Bukan hanya kebijakan.
Melainkan kesinambungan.
Pembangunan tidak diperlakukan sebagai proyek lima tahunan yang selesai ketika masa jabatan berakhir.
Pergantian pemimpin tidak otomatis menghapus program lama.
Yang baik diteruskan.
Yang kurang diperbaiki.
Yang gagal dievaluasi.
Bukan dibongkar demi memberi ruang bagi ego politik baru.
Dalam hal ini, Vietnam juga pernah belajar dari Indonesia.
Pada masa ketika Indonesia memiliki GBHN dan Repelita, pembangunan dirancang lintas pemerintahan.
Ada arah besar yang dijaga bersama.
Ada cita-cita nasional yang tidak berubah hanya karena pergantian kekuasaan.
Ironisnya, ketika Vietnam mempertahankan semangat pembangunan jangka panjang itu, Indonesia justru semakin sering terjebak dalam siklus kebijakan yang berganti mengikuti pergantian pemimpin.
Akibatnya, tidak sedikit program berhenti sebelum sempat menghasilkan buah.
Kemajuan yang Tidak Bebas dari Masalah
Tentu Vietnam bukan surga.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi membawa tantangan baru.
Ketergantungan pada investasi asing masih besar.
Kesenjangan wilayah tetap ada.
Tekanan terhadap lingkungan meningkat.
Persaingan global semakin ketat.
Kebutuhan akan inovasi terus bertambah.
Namun yang membedakan Vietnam adalah sikapnya terhadap masalah.
Mereka tidak menganggap keberhasilan sebagai alasan untuk berhenti.
Setiap keberhasilan justru menjadi titik awal pembaruan berikutnya.
Mereka bergerak cepat membaca perubahan dunia.
Ketika rantai pasok global berubah, mereka bersiap.
Ketika industri elektronik berkembang, mereka menyesuaikan.
Ketika ekonomi digital tumbuh, mereka membangun ekosistemnya.
Mereka tidak menunggu masa depan datang.
Mereka menjemputnya.
Pelajaran bagi Indonesia
Di sinilah sejarah menghadirkan ironi yang patut direnungkan.
Indonesia pernah menjadi guru.
Vietnam pernah menjadi murid.
Hari ini, dalam banyak indikator ekonomi, murid itu telah berlari lebih jauh.
Bukan karena Indonesia kehilangan kekayaan alam.
Bukan karena Indonesia kekurangan sumber daya manusia.
Bukan pula karena Indonesia kekurangan gagasan.
Yang sering kurang adalah konsistensi.
Kita terlalu sering memulai dari awal.
Terlalu mudah membatalkan apa yang telah dibangun.
Terlalu sibuk menciptakan program baru dibanding menyempurnakan program yang sudah terbukti berhasil.
Pembangunan akhirnya lebih banyak menghasilkan pergantian slogan daripada kesinambungan hasil.
Padahal, bangsa besar bukanlah bangsa yang terus-menerus menemukan ide baru.
Bangsa besar adalah bangsa yang mampu menjaga arah, merawat institusi, memperkuat kebijakan yang baik, dan memperbaiki kebijakan yang kurang tanpa kehilangan tujuan besarnya.
Menjadi Murid dari Sejarah
Pelajaran Vietnam sesungguhnya bukan tentang Vietnam.
Pelajaran itu adalah cermin bagi Indonesia.
Bahwa bangsa ini pernah menjadi inspirasi.
Bahwa kita pernah menunjukkan kepada dunia bagaimana membangun pertanian, menjaga ketahanan pangan, dan menyusun pembangunan jangka panjang.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu.
Sejarah telah membuktikan bahwa kita mampu.
Pertanyaannya adalah apakah kita memiliki kedewasaan politik untuk menjaga kesinambungan, keberanian untuk mengevaluasi diri, dan kerendahan hati untuk belajar—bahkan dari mereka yang dahulu pernah belajar kepada kita.
Sebab sejarah tidak pernah memberi penghargaan kepada bangsa yang paling banyak berpidato.
Sejarah hanya mengingat bangsa yang paling tekun bekerja.
Kadang-kadang, seorang murid melampaui gurunya bukan karena menemukan pelajaran yang lebih hebat.
Melainkan karena ia lebih disiplin menjalankan pelajaran yang pernah diajarkan.
Dan mungkin, sudah saatnya Indonesia kembali menjadi murid dari sejarahnya sendiri.***











