Scroll untuk baca artikel
Lingkungan HidupLINTAS DAERAH

Dedi Mulyadi Siapkan Rp120 Miliar Setahun, 4.000 Petani Digaji Tanam Pohon di Gunung Wayang

×

Dedi Mulyadi Siapkan Rp120 Miliar Setahun, 4.000 Petani Digaji Tanam Pohon di Gunung Wayang

Sebarkan artikel ini
program Gerakan Aksi untuk Lingkungan (GAUL) yang digelar di kawasan Situ Cisanti, Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jumat (13/2/2026).- foto doc

BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyiapkan skema besar untuk menghijaukan kembali kawasan Gunung Wayang, Kabupaten Bandung, sekaligus mengubah penanganan kerusakan lingkungan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.

Dedi berencana mendorong pengelolaan lahan-lahan PTPN maupun Perhutani di Jawa Barat, khususnya kawasan Gunung Wayang, untuk ditanami tanaman yang sesuai dengan karakter kawasan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Bukan sekadar menanam lalu meninggalkan bibit di tanah.

Dedi ingin petani dibayar untuk menanam sekaligus merawat pohon.

Target awal yang disebutnya mencapai 1.000 hektare, dengan pola pengelolaan yang melibatkan petani setempat.

Hal itu disampaikan Dedi saat berada di Situ Cisanti, Kabupaten Bandung, Sabtu (26/9/2026).

“Saya targetkan seribu hektar lahan biar selesai. Petaninya yang nanamnya saya gaji Rp2,5 juta per bulan. Satu orang 2 hektare. Diperlukan 500 orang,” ujar Dedi.

Namun, dalam penjelasan lebih lanjut, Dedi menyebut jumlah petani penanam pohon yang dipersiapkan mencapai 4.000 orang.

BACA JUGA :  KDM Gagas Pidana Kerja Sosial Jadi Solusi Bijak Kurangi Beban Negara

Dengan skema upah Rp2,5 juta per bulan, anggaran yang disiapkan Pemprov Jabar diperkirakan mencapai sekitar Rp10 miliar per bulan atau Rp120 miliar dalam setahun.

Angkanya memang besar.

Tetapi bagi Dedi, biaya tersebut jauh lebih kecil dibandingkan ongkos yang harus dikeluarkan pemerintah ketika kerusakan lingkungan berubah menjadi banjir, sedimentasi dan kerusakan infrastruktur.

Dedi menyebut program tersebut dirancang untuk menjawab dua persoalan sekaligus: kerusakan lingkungan dan kemiskinan masyarakat di kawasan perkebunan sayur.

Ia menyoroti kondisi buruh tani di sejumlah wilayah selatan Jawa Barat, termasuk Cianjur Selatan, Garut Selatan dan Bandung Selatan.

Menurut Dedi, rendahnya upah membuat masyarakat di kawasan tersebut tetap berada dalam kondisi ekonomi yang sulit.

Ia menyebut upah buruh tani di sejumlah lokasi bahkan hanya berkisar Rp20.000 hingga Rp30.000.

Karena itu, Dedi ingin skema konservasi tidak hanya berbicara tentang pohon, tetapi juga mengenai pendapatan masyarakat.

“Dan strategi ini dibiarkan miskin untuk apa? Agar mereka patuh. Saya termasuk pemimpin yang tidak mau kepatuhan disebabkan oleh kemiskinan, saya ingin kepatuhan disebabkan oleh kesejahteraan,” tegasnya.

BACA JUGA :  ASN Jabar Kini WFH Tiap Kamis, Dedi Mulyadi: “Kerja dari Rumah Boleh, Asal Jangan dari Rumah Mertua”

Konsepnya sederhana yakni petani tidak lagi hanya dibayar ketika menghasilkan komoditas, tetapi juga ketika menjaga lingkungan.

Dengan demikian, menanam pohon bukan diposisikan sebagai pekerjaan sambilan, melainkan sebagai pekerjaan yang memiliki nilai ekonomi.

Mulai Desember, Anggaran Bisa Rp10 Miliar Sebulan

KDM mengatakan penanaman ditargetkan mulai Desember 2026.

Jumlah tenaga yang disiapkan disebut mencapai 4.000 petani.

Jika seluruh petani memperoleh upah Rp2,5 juta per bulan, kebutuhan anggarannya mencapai:

Rp2,5 juta × 4.000 petani = Rp10 miliar per bulan.

Dalam setahun, nilainya mencapai sekitar Rp120 miliar.

Bagi Dedi, angka tersebut harus dilihat sebagai investasi lingkungan, bukan semata-mata belanja pemerintah.

Sebab, menurutnya, kerusakan kawasan hulu Citarum memiliki konsekuensi ekonomi jauh lebih besar.

“Rp10 miliar per bulan itu tidak ada artinya dibandingkan banjir luapan Citarum,” kata Dedi.

Ia menghubungkan program penghijauan Gunung Wayang dengan keberlangsungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

BACA JUGA :  Dedi Mulyadi Desak TKD Jabar Tak Ditunda: Klaim Kinerja Keuangan Sudah Positif

Menurutnya, sedimentasi Citarum membutuhkan pengerukan dengan biaya lebih dari Rp1 triliun setiap tahun.

Belum termasuk biaya penanganan banjir, kerusakan lingkungan dan perbaikan infrastruktur yang muncul akibat persoalan ekologis.

Dedi juga menyoroti nilai ekonomi yang bergantung pada keberadaan sistem sungai tersebut.

Pembangkit listrik di kawasan Cirata, Saguling dan Jatiluhur, menurut dia, menghasilkan nilai ekonomi hingga triliunan rupiah.

Setelah itu, aliran ekonomi berlanjut ke kawasan industri di Purwakarta, Karawang dan Bekasi.

“Setelah itu lahir kawasan industri di Purwakarta, Karawang, Bekasi, perputaran uangnya puluhan triliun dalam setiap bulan. Kalau Citarum mengering, Cisanti mengering, Gunung Wayangnya mengering, maka industri di situ akan mati,” jelasnya.

Pesan Dedi cukup jelas: menyelamatkan hulu Citarum bukan hanya urusan lingkungan, tetapi juga menjaga roda ekonomi yang berada jauh di hilir.

Gunung Wayang menjadi salah satu titik penting dalam rantai ekologis tersebut.