Scroll untuk baca artikel
Lingkungan Hidup

Lumba-Lumba Dilindungi Ditemukan Mati Mengapung di Kutai, Duka yang Menjadi Alarm bagi Laut Indonesia

×

Lumba-Lumba Dilindungi Ditemukan Mati Mengapung di Kutai, Duka yang Menjadi Alarm bagi Laut Indonesia

Sebarkan artikel ini
Seekor lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (Tursiops aduncus) ditemukan mengapung dalam kondisi sudah membusuk di perairan sekitar hilir Jembatan Kutai Kartanegara.- foto dok

KUTAI KARTANEGARA – Di tengah tenangnya aliran sungai di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, warga Desa Rempanga menemukan pemandangan yang mengundang rasa iba. Seekor lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (Tursiops aduncus) ditemukan mengapung dalam kondisi sudah membusuk di perairan sekitar hilir Jembatan Kutai Kartanegara.

Satwa laut yang selama ini dikenal sebagai simbol kecerdasan dan kesehatan ekosistem itu tak lagi berenang lincah. Tubuhnya sepanjang sekitar 223 sentimeter ditemukan tak bernyawa, menjadi pengingat bahwa ekosistem laut dan sungai Indonesia masih menghadapi berbagai ancaman yang belum sepenuhnya terjawab.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Laporan pertama diterima Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak dari masyarakat Desa Rempanga pada Sabtu (18/7). Tanpa menunggu lama, petugas bersama pemerintah desa dan warga menyisir perairan menggunakan perahu, mulai dari kawasan Jembatan Kutai Kartanegara, Pulau Kumala, hingga wilayah hilir sungai.

BACA JUGA :  Tak Miliki Izin, Gudang Penampungan Minyak Mentah Milik PT SIE di Tanjung Bintang Tak Tersentuh Hukum?

Pencarian itu akhirnya berujung pada penemuan bangkai lumba-lumba yang telah memasuki fase pembusukan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara, mengatakan setiap kejadian mamalia laut yang terdampar atau ditemukan mati memiliki nilai penting, bukan hanya dalam upaya penyelamatan satwa dilindungi, tetapi juga sebagai sumber data ilmiah untuk memahami kondisi ekosistem laut Indonesia.

“Selain sebagai bentuk perlindungan terhadap satwa dilindungi, penanganan ini juga memberikan data ilmiah yang penting untuk mendukung pengelolaan dan konservasi mamalia laut di Indonesia. Kami mengapresiasi peran aktif masyarakat yang segera melaporkan kejadian ini sehingga proses penanganan dapat dilakukan dengan baik,” ujarnya.

Tim Balai PK Pontianak segera melakukan identifikasi, dokumentasi, serta mengambil sampel jaringan kulit dari lumba-lumba tersebut. Sampel itu akan dianalisis melalui uji DNA untuk memastikan identitas spesies sekaligus memperkaya basis data genetik mamalia laut Indonesia.

BACA JUGA :  Lampung Jadi Sentra Pengembangan Ikan Kobia Indonesia

Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, menjelaskan bahwa seluruh prosedur dilakukan sesuai standar penanganan mamalia laut terdampar.

Setelah proses identifikasi selesai, bangkai lumba-lumba kemudian dikuburkan untuk mencegah pencemaran lingkungan sekaligus menjaga aspek kesehatan masyarakat.

Analisis DNA selanjutnya akan dilakukan bekerja sama dengan Yayasan Konservasi RASI, yang selama ini aktif melakukan penelitian dan konservasi mamalia laut di Indonesia.

Keberhasilan proses penanganan tidak lepas dari kepedulian masyarakat Desa Rempanga. Warga tidak hanya menjadi pelapor pertama, tetapi juga ikut membantu proses pencarian, evakuasi hingga penguburan bangkai satwa.

Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan petugas konservasi menjadi contoh bahwa perlindungan satwa liar tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga kesadaran publik.

BACA JUGA :  KKP Lepas 40 Ton Daging Rajungan ke Pasar Amerika Utara

Lumba-lumba dikenal sebagai salah satu indikator sehat atau tidaknya ekosistem perairan. Ketika satwa ini ditemukan mati, pertanyaan yang muncul bukan hanya “apa penyebab kematiannya?”, tetapi juga “apa yang sedang terjadi dengan lingkungan tempat kita hidup?”

Mungkin laut sedang mengirim surat terbuka kepada manusia. Bedanya, surat itu tidak ditulis di atas kertas, melainkan terbawa arus bersama seekor lumba-lumba yang tak lagi bisa melompat di permukaan air.

Dan seperti biasa, manusia sering baru sibuk membaca pesan itu setelah pengirimnya tak lagi bernapas.

Meski penyebab pasti kematian lumba-lumba tersebut masih menunggu hasil analisis ilmiah, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konservasi tidak dimulai saat satwa mati, melainkan jauh sebelum itu dengan menjaga kebersihan laut, mengurangi pencemaran, serta melindungi habitat yang menjadi rumah bagi jutaan makhluk hidup.***