Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Rupiah Babak Belur! Tembus Rp17.660 per Dolar AS, Investor Mulai Gelisah Lihat Arah Ekonomi RI

×

Rupiah Babak Belur! Tembus Rp17.660 per Dolar AS, Investor Mulai Gelisah Lihat Arah Ekonomi RI

Sebarkan artikel ini
foto ilustrasi

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali “keringatan” di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda pada perdagangan Senin (18/5/2026) bahkan sempat menyentuh level Rp17.660 per dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah perdagangan intraday di pasar spot.

Di tengah jargon “fundamental ekonomi kuat”, pasar justru memberi sinyal berbeda. Rupiah terus tertekan, investor asing mulai menjaga jarak, sementara dolar AS semakin tampil seperti “raja kecil” yang sulit disentuh.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Pelemahan rupiah kali ini bukan sekadar soal sentimen sesaat. Tekanannya datang berlapis: mulai dari revisi indeks global MSCI, kualitas pertumbuhan ekonomi domestik, kekhawatiran fiskal pemerintah, hingga memanasnya geopolitik Timur Tengah.

Jika dirangkum secara sederhana, pasar global saat ini seperti sedang berkata: “Kami masih percaya Indonesia tumbuh, tapi belum cukup yakin untuk menyimpan uang lebih lama di sini.”

Salah satu faktor utama yang membuat rupiah limbung adalah keputusan MSCI yang mengeluarkan enam saham Indonesia dari Global Standard Index dalam review Mei 2026.

Bagi investor ritel, kabar ini mungkin terdengar teknis. Namun bagi pasar global, perubahan bobot indeks MSCI bisa menentukan ke mana triliunan rupiah dana investasi bergerak.

BACA JUGA :  AS Datang Bawa Investasi, Indonesia Siapkan Karpet Merah: Diplomasi Dolar Mulai Mendarat di Jakarta

Ekonom DBS, Radhika Rao memperkirakan bobot Indonesia di indeks emerging market turun menjadi sekitar 0,5–0,6 persen, dari sebelumnya mendekati 0,8 persen.

Penurunan bobot itu berarti banyak investor global kemungkinan harus mengurangi kepemilikan aset Indonesia demi menyesuaikan portofolio mereka dengan indeks acuan.

Akibatnya, potensi arus modal asing keluar dari pasar saham domestik makin terbuka. Ketika dana asing keluar, permintaan terhadap rupiah ikut melemah.

Di pasar keuangan modern, rupiah memang kadang terasa seperti anak kos akhir bulan: sedikit sentimen negatif saja langsung goyah.

Data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 sebenarnya terlihat cukup baik. Namun angka pertumbuhan itu belum berhasil membuat rupiah kembali perkasa.

Pasar menilai pertumbuhan ekonomi masih terlalu bergantung pada belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga. Sementara investasi dan ekspor belum cukup kuat menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang.

Investor global tidak hanya melihat ekonomi tumbuh atau tidak. Mereka juga ingin tahu: pertumbuhan itu “ditopang otot” atau hanya “ditopang subsidi dan belanja”.

Jika pertumbuhan terlalu bergantung pada konsumsi dan pengeluaran negara, pasar akan mempertanyakan daya tahan ekonomi ketika ruang fiskal mulai menyempit.

BACA JUGA :  Rupiah Tersungkur, IHSG Terjungkal! Senin Kelabu Bikin Investor Garuk-Garuk Kepala, Dolar Makin Perkasa

Karena itu, walaupun angka pertumbuhan terlihat manis di atas kertas, pasar tetap memilih bersikap hati-hati terhadap aset rupiah.

Pelemahan rupiah juga membuat perhatian investor tertuju pada disiplin fiskal pemerintah.

Pasar mulai mencermati arah belanja negara, efektivitas penggunaan anggaran, hingga kemampuan menjaga defisit tetap aman di tengah kebutuhan belanja yang terus membesar.

Dalam analisis ekonom Ezaridho Ibnutama, nilai tukar bukan hanya soal moneter, tetapi juga cermin kepercayaan pasar terhadap perilaku fiskal pemerintah.

“Nilai tukar, dalam jangka panjang, adalah vonis atas perilaku fiskal pemerintah,” tulisnya.

Pernyataan itu menjadi relevan ketika rupiah terus melemah. Sebab semakin tinggi dolar AS, semakin besar pula biaya pembayaran utang luar negeri dan kewajiban dalam valuta asing.

Dengan kata lain, ketika rupiah melemah, negara, perusahaan, hingga pelaku usaha harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk membayar kewajiban dolar mereka.

Belum cukup sampai di situ, pasar juga dibayangi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemukan titik terang.

BACA JUGA :  Perkuat Bisnis, HAGS Teken MoU dengan Tamiang Multi Trada

Ketidakpastian di Timur Tengah membuat harga minyak dunia kembali melonjak. Harga minyak Brent tercatat naik hingga US$111,34 per barel, sementara WTI menyentuh US$107,84 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi Indonesia karena dapat menekan inflasi, memperbesar subsidi energi, hingga meningkatkan kebutuhan impor migas.

Pasar khawatir jika harga minyak bertahan tinggi terlalu lama, tekanan terhadap rupiah dan APBN bisa semakin berat.

Apalagi Indonesia masih sangat sensitif terhadap gejolak harga energi global.

Dalam situasi seperti ini, pasar tidak hanya menunggu langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah. Investor juga mengawasi koordinasi pemerintah dalam menjaga kredibilitas fiskal dan stabilitas ekonomi.

Rupiah kini berada dalam fase yang tidak mudah. Di satu sisi harus menghadapi dolar AS yang semakin kuat, di sisi lain juga dibebani sentimen domestik dan geopolitik global.

Bagi masyarakat, pelemahan rupiah mungkin terasa sederhana: harga barang impor naik, biaya perjalanan luar negeri makin mahal, dan cicilan berbasis dolar semakin berat.

Namun bagi pasar keuangan, rupiah yang terus melemah adalah alarm bahwa kepercayaan investor sedang diuji serius.***