Scroll untuk baca artikel
Budaya

Mahkota Binokasih Diarak, Dedi Mulyadi Siapkan “Kebangkitan Sunda” dari Bogor

×

Mahkota Binokasih Diarak, Dedi Mulyadi Siapkan “Kebangkitan Sunda” dari Bogor

Sebarkan artikel ini
Foto: Mahkota Binokasih justru “turun gunung” dan memulai tur keliling Jawa Barat lewat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran lengkap dengan nuansa sakral, sejarah, dan sedikit sentuhan gaya “roadshow budaya”

BOGOR – Ribuan warga memadati ruas Jalan Batutulis hingga Lawang Suryakencana, Kota Bogor, Jumat malam (8/5/2026), saat Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda digelar meriah dengan membawa simbol kejayaan budaya Sunda, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.

Namun kirab budaya kali ini bukan sekadar parade seni tradisi. Di balik gemerlap arak-arakan budaya dari berbagai daerah di Jawa Barat, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa momentum tersebut menjadi awal kebangkitan identitas budaya Sunda di ruang publik modern.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kirab bertema “Nitis Wanci Batu Tulis” itu dimulai dari Museum Pajajaran di kawasan Batutulis menuju Lawang Suryakencana. Ribuan masyarakat tumpah ruah menyaksikan parade budaya yang menghadirkan seni tradisional dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, ditambah peserta dari Banten, Jakarta hingga Jawa Tengah.

BACA JUGA :  Sabdo Palon–Noyo Genggong: Mitos Budaya atau Narasi Pecah Belah?

Di tengah antusiasme warga, Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM mengungkapkan rencana besar Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memperkuat fasilitas seni dan budaya di Kota Bogor.

Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah revitalisasi Museum Pajajaran dengan nilai anggaran mencapai Rp9 miliar. Tak hanya itu, kawasan jalur kirab juga akan ditata ulang mulai dari jalan, trotoar, taman hingga pencahayaan kota.

“Penataan jalan, trotoar, lampu serta tamannya akan dilakukan agar kawasan budaya ini menjadi ruang publik yang hidup dan berkarakter Sunda,” ujar KDM.

Kawasan tersebut nantinya direncanakan bernama Palataran Binokasih, sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah dan kebudayaan Sunda yang pernah berjaya di tanah Pajajaran.

Kehadiran Mahkota Binokasih Sanghyang Pake menjadi pusat perhatian masyarakat. Mahkota yang selama ini tersimpan di Kerajaan Sumedang Larang itu diarak sebagai simbol persatuan, kebesaran, dan kesinambungan sejarah Sunda.

BACA JUGA :  LKF 2019, Harus Lebih Berkesan

Bagi masyarakat Sunda, Mahkota Binokasih bukan sekadar benda pusaka, tetapi lambang legitimasi, kehormatan, dan peradaban yang diwariskan lintas generasi.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyebut kirab budaya tersebut sebagai momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Sunda di tengah kehidupan masyarakat modern.

“Ini bukan hanya seremonial. Ini adalah upaya menghargai warisan leluhur sekaligus menyampaikan pesan budaya kepada generasi muda,” katanya.

Menurut Dedie, rencana penataan kawasan budaya oleh Pemprov Jawa Barat akan menjadi langkah strategis memperkuat identitas Kota Bogor sebagai salah satu simpul penting sejarah Sunda.

Kirab Milangkala Tatar Sunda juga memperlihatkan wajah baru budaya Sunda yang tidak lagi hanya tampil sebagai simbol nostalgia, melainkan mulai ditempatkan sebagai identitas sosial dan ruang publik masyarakat.

BACA JUGA :  Lokasi Situs Peradaban di Taman Purbakala Pugung Raharjo Lenggang

Di sepanjang jalur kirab, masyarakat terlihat antusias menyaksikan berbagai pertunjukan seni tradisi, mulai dari kesenian khas kampung adat, musik tradisional, hingga parade budaya lintas daerah.

Atmosfer malam Bogor pun berubah menjadi lautan budaya Sunda. Anak-anak, orang tua hingga wisatawan tampak memenuhi sisi jalan sambil mengabadikan momen kirab yang berlangsung semarak.

Langkah yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa budaya lokal tidak boleh kalah oleh modernisasi. Sebaliknya, budaya harus menjadi fondasi pembangunan daerah sekaligus identitas masyarakat.

Dengan diaraknya Mahkota Binokasih di Kota Bogor, pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: budaya Sunda bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi energi masa depan Jawa Barat.***