Scroll untuk baca artikel
Lampung

Viral! Siswi SD di Lampung Timur Dijambak dan Ditampar Teman Sendiri, Bupati: Bullying Bukan Bahan Tontonan!

×

Viral! Siswi SD di Lampung Timur Dijambak dan Ditampar Teman Sendiri, Bupati: Bullying Bukan Bahan Tontonan!

Sebarkan artikel ini
Foto tangkapan layar aksi Bullying pelajar sekolah dasar di Lampung Timur yang hebor pada 17 Juli 2027- foto SC

LAMPUNG TIMUR – Peristiwa memilukan kembali mencoreng dunia pendidikan. Seorang siswi Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Lampung Timur, Lampung, menjadi korban dugaan perundungan (bullying) yang terekam dalam sebuah video dan viral di berbagai platform media sosial.

Alih-alih menjadi tempat belajar, sekolah justru berubah menjadi panggung kekerasan. Dalam rekaman yang beredar, korban tampak dikelilingi sejumlah teman sebayanya. Tanpa mampu melawan, ia menerima perlakuan kasar berupa dorongan, jambakan rambut, hingga tamparan di wajah. Ironisnya, aksi tersebut terjadi di hadapan anak-anak lain yang lebih memilih menjadi penonton daripada penolong.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Video berdurasi singkat itu sontak memicu kemarahan dan keprihatinan masyarakat. Banyak warganet mempertanyakan bagaimana tindakan kekerasan terhadap anak bisa terjadi di lingkungan yang seharusnya menjadi ruang paling aman setelah rumah.

BACA JUGA :  “Pom Gunung Sugih Besar: Tempat Ibadah Sabar Nasional, Antrian Panjang Menuju Keikhlasan”

Kasat Reskrim Polres Lampung Timur, Iptu Muhammad Iksir, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Berdasarkan hasil penelusuran polisi, insiden itu terjadi di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur.

“Benar, setelah dilakukan penelusuran oleh anggota, rupanya peristiwa tersebut terjadi di salah satu sekolah di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur,” ujar Iptu Muhammad Iksir sebagaimana dikutip Wawai News, Minggu (19/7).

Penyidik katanya sudah mendalami video yang beredar untuk mengidentifikasi seluruh pihak yang terlibat serta memastikan kronologi kejadian secara utuh. Penanganan dilakukan dengan mengedepankan ketentuan hukum yang berlaku bagi anak.

Tak menunggu polemik berkepanjangan, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur langsung mengambil langkah cepat. Atas arahan Bupati Lampung Timur, jajaran pemerintah daerah bersama tenaga kesehatan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, psikolog, serta Tim Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) turun langsung memberikan pendampingan kepada korban.

BACA JUGA :  Bupati Lamtim Ajak Warga Mataram Baru Berhenti Merokok

Korban menjalani pemeriksaan kesehatan sekaligus mendapatkan pendampingan psikologis guna memulihkan kondisi fisik maupun mentalnya. Pendampingan juga diberikan kepada keluarga agar proses pemulihan berjalan secara menyeluruh.

Pada Rabu sore, tim dari Pemerintah Kabupaten Lampung Timur kembali memastikan kondisi korban dan keluarganya. Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan serta pemulihan korban menjadi prioritas utama.

Di sisi lain, anak-anak yang diduga terlibat dalam aksi perundungan juga akan mendapatkan pembinaan melalui pendekatan edukatif dan rehabilitatif. Langkah tersebut ditempuh dengan mengedepankan prinsip kepentingan terbaik bagi anak, agar mereka memahami konsekuensi perbuatannya sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.

Perundungan bukan sekadar “bercanda kelewatan”. Luka akibat bullying sering kali tidak hanya membekas di kulit, tetapi juga menetap dalam ingatan korban selama bertahun-tahun. Yang lebih menyedihkan, di era media sosial, masih ada yang menganggap merekam dan menyebarkan kekerasan lebih penting daripada menghentikannya.

BACA JUGA :  Uniknya Menara Kembar di Ponpes Babussalam Al Amin Desa Toba, Dulu Jadi Destinasi Wisata Religi di Sekampung Udik

Kalau ada “viral challenge” yang seharusnya kita ikuti, itu adalah berani melerai, berani melapor, dan berani membela korban bukan berlomba menjadi kamerawan saat teman sendiri diperlakukan tidak manusiawi.

Pemerintah Kabupaten Lampung Timur mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari orang tua, guru, siswa, hingga lingkungan sekitar, untuk bersama-sama menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak.

Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi sangat penting: saling asah, saling asih, dan saling asuh. Sebab, masa depan anak-anak tidak dibangun dengan tamparan dan intimidasi, melainkan dengan kasih sayang, pendidikan, dan keteladanan.

Bullying tidak memiliki tempat di sekolah. Pendidikan seharusnya melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berempati, bukan generasi yang menganggap kekerasan sebagai hiburan.***