LAMPUNG TIMUR — Jika berbicara sejarah Lampung, sebagian besar orang akan langsung mengingat Keratuan Darah Putih, Melinting, atau Skala Brak. Namun di jantung Kabupaten Lampung Timur, tepatnya di wilayah Sekampung Udik dan Marga Sekampung, masih hidup sebuah kisah panjang yang diwariskan lintas generasi: Kebandaran Sekappung Limo Migo.
Bukan sekadar silsilah keluarga. Bukan pula sekadar cerita turun-temurun yang selesai saat kopi di ruang tamu habis diminum. Ia adalah mata rantai sejarah yang masih dipelihara melalui dokumen silsilah, gelar adat, makam leluhur, hingga tradisi yang terus dijalankan masyarakat adat.
Kalau sejarah diibaratkan sebuah rumah, maka arsip adalah temboknya, sementara ingatan para tetua adat adalah fondasinya. Ironisnya, di zaman sekarang orang lebih mudah percaya video berdurasi 30 detik dibanding cerita yang dijaga selama ratusan tahun.
Dari Keratuan Pugung Menuju Kekosongan Kekuasaan
Menurut tradisi sejarah yang berkembang di kalangan masyarakat adat Sekappung Limo Migo, perjalanan bermula dari Keratuan Pugung (Galuh) yang diyakini pernah menjadi salah satu pusat kekuasaan tua di wilayah Lampung.
Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, setelah terjadinya pernikahan Putri Sinar Alam dan Putri Sinar Kaca, Keratuan Pugung mengalami masa surut hingga menyebabkan kekosongan kepemimpinan atau vacuum of power. Kekosongan itu diyakini memicu kekacauan sosial di wilayah Sekampung.
Dalam situasi tersebut, muncul sosok Rio Betung Sengawan, yang dalam silsilah adat disebut sebagai tokoh penting yang kemudian mengembalikan tatanan pemerintahan masyarakat.
Ketika Islam Mengubah Peta Politik Nusantara
Memasuki masa berkembangnya Islam di Nusantara, perubahan besar terjadi di berbagai kerajaan Hindu-Buddha.
Salah satu kekuatan yang berkembang saat itu adalah Kesultanan Banten, yang pengaruh politiknya menjangkau wilayah Lampung.
Menurut dokumen dan tradisi yang dimiliki Kebandaran Sekappung Limo Migo, Kesultanan Banten kemudian memberikan mandat kepada Keratuan Darah Putih untuk memimpin wilayah Sekampung.
Mandat tersebut diyakini tercermin dalam sebuah stempel logam bertuliskan huruf Arab yang digunakan oleh Raden Intan I bergelar Dalom Kesuma Ratu.
Tulisan pada stempel tersebut berbunyi:
Dalom Kesuma Ratu
Dari Yang Perintah Negeri Banten
Kepala di Sekampung
Bagi masyarakat adat, stempel itu bukan sekadar cap administrasi. Ia menjadi simbol legitimasi politik sekaligus hubungan antara Kesultanan Banten dengan pemerintahan lokal di Sekampung.
Lahirnya Kebandaran Sekappung Limo Migo
Sejarah kemudian mencatat terjadinya perkawinan politik antara Radin Suromawo, keturunan Rio Betung Sengawan, dengan Radin Putri, keturunan Keratuan Darah Putih.
Dari penyatuan dua garis keturunan inilah, menurut silsilah adat, lahir kepemimpinan Kebandaran Marga Sekappung Limo Migo.
Perkawinan itu bukan hanya menyatukan dua keluarga besar, melainkan juga menjadi simbol penyatuan legitimasi pemerintahan dan adat di wilayah Sekampung.
Datangnya Belanda, Lahir Dua Matahari
Perubahan kembali terjadi ketika kolonial Belanda masuk ke Lampung.
Pemerintah Hindia Belanda membentuk Pesirah Marga Sekampung Udik sebagai sistem administrasi pemerintahan kolonial.
Sejak saat itu, masyarakat Sekampung mengenal dua bentuk kepemimpinan yang berjalan berdampingan.
Yang pertama adalah pemerintahan administratif yang dipimpin Pesirah Marga.
Yang kedua adalah pemerintahan adat yang tetap berada di bawah kepemimpinan Bandar Marga Sekappung Limo Migo.
Kalau memakai bahasa sekarang, satu mengurus stempel pemerintahan, satu lagi menjaga marwah adat.
Tidak saling berebut kursi. Karena kursinya memang berbeda.
Kecamatan Berganti, Adat Tetap Berdiri
Seiring perjalanan waktu, sistem marga dihapus dan berubah menjadi sistem kecamatan.













