BOGOR – Setelah bertahun-tahun warga bantaran Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas akrab dengan banjir yang datang seperti “tamu tak diundang” setiap musim hujan, kini secercah harapan mulai terlihat. Deru alat berat yang selama ini dinanti akhirnya terdengar di sepanjang aliran sungai yang kerap menjadi penyebab terendamnya ribuan rumah di kawasan Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) menyatakan dukungan penuh terhadap program pengendalian banjir yang sedang dikerjakan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Proyek tersebut meliputi pembangunan tanggul permanen dan pengerukan alur sungai yang dilakukan secara bertahap di Sungai Cileungsi maupun Sungai Cikeas.
Bagi warga yang selama ini terbiasa mengukur tinggi banjir dari pagar rumah hingga atap garasi, kehadiran alat berat bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah harapan agar musim hujan tidak lagi identik dengan evakuasi, kasur mengapung, hingga perabotan yang rusak diterjang air.
Ketua KP2C, Puarman, mengaku lega melihat pekerjaan fisik sudah dimulai di lapangan.
“Kami senang alat berat sudah mulai bekerja di Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas,” ujar Puarman saat meninjau lokasi pekerjaan, Minggu (14/6/2025).
Untuk jalur Sungai Cikeas, pekerjaan dimulai dari RW 36 dan RW 41 Perumahan Vila Nusa Indah 3, Bojongkulur. Sementara di Sungai Cileungsi, pengerukan dan pembangunan tanggul diawali dari kawasan Blok Y Vila Nusa Indah 2, salah satu titik yang selama ini menjadi langganan banjir.
Menurut Puarman, pengerukan sedimentasi dan pembangunan tanggul permanen akan meningkatkan kapasitas tampung sungai sehingga aliran air saat hujan deras dapat lebih terkendali.
“Kalau daya tampung sungai bertambah, risiko luapan tentu bisa ditekan. Ini langkah yang sudah lama ditunggu warga,” katanya.
Puarman juga mengajak masyarakat untuk melihat proyek ini dari kepentingan yang lebih besar. Ia memahami selama proses pengerjaan akan muncul dampak sementara seperti debu, kebisingan alat berat, hingga lalu lintas yang terganggu.
Namun menurutnya, gangguan tersebut tidak sebanding dengan penderitaan yang selama ini dialami korban banjir.
“Demi kepentingan yang lebih besar, kita maklumi saja. Ini konsekuensi dari pekerjaan besar untuk mengurangi banjir yang selama ini menyulitkan masyarakat,” ujarnya.
Nada satir pun muncul dari kalangan warga. Mereka menyebut suara excavator mungkin berisik, tetapi masih jauh lebih “ramah” dibanding suara perabotan rumah yang hanyut atau sirene evakuasi ketika banjir datang tengah malam.
68 Ribu Korban Banjir Menaruh Harapan Besar
Data yang dihimpun KP2C menunjukkan sedikitnya sekitar 68 ribu warga terdampak banjir di kawasan DAS Cileungsi-Cikeas. Jumlah tersebut menggambarkan betapa besar dampak persoalan banjir yang selama ini menghantui kawasan pertemuan Sungai Cileungsi, Sungai Cikeas, hingga Kali Bekasi.
Karena itu, KP2C menilai program normalisasi sungai dan pembangunan tanggul harus didukung seluruh pihak agar dapat berjalan sesuai target.
Bukan hanya pengerukan dan tanggul, KP2C juga mendukung rencana BBWSCC membangun delapan kolam retensi di wilayah Sungai Cileungsi, Sungai Cikeas, dan Kali Bekasi. Infrastruktur tersebut diyakini dapat menahan limpasan air saat curah hujan tinggi sehingga mengurangi tekanan terhadap aliran sungai utama.
Selama bertahun-tahun, sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi sumber kecemasan bagi ribuan keluarga. Setiap kali awan gelap menggantung, warga dihantui pertanyaan yang sama: “Air bakal naik setinggi apa kali ini?”
Karena itu, keberhasilan program pengendalian banjir ini bukan hanya soal proyek fisik, melainkan soal mengembalikan rasa aman masyarakat.
Jika normalisasi sungai, pembangunan tanggul permanen, dan kolam retensi dapat diselesaikan sesuai rencana, maka harapan besar warga Bojongkulur dan kawasan hilir lainnya untuk hidup aman, nyaman, dan bebas dari banjir tahunan bukan lagi sekadar mimpi.
Yang dibutuhkan berikutnya adalah dukungan masyarakat, pengawasan bersama, dan konsistensi pemerintah agar proyek ini tidak berhenti di tengah jalan. Sebab bagi puluhan ribu warga yang selama ini menjadi korban banjir, setiap meter sungai yang dikeruk adalah satu langkah lebih dekat menuju akhir dari mimpi buruk yang berlangsung bertahun-tahun.***













