WawaiNEWS.ID – Suasana haru menyelimuti Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) saat ratusan wisudawan berjalan menuju panggung pada Kamis (11/6/2026). Namun di antara deretan toga yang memenuhi ruangan, ada satu kisah yang membuat banyak orang terdiam.
Namanya Dr. Agung Sulistyo, S.E., M.M., CHE.
Hari itu ia resmi menyandang gelar doktor. Sebuah capaian akademik yang mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, tetapi menjadi luar biasa ketika mengetahui dari mana perjalanan itu dimulai.
Belasan tahun lalu, Agung bukan seorang dosen, peneliti, atau akademisi. Ia adalah seorang satpam yang berjaga malam di sebuah pos keamanan.
Saat banyak orang terlelap, ia justru membuka buku kuliah.
Saat sebagian orang mengeluhkan tugas kampus yang menumpuk, ia harus menyelesaikannya sambil mengenakan seragam keamanan dan memastikan lingkungan kerjanya tetap aman hingga pagi.
“Sebagai satpam, saya tidak pernah membayangkan bisa sampai di titik ini,” kata Agung usai prosesi wisuda.
Anak Buruh yang Tidak Dilahirkan dengan Jalan Mulus
Agung lahir dan tumbuh di Tangerang dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya bekerja sebagai buruh. Kehidupan yang dijalaninya jauh dari kemewahan.
Setelah lulus STM jurusan Teknik Gambar Bangunan pada 2002, ia sempat mencoba mengikuti seleksi TNI dan Polri sesuai harapan sang ayah.
Namun hidup ternyata memiliki skenario berbeda.
Pintu yang ia ketuk tidak terbuka. Tetapi belakangan ia menyadari, terkadang penolakan bukan akhir perjalanan, melainkan petunjuk bahwa ada jalan lain yang sedang menunggu.
Pada 2005 ia berangkat ke Yogyakarta sebagai relawan. Tiga tahun kemudian, ia diterima bekerja sebagai tenaga keamanan di Harian Kedaulatan Rakyat.
Saat itu, masa depannya masih tampak biasa-biasa saja.
Tidak ada yang menyangka bahwa satpam muda tersebut suatu hari akan berdiri di panggung wisuda doktor.
Termasuk dirinya sendiri.
Kuliah dengan Gaji Satpam, Bayar Semester Dicicil Sedikit Demi Sedikit
Tahun 2009 menjadi titik penting.
Tujuh tahun setelah lulus STM, Agung memberanikan diri mendaftar kuliah kelas karyawan di sebuah sekolah tinggi ilmu ekonomi di Yogyakarta.
Keputusan itu bukan perkara mudah.
Gaji pas-pasan, jam kerja panjang, dan biaya kuliah yang tidak murah menjadi tantangan nyata.
Namun Agung memiliki keyakinan sederhana: pendidikan adalah investasi yang tidak akan pernah merugikan.
Setiap bulan ia menyisihkan sebagian gajinya untuk membayar biaya kuliah secara bertahap.
Tidak ada sponsor besar.
Tidak ada warisan miliaran.
Yang ada hanya tekad, kesabaran, dan kemampuan mengencangkan ikat pinggang lebih kuat dari rata-rata manusia.
“Tantangan terbesar waktu itu membagi waktu antara kerja, kuliah, dan mengerjakan tugas. Setelah kuliah saya langsung masuk kerja. Kalau jaga malam, tugas saya kerjakan di pos satpam sampai pagi,” kenangnya.
Pos satpam yang biasanya identik dengan buku tamu, senter, dan monitor CCTV berubah menjadi ruang belajar darurat.
Jika ada istilah kampus merdeka, mungkin saat itu Agung sedang menjalani versi lain: kampus di pos jaga.
Dari Satpam Menjadi Sarjana, Lalu Magister
Perjuangan panjang itu membuahkan hasil.
Pada 2013 ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana.
Banyak orang mungkin akan berhenti sampai di situ.
Tetapi Agung memilih melanjutkan perjalanan.
Dua tahun kemudian ia meraih gelar magister.
Semakin tinggi pendidikan yang diraih, semakin kuat keyakinannya bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah vonis seumur hidup.
Istri yang Mengubah Jalan Hidupnya
Jika ada satu sosok yang berperan besar dalam transformasi hidup Agung, maka orang itu adalah istrinya.
Setelah menikah pada 2014, cara pandangnya terhadap masa depan mulai berubah.
Sang istri terus mendorongnya untuk berpikir lebih jauh.
Bahkan profesi dosen yang sebelumnya terasa mustahil mulai terlihat mungkin.
“Saya tidak pernah membayangkan menjadi pengajar. Tapi istri saya terus membuka cara pandang baru tentang masa depan,” ujarnya.
Dorongan itu akhirnya berbuah nyata.
Pada 2015, Agung diterima menjadi dosen di sebuah sekolah tinggi pariwisata di Yogyakarta.
Dari menjaga keamanan gedung, kini ia berdiri di depan kelas membimbing mahasiswa.
Perubahan yang mungkin terdengar seperti alur film, tetapi benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.
Gelar Doktor dan Doa yang Dijaga Bertahun-Tahun
Sebagai dosen, Agung sadar bahwa belajar tidak boleh berhenti.
Ia kemudian memilih melanjutkan studi doktoral di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Perjalanan doktor tentu tidak mudah.
Pekerjaan, keluarga, penelitian, publikasi ilmiah, hingga penyusunan disertasi harus berjalan beriringan.
Namun pengalaman hidup yang telah menempanya sejak muda membuat setiap tantangan terasa lebih ringan untuk dihadapi.
Di balik semua perjuangan itu, ada satu doa yang selalu ia panjatkan sejak masih menjadi satpam.
Ia meminta kepada Allah agar diangkat derajatnya melalui ilmu pengetahuan.
Hari ini doa tersebut terjawab.
Bukan dengan jalan instan.
Bukan pula dengan keberuntungan semata.
Melainkan melalui ribuan malam panjang yang dijalani dengan sabar dan konsisten.
Mimpi Besar Tidak Pernah Meminta Latar Belakang
Kini Agung resmi menyandang gelar doktor dan melanjutkan pengabdiannya sebagai dosen melalui pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Namun baginya, gelar bukanlah garis akhir.
Yang lebih penting adalah pesan yang bisa diwariskan kepada generasi muda.
Bahwa mimpi tidak pernah menanyakan siapa orang tua kita.
Mimpi juga tidak peduli berapa saldo rekening kita.
Mimpi hanya menunggu siapa yang cukup berani untuk mengejarnya.
“Saya selalu bilang kepada mahasiswa, jangan takut bermimpi tinggi. Kalau pun jatuh, kita tidak akan jatuh terlalu jauh dari apa yang kita impikan,” katanya.
Di tengah era ketika banyak orang ingin sukses secara instan, kisah Agung menjadi pengingat bahwa tidak semua keberhasilan lahir dari jalan tol.
Sebagian justru lahir dari jalan sempit, gelap, dan panjang yang harus dilalui sedikit demi sedikit.
Dari pos satpam sederhana di Yogyakarta hingga panggung wisuda doktor UMY, Agung Sulistyo telah membuktikan satu hal:
Nasib boleh berawal dari keterbatasan, tetapi masa depan selalu memberi ruang bagi mereka yang tidak berhenti melangkah.***
Sumber: https://lldikti5.kemdiktisaintek.go.id/







