“Berdirinya sejak tahun 2007, baru kali ini kepala dinas pendidikan datang langsung. Biasanya hanya ditinjau dari jauh,” katanya.
Menurut warga, keberadaan kelas jauh ini berawal dari kebutuhan mendesak. Jarak menuju sekolah induk mencapai sekitar 10 kilometer dengan medan berat berupa jalan berliku, tanjakan curam, dan turunan ekstrem. Karena itu, masyarakat berinisiatif iuran membeli lahan dan membangun ruang belajar sederhana agar anak-anak tetap bisa bersekolah.

Guru Pendidikan Agama Islam SDN 1 Tanjung Raja, Agus Muzani, membenarkan kondisi tersebut.
“Ini kelas jauhnya, kalau induknya di SDN 1 Tanjung Raja. Jumlah siswa sekitar 15 orang, dari kelas satu sampai kelas enam,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanggamus, Viktor, menyatakan pihaknya sebenarnya memiliki rencana pembangunan. Namun, terkendala status lahan yang belum menjadi milik pemerintah.
“Ke depan memang direncanakan dibangun, tapi kendalanya tanahnya bukan milik pemda. Syarat utama pembangunan, tanah harus milik pemerintah. Tadi ada wacana warga akan menghibahkan, silakan saja sesuai prosedur,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya akan membantu dari sisi fasilitas.
“Untuk mobiler karena satu kesatuan dengan SD induk, insyaallah segera dikirim melalui anggaran APBD. Tapi untuk bangunan harus menunggu proses,” katanya.
Viktor juga mengakui bahwa kunjungannya ke lokasi dipicu oleh viralnya kondisi sekolah tersebut.
“Kebetulan ini lagi viral, jadi kami datang langsung ke lokasi,” ucapnya.
Kini, harapan warga tertumpu pada sinergi antara kepedulian publik dan langkah nyata pemerintah. Di tengah keterbatasan, semangat gotong royong kembali menjadi penopang utama pendidikan anak-anak di pelosok Tanggamus.***












