SERANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi solusi pemenuhan gizi anak bangsa kembali diterpa badai kontroversi. Kali ini, jagat media sosial dihebohkan oleh unggahan viral di Threads yang memuat dugaan praktik tak lazim dalam pengadaan roti untuk program tersebut.
Utas yang diunggah akun @spidolls itu sontak memancing ribuan reaksi publik setelah memperlihatkan tangkapan layar percakapan WhatsApp antara seorang vendor roti dan pihak yang disebut sebagai petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Serang.
Jika isi percakapan tersebut benar adanya, publik tentu berhak bertanya: yang sedang dibangun ini program pemenuhan gizi atau kompetisi sulap angka?
Dalam unggahan itu, sang vendor mengaku pertama kali dihubungi pada 9 April 2026 untuk memproduksi roti yang semula bernilai Rp3.000 per buah. Namun, muncul permintaan yang membuat alis banyak orang terangkat.
Vendor mengklaim diminta menjual roti dengan harga Rp1.500 per buah, sementara nilai yang dicantumkan dalam nota tetap Rp3.000.
“Kalau benar begitu, ini bukan lagi potong harga, tapi potong logika,” tulis sejumlah netizen yang ikut mengomentari kasus tersebut.
Tak hanya soal harga, percakapan yang beredar juga menunjukkan adanya usulan agar ukuran dan kualitas roti disesuaikan demi memenuhi target harga yang diminta.
“Minta harga Rp1.500 per biji, dikurangi aja ukurannya bu, pakai tepung dan susu curah enggak apa-apa,” demikian bunyi pesan yang beredar luas di media sosial.
Ironisnya, yang menjadi sasaran konsumsi produk tersebut bukan orang dewasa yang bisa memilih menu makan siangnya sendiri, melainkan anak-anak sekolah yang justru menjadi tujuan utama program peningkatan gizi nasional.
Vendor yang bersangkutan mengaku menolak permintaan tersebut.
“Saya yang enggak tega jualnya kalau gitu, apalagi buat dimakan anak-anak nantinya,” tulisnya dalam balasan yang kemudian mendapat banyak simpati publik.
Respons masyarakat pun beragam. Sebagian mempertanyakan mekanisme pengawasan program MBG, sementara lainnya meminta aparat penegak hukum segera melakukan penelusuran agar polemik tidak berkembang menjadi bola liar.
Pasalnya, jika dugaan manipulasi harga maupun pencatatan transaksi benar-benar terjadi, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar angka dalam nota, melainkan kepercayaan publik terhadap program yang mengelola anggaran besar atas nama masa depan generasi bangsa.
Program Makan Bergizi Gratis sejak awal dijual sebagai investasi sumber daya manusia. Namun publik tentu berharap yang dibagikan adalah gizi untuk anak-anak, bukan kreativitas mengakali administrasi.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG terkait yang disebut dalam unggahan viral tersebut. Karena itu, seluruh informasi yang beredar masih memerlukan verifikasi dan klarifikasi lebih lanjut dari pihak-pihak terkait.
Yang jelas, bila roti diminta mengecil sementara angka di nota tetap membesar, masyarakat wajar bertanya: yang sedang digemukkan sebenarnya anak sekolah atau laporan anggaran? Setelah utasnya viral hingga mendapat likes lebih dari 29 ribu, pengunggah mengabarkan jika dirinya tak bisa membuka SPPG mana yang menghubunginya tersebut.
Namun, ia menyatakan bahwa dirinya sudah melaporkan tindakan tersebut kepada pihak yang berwenang.
Menilik komentar di utas tersebut, terlihat beberapa warganet juga mengaku pernah mendapatkan pengalaman serupa.
Mereka dihubungi oleh pihak SPPG untuk menurunkan harga jual, tapi tetap menyertakan atau menaikkan harga asli.
“Saya pernah diminta untuk si menu MBG tiap mingguan, harga produkku Rp20.000, dia minta harga Rp5.000. Saya tolak, dia minjadRpdi Rp7.000, katanya biar pake bahan frozen aja. Padahal saya susah jaga nama baik brand saya denga motto daging fresh dan dia menjatuhkannya untuk keuntungan pribadi,” tulis akun @mypiamoepalu.
“Ini sama banget, aku produksi dimsum homemade yang full daging dan diminta buat drop ke MBG ditawar setengah harga tapi mereka markup harga di atas harga jualku. Mending aku skip, Insya Allah rezeki datang jauh lebih banyak lagi,” tulis akun @tiarrakasih.
“Pernah banget aku mau dapat orderan ompreng, kebetulan aku bergerak di bidang import horeca. Aku ambil untung Rp2.000 per ompreng, ya kali disuruh markup buat keuntungan mereka Rp20.000 per ompreng. Waktu ini mau order 60.000, tapi karena takut dosa dan jadi masalah ke depannya, aku ga ambil projectnya. Setiap ada dari SPPG mau order, langsung aku tolak,” tulis akun @hey.indahoy.***












