Harga Pupuk di Lamtim, Jauh Diatas HET 

Ilustrasi pupuk bersubsidi
Ilustrasi pupuk bersubsidi

LAMTIM - Harga Pupuk subsidi melalui penyaluran agen resmi atau pengecer yang ditunjuk di wilayah Kabupaten Lampung Timur, harga jual ke petani lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET).

Diketahui harga pupuk subsidi untuk harga eceran tertinggi (HET), jenis pupuk urea sebesar Rp90 ribu/50 Kilogram, pupuk ZA Rp70ribu/50 Kilogram, Pupuk SP-36 Rp 100 ribu/50 Kilogram dan NPK Rp115 ribu/50 Kilogram. Tetapi ketika petani membeli harganya jauh lebih tinggi dari harga HET tersebut.

Sahroni, Petani Lamtim pProgram

"Harga itu kan teori, buktinya petani kalo beli pupuk meskipun membawa nama Gapoktan harganya jauh lebih tinggi. Saya beli pupuk di warung di Desa Pasirluhur, harga untuk Pupuk Urea mencapai Rp110 ribu, SP-36 Rp135 ribu/50 Kilogram, dan ponska Rp150 ribu,"ungkap Sahroni, Petani di desa Gunung Pasir Jaya Kecamatan Sekampung Udik, kepada Wawai News, Kamis (16/1/2020).

Dikatakan harga lebih tinggi dari ketetapan sudah terjadi setiap tahun, tetapi tidak ada upaya pencegahan atau evaluasi dari Pemerintah. Harusnya instansi terkait bisa melakukan evaluasi sehingga tidak terkesan melakukan pembiaran.

"Kita tahu bahwa tidak semua petani tergabung dalam kelompok tani disitu pengencer bermain dengan harga. Pengecer jika ditanya kenapa harga jauh dari HET beralasan karena biaya angkut yang tinggi, apakah demikian, bukan surat perjanjian mereka barang sampai ke pengecer dari distributor,"ungkap Sahroni.

Dia berharap, persoal harga jual pupuk di kalangan petani wilayah Kabupaten Lampung Timur, tahun ini khususnya semua kelompok tani targabung dalam tani dan PPL membuat rencana definitip kebutuhan (RDKK) Klampok tani secara benar.

Begitupun pendataan pengencer dan distributor Lebih selektif, sehingga petani bisa mendapatkan pupuk sesuai dengan harga dan harapan pemerintah pusat. Pupuk jangan jadi permainan yang hanya menguntungkan segelintir orang dan merugikan petani.

"Petani saat panen belum tentu mendapatkan harga bagus, sementara biaya tanam tinggi salah satunya harga pupuk tidak sesuai dengan HET. Padahal Pemerintah Provinsi Lampung terus menggalakkan program Petani Berjaya, bagaimana mau berjaya jika harga pupuk diselewengkan,"tukasnya.

Menurutnya harga mencekik, karena petani perlu, sehingga berapa pun harga tetap di beli. Jika tidak dipupuk berimbas pada hasil panen, oleh karena petani berharap  pejabat baik bupati/gubernur untuk lebih bijak memelih distributor.

"Kepada produsen untuk memberhentikan kontrak penyaluran pupuk subsidi jika ada distributor yang nakal
. Produsen pupuk harus turun ke petani mempertanyakan langsung berapa sebenarnya petani membeli pupuk. Hal itu diharapkan jika benar tidak ada permainan dari atasnya,"papar Roni. (Red)

Penulis:

Baca Juga