BANDAR LAMPUNG – Suasana haru menyelimuti Masjid Raya Al-Bakrie, Lampung, saat satu per satu pasangan pengantin mengucapkan ijab kabul dalam program Nikah Massal Begawi Cinta Lampung 2026. Air mata bahagia, senyum keluarga, hingga lantunan doa mengiringi momen sakral yang mengubah status 31 pasangan menjadi suami istri yang sah di hadapan agama dan negara.
Di antara puluhan pasangan tersebut, Muhammad Andika dan Leli Yuniar menjadi pasangan pertama yang melangsungkan akad nikah. Momen itu terasa semakin istimewa karena Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal hadir langsung sebagai saksi pernikahan mereka. Setelahnya, Gubernur bersama Ketua TP PKK Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, turut menyaksikan prosesi akad nikah bagi 30 pasangan lainnya.
Bagi para pengantin, hari itu bukan sekadar seremoni. Mereka memulai lembaran baru kehidupan dengan harapan membangun keluarga yang kokoh, penuh cinta, dan mendapat keberkahan.
Program Begawi Cinta Lampung 2026 merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Lampung, Masjid Raya Al-Bakrie, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Yayasan Bakrie Amanah, serta sejumlah mitra. Inisiatif ini dihadirkan untuk memudahkan masyarakat memperoleh layanan pernikahan yang sah sekaligus memperkuat ketahanan keluarga.
Dalam sambutannya, Gubernur Mirza menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab menghadirkan pelayanan yang memudahkan masyarakat, termasuk dalam urusan pernikahan. Menurutnya, legalitas pernikahan bukan hanya memberikan kepastian hukum, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi lahirnya keluarga yang kuat.
“Melalui pernikahan yang sah, masyarakat akan memperoleh banyak manfaat. Pemerintah ingin memastikan setiap warga dapat mengakses layanan ini dengan mudah,” ujarnya.
Namun, pesan yang paling menyentuh datang ketika Gubernur berbicara tentang makna kebahagiaan dalam rumah tangga. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari megahnya rumah atau banyaknya harta.
“Rumah tangga yang bahagia bukan karena kemewahan, tetapi karena agama hidup di dalam keluarga. Seorang suami bukan hanya berkewajiban mencari nafkah, tetapi juga menuntut ilmu agama dan mengajarkannya kepada istri serta anak-anaknya,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap rumah tangga pasti akan diuji. Menurutnya, keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang bebas masalah, melainkan keluarga yang mampu menyelesaikan setiap persoalan melalui komunikasi yang baik.
“Biasakan berdialog. Jangan biarkan masalah dipendam hingga menjadi besar. Komunikasi adalah kunci menjaga keharmonisan rumah tangga,” kata Mirza di hadapan para pasangan pengantin.
Gubernur berharap seluruh pasangan dapat membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah serta melahirkan generasi yang berakhlak mulia dan mampu berkontribusi bagi kemajuan Provinsi Lampung.
Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan tersebut dan berharap program serupa dapat menjadi inspirasi bagi masjid-masjid lain di seluruh Lampung agar semakin banyak masyarakat memperoleh kemudahan untuk menikah secara sah.
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Masjid Raya Al-Bakrie Lampung, Basyaruddin Maisir, menegaskan bahwa Begawi Cinta Lampung bukan sekadar agenda seremonial. Program ini dirancang sebagai gerakan berkelanjutan dalam membangun keluarga sakinah.
Ke depan, para peserta tidak hanya berhenti pada prosesi akad nikah. Mereka juga akan mendapatkan berbagai bentuk pendampingan, mulai dari sidang isbat nikah, kelas pranikah, pembinaan keluarga sakinah hingga layanan konseling keluarga.
“Kami ingin program ini melahirkan keluarga-keluarga yang tangguh, harmonis, dan menjadi fondasi pembangunan masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain, mengapresiasi sinergi seluruh pihak yang telah menghadirkan layanan nikah massal gratis bagi masyarakat. Ia berpesan agar setiap pasangan mampu saling menerima kekurangan dan melengkapi satu sama lain dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
“Tidak ada manusia yang sempurna selain Nabi Muhammad SAW. Karena itu, suami dan istri harus saling menerima, saling memahami, dan saling melengkapi agar rumah tangga tetap kokoh menghadapi setiap ujian,” tutupnya. ***













