Lalu bergabung ke harian _Sinar Indonesia Baru_ (SIB) saat terbit 9 Mei 1970, bersama Nazar Effendy Erde, M. Zaki Abdullah, Rifyan Ganie, dan A.F. Tahir Syam. Kariernya SIB sampai redaktur pelaksana (1985), lalu pindah sebagai redaktur pelaksana harian Prioritas Jakarta, milik Surya Paloh. Karena sikap pemilik dan pengelola harian berwarna pertama di Indonesia lantang kepada Orde Baru dan diperingatkan berkali-kali, akhirnya surat izin usaha penerbitan pers alias pisau guillotine itu dikeluarkan. Matilah koran ikonik ini. Umurnya hanya berbelas bulan. Bambang Soesatyo, Ketua DPR RI lalu kini Ketua MPR RI, adalah salah satu wartawannya. Panda Nababan wakil pemimpin umumnya. Wina dan BEW redaktur khusus. BEW, yang selalu berani dalam tulisan-tulisannya zaman di Medan, seperti mendapat taman bermain di situ.
Setelah Menteri Penerangan Harmoko menutup napas Prioritas, medio 1988, almarhum kembali lagi ke Medan. Jabatan pemimpin redaksi mingguan Bintang Sport & Film menanti.
BACA JUGA: Benny BP2MI Minta Jokowi Tegakkan Hukum, Apa Presiden Berani?
Awal 1990, Bambang kembali diajak Surya ke Media Indonesia yang baru diakuisisi dari pemilik lama, Teuku Youslisyah.
Lagi-lagi BEW didapuk sebagai redaktur khusus. Akhirnya, sejak 1 Juni 1993, takdir membawa BEW ke Lampung, menjadi pemimpin umum/pemimpin redaksi Harian Lampung Post, sampai akhir hayat. Menyatu dengan Lampung.
1998, Buras dirilis. Sebelumnya, tulisan BEW berat isinya walau ditulis mengalir. Laporan Bank Indonesia 8 halaman seukuran koran, angka semua, ditulis sangat lincah. Artikel satu halaman tersebut dimulai dari filsuf Cicero melihat kemiskinan. Itu tulisan pertama BEW yang kukenal dan saya langsung kesengsem: nih orang jago banget sih.
BACA JUGA: Firli Bahuri, Anies Baswedan dan Kegilaan Adam Wahab
Buras lalu mengalir tiap hari dari ujung penanya. Idenya menggelegak. “Buras itu omong kosong di lapak tuak, Her. Macam koyo-koyo (bualan) gitulah,” ujarnya. Jelas ini ungkapan merendah.
Tulisan yang baik memang menerjemahkan keruwetan jadi seenteng kapas. Bukan cuma ringan, tapi jenaka juga. Kelas advance: bagaimana ide tidak membebani gaya, tapi gaya tidak menyebal dari ide. Level empu yang mampu sesungguhnya.
Kalau mati angin, saya sering dipanggil ke ruangan kerja beliau. Bergurau berdua. Sama-sama semau-maunya. Saling lepas kelakar.
Sekitar 20 tahun lalu, saya membuat rumah pertama, saya tempati sampai sekarang. Rumah satu-satunya milikku malah. Sampailah info itu ke telinganya. Saya disapa. “Her, kau buat rumah bagus ya?”
BACA JUGA: G20, Apa Yang Kita Harapkan?
Iya, Pak, 1 M. “Oya, banyak duit kau ya.” Jelas dong, Pak. Rumah saya satu m, kalau 2 m ya namanya rummah, jika 3 m tentu saja rummmah….






