Scroll untuk baca artikel
EkonomiNasional

Bulog Pecahkan Rekor! Beras untuk Program Makan Bergizi Gratis Tembus 1 Juta Ton, Gudang Negara Kini “Sesak”

×

Bulog Pecahkan Rekor! Beras untuk Program Makan Bergizi Gratis Tembus 1 Juta Ton, Gudang Negara Kini “Sesak”

Sebarkan artikel ini
Pemprov DKI Jakarta
foto ilustrasi Bulog

JAKARTA – Di tengah harga pangan yang kerap bikin rakyat deg-degan dan perang komentar soal ketahanan pangan di media sosial, Perum Bulog justru membawa kabar yang cukup mencolok.

Beras untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut sudah tersalurkan hingga 1 juta ton hanya dalam kurun Januari hingga Mei 2026.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Angka itu diungkap Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (19/5/2026).

“Realisasi penyaluran beras hari ini, terutama untuk program MBG telah mencapai 1 juta ton,” ujar Rizal.

Jika angka tersebut dibayangkan secara visual, jumlahnya setara gunungan beras raksasa yang bisa membuat gudang mana pun megap-megap.

Dan memang, Bulog kini sedang menikmati situasi yang jarang terjadi bahwa stok melimpah. Tak hanya penyaluran MBG yang melonjak, Bulog juga mengklaim stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini mencapai 5,4 juta ton.

BACA JUGA :  Zulhas Tegaskan MBG Kerja Bersama, Gubernur Jabar Dorong Petani dan Sekolah Masuk Rantai Pasok

Jumlah tersebut disebut menjadi stok tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Sebagai perbandingan, pada periode 2025 stok beras Bulog berada di kisaran 3,3 juta ton.

“Stok beras saat ini di gudang Bulog mencapai 5,4 juta ton, menjadi yang paling tinggi sepanjang sejarah Indonesia,” kata Rizal.

Di tengah dunia yang masih dihantui ancaman krisis pangan global, perang geopolitik, dan perubahan iklim, angka ini tentu menjadi amunisi penting pemerintah untuk menjaga stabilitas pangan nasional.

Namun di sisi lain, publik juga mulai bertanya, kalau stok beras melimpah, apakah harga pangan di tingkat masyarakat juga akan terasa lebih ringan?

Sebab dalam realitas sehari-hari, rakyat sering mendengar istilah “stok aman”, tetapi tetap merasa harga kebutuhan pokok belum sepenuhnya ramah kantong.

Program Makan Bergizi Gratis kini menjadi salah satu motor utama penyaluran beras pemerintah.

Skema ini memang dirancang tidak hanya untuk memperkuat gizi masyarakat, tetapi juga menyerap produksi petani dan menjaga stabilitas distribusi pangan nasional.

BACA JUGA :  Mutasi Diralat, Putra Mantan Wapres Orba Batal Dimutasi dari Pangkogawilhan I

Dengan penyaluran mencapai 1 juta ton, MBG kini bukan sekadar program sosial biasa, melainkan sudah menjadi instrumen besar ekonomi pangan nasional.

Secara sederhana bahwa anak sekolah dapat makan, petani punya pasar, dan gudang Bulog punya jalur distribusi. Selain MBG, Bulog juga memaparkan sejumlah realisasi penyaluran beras untuk berbagai program pemerintah lainnya.

Untuk program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), penyaluran telah mencapai 235.815 ton atau sekitar 28,08 persen. Sementara beras bantuan pangan untuk alokasi Februari-Maret 2026 mencapai 216.808 ton atau 32,61 persen.

Bulog juga menyalurkan:

  • 11.295 ton beras untuk penanggulangan bencana,
  • 29.064 ton iron stock,
  • serta 233 ton untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

“Kebutuhan di lapangan terus berjalan dan penyaluran dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing program,” jelas Rizal.

Melimpahnya stok tentu menjadi kabar baik. Namun semakin besar cadangan beras, semakin besar pula tantangan distribusi dan pengelolaannya. Sebab beras bukan sekadar angka di laporan rapat DPR.

BACA JUGA :  DLH Tanggamus Soroti Limbah Dapur MBG Dadimulyo: Program Sehat Tak Boleh Hasilkan Pencemaran

Ia harus disimpan dengan baik, didistribusikan tepat waktu, dijaga kualitasnya, dan dipastikan benar-benar sampai ke masyarakat yang membutuhkan.

Kalau tidak, gudang bisa penuh, tetapi manfaatnya tak maksimal di lapangan. Dalam dunia pangan, persoalannya memang bukan hanya “punya beras atau tidak”, melainkan bagaimana negara mengatur ritme antara produksi, stok, distribusi, dan harga.

Apa yang dilakukan Bulog hari ini menunjukkan satu hal yakni, pangan tetap menjadi urusan paling sensitif bagi pemerintah mana pun. Sebab ketika harga beras naik, efeknya bukan hanya ekonomi, tetapi juga sosial dan politik.

Karena itu, keberhasilan menjaga stok hingga 5,4 juta ton tentu menjadi capaian strategis.

Meski begitu, masyarakat tetap berharap keberhasilan tersebut bukan hanya terasa di ruang rapat dan angka statistik, tetapi juga sampai ke dapur rumah tangga, bahwa beras mudah didapat, harga stabil, dan rakyat tak perlu cemas setiap kali masuk pasar.***