Scroll untuk baca artikel
LampungLingkungan Hidup

Peternakan Babi Dekat Sekolah Tuai Protes Warga, DLH Lampung Timur Diminta Turun

×

Peternakan Babi Dekat Sekolah Tuai Protes Warga, DLH Lampung Timur Diminta Turun

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi Kandang Babi - dok/Jali

LAMPUNG TIMUR – Jika sekolah idealnya identik dengan aroma buku baru, semangat belajar, dan lingkungan yang sehat, kondisi berbeda justru dialami para siswa dan guru di SMK Yanikma, Desa Bauh Gunung Sari, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur.

Di lokasi ini, udara segar yang seharusnya menjadi hak setiap warga justru berganti dengan aroma menyengat yang disebut-sebut berasal dari sebuah peternakan babi milik warga bernama Nyoman Mertayasa. Ketika hujan turun atau malam mulai menyelimuti desa, bau tersebut diklaim semakin pekat dan menyebar hingga ratusan meter, memicu keluhan dari masyarakat serta lingkungan pendidikan yang berada di sekitar lokasi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Persoalan yang awalnya dianggap sekadar gangguan bau kini berkembang menjadi isu lingkungan hidup yang lebih serius. Warga dan pihak sekolah menilai keberadaan peternakan tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga diduga telah menimbulkan pencemaran lingkungan akibat pengelolaan limbah yang dinilai tidak memadai.

BACA JUGA :  Kepsek SMAN 1 Sekampung Udik, Dinilai Arogan Saat Terima Jurnalis

Bagi siswa, belajar seharusnya menjadi proses menyerap ilmu pengetahuan. Namun menurut sejumlah keluhan yang disampaikan, yang lebih dulu “diserap” justru aroma menyengat yang datang bersama embusan angin dan uap dari area peternakan.

Guru SMK Yanikma, Fhaturahim, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama dan semakin terasa saat musim hujan. Menurutnya, bau tidak sedap dari kotoran ternak menyebar luas hingga mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah.

“Kalau hujan atau malam hari, baunya sangat menyengat. Kondisi seperti ini tentu mengganggu konsentrasi siswa dan guru saat proses belajar berlangsung,” ujarnya.

Namun masalah tidak berhenti pada urusan penciuman semata.

Pihak sekolah juga mengaku menghadapi persoalan rembesan limbah yang diduga berasal dari area peternakan. Air bercampur kotoran disebut merembes melewati batas lahan dan masuk ke lingkungan sekolah, bahkan menggenangi area parkir kendaraan siswa.

Ironisnya, area yang seharusnya menjadi tempat parkir sepeda motor para pelajar kini disebut lebih mirip lokasi penampungan limpasan limbah ketika curah hujan meningkat.

BACA JUGA :  Ratusan Petani Sekitar Bendung Margatiga Gelar Aksi Tuntut Kejelasan Ganti Untung

Menurut Fhaturahim, pihak sekolah telah beberapa kali melakukan penambalan pada bagian saluran dan tembok pembatas yang mengalami kebocoran. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil maksimal karena rembesan terus muncul kembali.

“Sudah beberapa kali kami perbaiki dan tambal, tetapi tetap bocor. Air limbah terus keluar dan mengalir ke area sekolah, terutama di tempat parkir siswa,” jelasnya.

Keluhan serupa juga datang dari masyarakat sekitar yang mengaku tidak pernah diajak bermusyawarah sebelum pembangunan maupun operasional peternakan berjalan. Warga menilai keberadaan usaha peternakan dengan skala yang cukup besar semestinya mempertimbangkan dampak lingkungan serta kenyamanan masyarakat sekitar, terlebih lokasinya berdekatan dengan kawasan pendidikan dan permukiman.

Di tengah berbagai kampanye tentang lingkungan bersih, sanitasi sehat, dan pembangunan berkelanjutan, warga mempertanyakan mengapa persoalan limbah yang mereka alami justru seolah belum mendapatkan solusi nyata.

Sebab dalam urusan lingkungan hidup, persoalannya bukan sekadar soal bau yang mengganggu hidung. Yang lebih penting adalah bagaimana kualitas udara, kualitas tanah, serta kualitas kehidupan masyarakat dapat tetap terjaga.

BACA JUGA :  Penanganan Pencemaran Kali Sekampung, Diminta Tak Sebatas Tebar Pesona

Jika limbah terus merembes dan aroma menyengat terus menyelimuti kawasan pendidikan, maka yang terancam bukan hanya kenyamanan warga hari ini, tetapi juga kualitas lingkungan generasi yang akan datang.

Karena itu, pihak sekolah dan masyarakat kini meminta pemerintah daerah, dinas terkait, serta instansi lingkungan hidup untuk turun langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pengelolaan limbah peternakan tersebut.

Warga berharap ada langkah tegas dan solusi konkret agar persoalan yang telah berlangsung ini tidak terus berlarut-larut.

“Kami ingin lingkungan yang sehat dan nyaman. Anak-anak berhak belajar dengan baik tanpa gangguan pencemaran lingkungan. Kalau memang tidak bisa dikelola dengan baik, kami berharap ada tindakan tegas atau relokasi ke lokasi yang lebih sesuai,” tegas Fhaturahim mewakili aspirasi warga dan pihak sekolah.

Kini masyarakat menunggu apakah persoalan ini akan berakhir dengan solusi nyata, atau justru terus menguap bersama aroma yang setiap malam dan musim hujan kembali memenuhi udara Desa Bauh Gunung Sari.