Scroll untuk baca artikel
Opini

Ketika Murid Melampaui Guru: Pelajaran Vietnam untuk Indonesia

×

Ketika Murid Melampaui Guru: Pelajaran Vietnam untuk Indonesia

Sebarkan artikel ini
foto ilustrasi

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku,

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sejarah sering berjalan dengan cara yang sunyi. Ia tidak selalu menghadirkan perubahan melalui ledakan revolusi atau gegap gempita pidato-pidato besar. Lebih sering, sejarah bergerak perlahan melalui keberanian mengakui kelemahan, kesediaan belajar, dan ketekunan menjalankan perubahan secara konsisten.

Vietnam adalah salah satu kisah tentang itu.

Hingga dekade 1980-an, Vietnam bukan negeri yang dipandang sebagai contoh keberhasilan ekonomi. Perang memang telah usai, tetapi damai belum berarti kemakmuran. Negeri yang memenangkan peperangan justru kalah menghadapi kenyataan ekonomi.

Inflasi meroket, produksi pangan tertinggal, industri lumpuh, barang kebutuhan pokok langka, dan jutaan rakyat hidup dalam keterbatasan. Sistem ekonomi yang terlalu tersentralisasi membuat produktivitas rendah dan mematikan inisiatif masyarakat. Banyak petani bekerja keras tanpa pernah yakin bahwa hasil panennya benar-benar akan mengubah nasib keluarganya.

Bahkan, pada masa itu, tidak banyak yang membayangkan Vietnam kelak akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi paling dinamis di Asia.

Namun justru dari titik terendah itulah keberanian lahir.

Berani Mengakui Cara Lama Tidak Lagi Bekerja

Tahun 1986 menjadi titik balik.

BACA JUGA :  Naturalisasi: Nasionalisme Indies, dan Terapi Luka Sejarah

Melalui kebijakan Đổi Mới pembaruan Vietnam melakukan sesuatu yang sering kali paling sulit dilakukan sebuah negara: mengakui bahwa sistem lama tidak lagi mampu menjawab tantangan zaman.

Keberanian terbesar bukanlah mengganti ideologi, melainkan mengubah cara bekerja.

Vietnam tidak meninggalkan negara sebagai pengarah pembangunan. Sebaliknya, negara tetap hadir, tetapi lebih cerdas. Pemerintah mulai memberi ruang bagi kreativitas masyarakat, membuka pasar, memperbaiki iklim usaha, dan mengubah birokrasi dari penghambat menjadi fasilitator pembangunan.

Yang diubah bukan tujuan akhirnya yakni kesejahteraan rakyat melainkan cara mencapainya.

Revolusi Dimulai dari Sawah, Bukan dari Gedung Pencakar Langit

Banyak negara berkembang terpesona oleh simbol modernitas: kawasan bisnis, gedung tinggi, atau proyek-proyek raksasa.

Vietnam memilih jalan berbeda.

Mereka memahami bahwa tidak ada industri yang kuat jika rakyat masih kesulitan memperoleh pangan. Tidak ada ekonomi modern jika petaninya tetap miskin.

Karena itu, revolusi dimulai dari sawah.

Hak pengelolaan lahan diberikan kepada keluarga petani dalam jangka panjang. Kepastian hak itu mengubah cara pandang petani terhadap pekerjaannya. Mereka tidak lagi sekadar memenuhi kewajiban kepada negara, tetapi mulai melihat pertanian sebagai usaha yang layak dikembangkan.

BACA JUGA :  World Surf League QS500, Diikuti  14 Negara

Namun Vietnam juga sadar, reforma agraria tanpa peningkatan kapasitas hanya akan menghasilkan pembagian kemiskinan.

Karena itu negara membangun keseluruhan ekosistem pertanian.

Penyuluhan diperkuat hingga tingkat desa. Benih unggul diperkenalkan. Sistem irigasi diperbaiki. Kredit diperluas. Jalan produksi dibangun. Teknologi diperkenalkan. Hubungan petani dengan pasar dipermudah.

Negara tidak sekadar meminta petani bekerja lebih keras.

Negara memastikan kerja keras itu menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Belajar kepada Indonesia

Ada ironi sejarah yang sering terlupakan.

Ketika Vietnam mulai membangun kembali sektor pertaniannya, mereka mempelajari Indonesia.

Saat itu Indonesia dikenal sebagai salah satu contoh keberhasilan pembangunan pangan di Asia.

Program Bimas, Inmas, pembangunan jaringan irigasi, penyuluhan pertanian, penggunaan varietas unggul, hingga keberhasilan mencapai swasembada beras tahun 1984 menjadi rujukan penting bagi Vietnam.

Vietnam tidak menyalin seluruh kebijakan Indonesia.

Mereka mengambil ruhnya.

Bahwa petani membutuhkan kepastian hukum.

Bahwa ilmu pengetahuan harus hadir di sawah.

Bahwa negara wajib membangun infrastruktur.

Bahwa pasar harus terbuka.

Bahwa keberhasilan pertanian tidak lahir dari pidato, melainkan dari kebijakan yang konsisten.

BACA JUGA :  Indonesia Menuju Presiden Dewan HAM PBB 2026, Tantangan Berat di Dalam Negeri

Pelajaran itu mereka sesuaikan dengan kondisi nasional mereka sendiri.

Hasilnya kini diketahui dunia.

Negeri yang dahulu mengimpor beras berubah menjadi salah satu pengekspor beras terbesar dunia.

Dari Sawah Menuju Pabrik

Setelah fondasi pangan kokoh, Vietnam tidak berhenti.

Mereka memahami bahwa negara tidak mungkin menjadi maju hanya dengan menjual hasil pertanian.

Nilai tambah harus diciptakan.

Industrialisasi pun dipercepat.

Tetapi lagi-lagi dilakukan secara sistematis.

Kawasan industri dibangun dekat pelabuhan.

Listrik dipastikan tersedia.

Logistik dipercepat.

Perizinan dipangkas.

Kepastian hukum diperkuat.

Investasi asing dipersilakan masuk, bukan sebagai tamu yang sekadar membawa modal, melainkan sebagai mitra yang ikut mentransfer teknologi, pengetahuan, dan budaya kerja.

Vietnam tidak menjadikan tenaga kerja murah sebagai satu-satunya daya tarik.

Mereka membangun tenaga kerja yang semakin terampil melalui pendidikan vokasi dan pelatihan industri.

Karena mereka memahami bahwa upah murah hanya memenangkan persaingan hari ini.

Kualitas manusialah yang memenangkan masa depan.

Kesinambungan: Faktor yang Sering Dilupakan

Ada satu kekuatan Vietnam yang sering luput dari perhatian.