Scroll untuk baca artikel
Info WawaiPersona

Diremehkan karena Miskin, Kini Pimpin Partai: “Bocah Ledok” Mengubah Luka Menjadi Kekuatan

×

Diremehkan karena Miskin, Kini Pimpin Partai: “Bocah Ledok” Mengubah Luka Menjadi Kekuatan

Sebarkan artikel ini
RIzki Topananda (kiri) Ketua PKB Kota Bekasi yang dulu kerap disebut sebagai Bocah Ledok (bahasa Betawi) dan R Nur Alam penulis Buku Bocah Ledok saat peluncuran buku, Sabtu (16/5)- foto doc

WAWAINEWS.ID – Di tengah derasnya buku-buku motivasi yang kerap terdengar normatif dan penuh teori, Bocah Ledok hadir dengan cara berbeda. Buku ini tidak menjual mimpi instan, melainkan menyajikan kenyataan hidup yang keras, getir, sekaligus manusiawi dari perjalanan seorang anak kampung bernama Ujang nama kecil dari Rizki Topananda.

Ditulis oleh R Nur Alam, buku ini menjadi refleksi sosial tentang bagaimana kemiskinan kerap melahirkan penghinaan, namun di tangan orang yang tepat, luka justru berubah menjadi tenaga untuk bangkit.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sejak halaman-halaman awal, pembaca langsung diajak masuk ke kehidupan seorang bocah kecil yang tumbuh dalam serba keterbatasan. Tidak ada kemewahan, tidak ada privilese. Bahkan untuk makan layak pun menjadi kemewahan tersendiri.

Salah satu fragmen paling menyentuh dalam buku ini adalah ketika “nasi berkah” menjadi makanan istimewa bagi Rizki kecil. Sebuah kisah sederhana, tetapi memukul kesadaran pembaca bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan pengalaman batin yang nyata.

Namun penderitaan Rizki tidak berhenti pada soal ekonomi. Ia juga harus menghadapi pengucilan sosial sejak kecil. Karena belum bisa masuk sekolah akibat keterbatasan biaya pada era 1990-an, Rizki kecil menjadi bahan olok-olok lingkungan sekitar.

BACA JUGA :  20 Tahun Kabel Listrik di Dua Dusun Desa Sadar Sriwijaya Disangga Bambu

Anak-anak seusianya mencibir, sementara sebagian emak-emak bahkan melarang anak mereka bermain dengannya karena dianggap “anak bodoh” lantaran belum sekolah. Di titik inilah Bocah Ledok menemukan ruhnya.

Alih-alih tumbuh menjadi anak penuh dendam, Rizki justru memegang erat pesan ibunya: jangan membalas cacian dengan kebencian. Pesan sederhana itu menjadi fondasi karakter yang kelak membentuk dirinya.

Buku ini menggambarkan dengan kuat bagaimana hinaan justru menjadi bahan bakar perjuangan. Saat anak-anak lain tertidur, Rizki kecil memilih belajar sendiri hingga dini hari. Ia meminjam buku milik kakaknya, belajar membaca dan berhitung secara otodidak.

Ironis sekaligus mengharukan, sebelum resmi menjadi murid sekolah dasar, ia justru sudah mampu membaca lancar sementara banyak teman sekelasnya masih belajar calistung.

Narasi ini membuat Bocah Ledok terasa sangat hidup. Pembaca tidak sekadar membaca kisah sukses, tetapi ikut merasakan dinginnya malam, tekanan batin, hingga kerasnya stigma sosial yang menghantam seorang anak kecil.

BACA JUGA :  DBMSDA Kota Bekasi Pastikan Pembangunan Polder di VIP 2 Diatas sertifikat Hak Pakai Pemerintah

Momentum emosional lain hadir ketika Rizki memaksa ibunya agar bisa bersekolah. Lagi-lagi biaya menjadi tembok besar. Hingga akhirnya seorang guru melihat potensinya dan bersedia menjadi penjamin agar ia bisa mengenyam pendidikan. Dari sana, perlahan hidupnya berubah.

Rizki tumbuh menjadi siswa favorit. Banyak teman ingin belajar darinya, tetapi ada satu syarat unik yang ia ajukan: dipinjami buku. Sebuah detail kecil yang memperlihatkan betapa mahalnya ilmu bagi orang yang hidup dalam kekurangan.

Yang menarik, buku ini tidak berhenti pada romantisme kemiskinan. Penulis berhasil menunjukkan bagaimana karakter kepemimpinan Rizki mulai terbentuk sejak muda. Dari menghidupkan organisasi, menapaki dunia sosial, hingga akhirnya dipercaya masuk ke lingkungan BAZNAS dan mendampingi Hanif Dhakiri pada era pemerintahan Joko Widodo.

Puncak transformasi itu terlihat ketika Rizki Topananda dipercaya memimpin PKB Kota Bekasi sebagai ketua DPC di usia muda.

Tantangannya tidak ringan. Ia mengambil alih partai dengan hanya satu kursi parlemen, lalu berhasil mendongkraknya menjadi lima kursi pada Pileg 2024 sebuah lompatan politik yang tidak bisa dianggap biasa.

Kini, Rizki Topananda menjabat sebagai Sekretaris Komisi I DPRD Kota Bekasi periode 2024–2029. Namun yang membuat kisahnya layak dibaca bukan semata jabatan politiknya, melainkan bagaimana ia sampai ke titik itu.

BACA JUGA :  Dianggap tabu, ini 6 manfaat masturbasi bagi kesehatan

Bocah Ledok adalah tamparan halus bagi masyarakat yang gemar meremehkan seseorang dari latar belakang ekonomi. Buku ini menunjukkan bahwa anak yang pernah dianggap bodoh dan dijauhi lingkungan, justru mampu melampaui batas yang dipasang orang-orang di sekitarnya.

Lebih dari sekadar biografi, buku ini adalah refleksi tentang ibu, kemiskinan, pendidikan, penghinaan sosial, dan daya tahan manusia. Humanis, emosional, tetapi tetap membumi.

Di tengah zaman ketika banyak orang ingin hasil instan, Bocah Ledok mengingatkan bahwa perjuangan besar sering lahir dari lorong-lorong sempit kehidupan yang nyaris tak dilihat siapa pun.

Peluncuran buku “Bocah Ledok” digelar sederhana di di Aula Pondok Pesantren Daruttaubah, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Sabtu (16/5/2026). Tempat tersebut menjadi kenangan tersendiri bagi Ujang, sapaan Sekretaris Komisi I dimana tempat tersebut menyimpan ribuan kenangan dan telah memberikan banyak bekal dari ilmu politik hingga agama.***