Scroll untuk baca artikel
Budaya

Jejak Wali Unang di Tepian Way Sekampung: Dakwah Tak Pernah Mati, Makamnya Tak Pernah Sepi Diziarahi

×

Jejak Wali Unang di Tepian Way Sekampung: Dakwah Tak Pernah Mati, Makamnya Tak Pernah Sepi Diziarahi

Sebarkan artikel ini
Makam Wali Unang di Sekampung Udik, Lampung Timur - foto dok

Di dalam cungkup makam, beberapa pusara tua tertata sederhana, diselimuti kain putih. Sesekali terdengar lirih doa yang dipanjatkan para peziarah yang datang dari berbagai daerah. Tak ada hiruk-pikuk. Yang terasa justru keheningan yang mengajak siapa pun untuk merenung tentang perjalanan hidup dan jasa para pendahulu dalam menyebarkan cahaya Islam di Bumi Lampung.

Bagi masyarakat adat Sekappung Limo Migo, sosok Wali Unang bukan hanya dikenang sebagai ulama penyebar agama, tetapi juga sebagai leluhur yang meninggalkan jejak keteladanan. Hingga kini, menurut penuturan para tokoh masyarakat, garis keturunan Wali Unang dipercaya telah menyebar di berbagai wilayah Sekappung Limo Migo, hidup berdampingan dengan masyarakat, menjaga adat, serta terus merawat nilai-nilai keislaman yang diwariskan turun-temurun.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Seorang tetua kampung bahkan sempat berucap dengan senyum khas orang tua yang sarat makna.

“Kalau ingin mencari karomah wali, jangan hanya lihat makamnya. Lihatlah apakah ajaran dan akhlaknya masih hidup di anak cucunya. Di situlah karomah yang paling panjang usianya.”

Kalimat sederhana itu mengingatkan bahwa kemuliaan seorang wali bukan terletak pada banyaknya orang yang datang berziarah, melainkan pada ilmu, akhlak, dan keteladanan yang tetap hidup meski berabad-abad telah berlalu.

BACA JUGA :  Jangan Kalah Lawan Mafia Tambang di Waway Karya, BPAN: Camat Tak Boleh Ada Tebang Pilih

Di tepian Way Sekampung itulah, sejarah, adat, dan agama seakan bertemu dalam satu ruang yang sama. Sebuah warisan yang tidak hanya layak diziarahi, tetapi juga dipelajari dan dijaga oleh generasi berikutnya.***

Catatan redaksi: Naskah ini memadukan tradisi lisan masyarakat dengan nuansa feature religius. Bagian yang berkaitan dengan riwayat Wali Unang, Rio Lanang Kunno, serta kisah hubungan dengan Keratuan Darah Putih merupakan narasi yang bersumber dari cerita tutur masyarakat dan belum seluruhnya memiliki verifikasi dalam sumber sejarah tertulis. Untuk menjaga akurasi jurnalistik, sebaiknya tambahkan keterangan dari tokoh adat, sejarawan Lampung, atau akademisi yang meneliti sejarah Islam di Lampung Timur.***