan bukan kepuasan kaum pengamat televisi. Ukurannya adalah apakah rakyat terlindungi, ekonomi tumbuh, kedaulatan terjaga, dan posisi Indonesia di dunia menguat.
Warisan Hatta yang Masih Menang Hingga Hari Ini
Secara historis, prinsip bebas aktif berakar dari pemikiran Mohammad Hatta pada 1948 lewat konsep legendaris: “mendayung di antara dua karang.” Saat dunia terbelah dalam Perang Dingin, Hatta sadar satu hal penting: negara baru merdeka seperti Indonesia tak boleh menjadi pion kekuatan besar.
Bahasa modernnya, ini disebut strategi non-alignment yang dipadukan dengan active engagement. Tidak tunduk pada blok mana pun, tetapi tetap aktif memengaruhi arah dunia.
Dan sejarah membuktikan, jalan inilah yang membuat Indonesia bertahan.
Dari Soekarno ke Soeharto: Bentuk Berubah, Tujuan Tetap
Di era Soekarno, bebas aktif tampil ideologis dan revolusioner. Puncaknya adalah Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, yang dihadiri 29 negara dan mewakili lebih dari separuh populasi dunia saat itu. Indonesia menjadi pusat solidaritas Global South melawan kolonialisme.
Di era Soeharto, pendekatannya lebih pragmatis dan ekonomis. Indonesia menjadi pendiri ASEAN—yang kini berkembang menjadi kawasan dengan PDB lebih dari USD 3,6 triliun, salah satu wilayah paling stabil di negara berkembang.
Soeharto juga ikut mengarusutamakan kembali Gerakan Non-Blok sebagai kanal penting negara-negara berkembang.
Pesannya sama: gaya boleh berbeda, tapi inti bebas aktif tetap hidup jangan jadi satelit siapa pun, manfaatkan semua hubungan untuk kepentingan nasional.
Mengapa Bebas Aktif Menguntungkan Rakyat?
Manfaat nyata politik bebas aktif sering diabaikan para pengkritik musiman.
1. Menjaga Indonesia dari Konflik Kekuatan Besar
Saat banyak negara berkembang menjadi arena perang proksi pada masa Perang Dingin, Indonesia relatif mampu menghindari kehancuran model Vietnam, Afghanistan, atau berbagai konflik berdarah lain.
2. Membuka Banyak Keran Ekonomi
Hari ini perdagangan Indonesia dengan China melampaui USD 130 miliar per tahun. Pada saat yang sama, hubungan dengan Amerika Serikat tetap penting dalam investasi, pasar ekspor, dan teknologi.
Ini dalam teori internasional disebut hedging strategy: menyebar risiko agar tidak tergantung pada satu kekuatan saja.
3. Menaikkan Pengaruh Indonesia di Dunia
Indonesia aktif dalam misi perdamaian PBB dengan lebih dari 2.700 personel penjaga perdamaian. Ini menunjukkan peran sebagai middle power negara menengah yang berpengaruh melalui stabilitas, diplomasi, dan kerja sama, bukan agresi militer.
Kritik Sah, Tapi Harus Lulus Dua Ujian
Tentu kebijakan luar negeri pemerintah boleh dikritik. Bahkan harus. Namun kritik yang serius wajib lulus dua pertanyaan mendasar:
Pertama:
Apakah kritik itu memperkuat perlindungan terhadap rakyat Indonesia?
Termasuk keamanan nasional, lapangan kerja, harga pangan, investasi, dan kesejahteraan publik.
Kedua:
Apakah kritik itu memperbesar peran Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia?
Jika tidak menjawab dua hal itu, maka kritik tersebut sering kali hanya kosmetik intelektual: terdengar keren, miskin manfaat.
Banyak kritik lahir bukan dari cinta bangsa, melainkan dorongan tampil paling moral, paling tegas, paling ideologis—padahal nihil solusi.
Bebas Aktif Justru Semakin Penting di Era Multipolar
Dunia hari ini tak lagi unipolar. Amerika Serikat tak sendirian. China bangkit. Rusia agresif. Uni Eropa bergerak dengan kepentingannya sendiri. Timur Tengah terus bergejolak.
Dalam situasi seperti ini, negara yang gegabah memilih blok berisiko menjadi korban tarik-menarik geopolitik.
Karena itu, bebas aktif bukan warisan museum. Ia adalah strategi paling rasional untuk abad ke-21: fleksibel, mandiri, adaptif, dan menguntungkan.
Penutup: Jangan Paksa Indonesia Jadi Jongos Blok Mana Pun
Mereka yang ingin Indonesia tunduk ke satu kutub global sesungguhnya sedang menawarkan jalan ketergantungan baru. Politik bebas aktif menolak itu.
Indonesia tidak dibangun untuk menjadi jongos Washington, satelit Beijing, kaki tangan Moskow, atau pasar pasif siapa pun.
Indonesia harus berdiri di atas kepentingannya sendiri.
Dan selama dunia masih dipenuhi persaingan kuasa, politik bebas aktif bukan hanya relevan ia adalah benteng kedaulatan bangsa.
Jakarta, ARS
Eksponen Aktivis 98 | Esais & Penulis Independen
Menulis isu sosial-politik, hukum, kebijakan publik, dan peradaban.***









