Scroll untuk baca artikel
Budaya

Tak Lekang Dimakan Zaman: Dodol Sukajaya, Resep Kekeluargaan yang Lebih Panjang Umurnya dari Janji Kampanye

×

Tak Lekang Dimakan Zaman: Dodol Sukajaya, Resep Kekeluargaan yang Lebih Panjang Umurnya dari Janji Kampanye

Sebarkan artikel ini
Tak Lekang Dimakan Zaman: Dodol Sukajaya, Anak Ratu Aji, Lampung Tengah, Tradisi Manis yang Lebih Kokoh dari Janji-janji Pembangunan

LAMPUNG TENGAH — Di banyak tempat, tradisi perlahan memudar seperti cat pagar yang tak pernah disentuh kuas. Di Kampung Sukajaya, Anak Ratu Aji, Lampung Tengah, aroma santan dan gula merah dari dodol masih bekerja sebagai perekat sosial yang jauh lebih ampuh daripada rapat-rapat pembangunan yang seringnya hanya menghasilkan spanduk.

Rabu, 3 Desember 2025, halaman rumah seorang tokoh agama mendadak berubah menjadi dapur rakyat. Kuali besar berjejer di atas tungku bata, kayu menyala, dan warga dari segala umur tampak seperti pasukan kuliner yang sudah terlatih menghadapi satu tantangan abadi membuat dodol atau yang akrab disebut jenang secara massal.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Ini bukan sekadar memasak. Ini ritual. Ini identitas. Ini “siaran langsung” budaya gotong royong yang masih lurus berdiri meski dunia luar sudah sibuk dengan gawai dan gimik digital.

Di Sukajaya, Dodol Tidak Dibuat. Ia Diperjuangkan.

Sejak pagi, para lelaki sibuk mengaduk adonan, mengayunkan dayung kayu seperti sedang bertarung dengan raksasa manis bernama dodol. Ibu-ibu meracik bahan baku, santan dari kelapa tua yang baru diparut, gula merah yang disisir halus, tepung ketan hasil tumbukan, sampai daun pandan yang memberi aroma “pulang ke kampung halaman”.

BACA JUGA :  Mengunjungi Sade, Dusun Budaya Suku Sasak Lombok

“Kalau ada hajatan, kita semua turun tangan. Bikin dodol itu bukan soal rasa, tapi soal kebersamaan,” kata Edi, warga yang sudah dua dekade menjadi “tenaga ahli tidak bergaji” dalam urusan dodol kampung.

Pengadukan berlangsung 5–7 jam. Tanpa henti. Tanpa boleh lengah. Ini adalah olahraga ekstrem yang tidak pernah disiarkan TV nasional, padahal jelas lebih berkeringat dari zumba.

Semakin siang, adonan menghitam, mengilap, dan mengeluarkan suara “pletup-pletup” kecil tanda bahwa kandungan air berkurang dan legit mulai mengambil alih.

Saat teksturnya berat seperti mengaduk lem perekat bangunan, di situlah semangat gotong royong diuji. Yang muda menggantikan yang tua, yang tua menyemangati yang muda, dan anak-anak berlarian sambil menunggu bagian paling penting, mencicipi sisa-sisa adonan yang menempel di spatula.

Resep Tradisional: Sederhana, Tapi Tidak Bisa Diburu Cepat

Menurut Edi, proses lengkapnya tidak pernah berubah sejak para leluhur membuka kampung:

BACA JUGA :  Bhabinsa Ditujah Hingga Terluka Bagian Tangan di Seputih Surabaya

Bahan Utama:

  • Tepung ketan dari beras ketan yang ditumbuk
  • Gula merah + sedikit gula pasir
  • Santan kental & santan encer
  • Garam secukupnya
  • Daun pandan

Langkah Tradisional:

  1. Santan diperas dari kelapa tua bukan dari kemasan.
  2. Gula merah disisir dan direbus, disaring agar bersih.
  3. Tepung ketan dimasukkan perlahan agar tidak menggumpal.
  4. Adonan dimasak dalam kuali besar, diaduk bergantian selama berjam-jam dengan api stabil.
  5. Adonan matang ketika licin, kenyal, mengilap, dan tidak menempel di tangan.
  6. Didinginkan di loyang, dipotong kotak atau balok, dan dibungkus sesuai tradisi.

“Prosesnya lama, tapi hasilnya lebih legit dan berminyak alami. Itu ciri khas dodol kampung,” ujar Edi, dengan nada bangga khas seseorang yang tahu bahwa ilmu ini tidak akan Anda temukan di resep instan mana pun.

Lebih dari Sekadar Penganan: Dodol sebagai Simbol Keteguhan

Bagi warga Sukajaya, dodol bukan hanya makanan penutup untuk pernikahan. Ia adalah simbol:

  • Syukur kepada tamu undangan,
  • Keberkahan bagi keluarga yang berhajat,
  • Silaturahmi antarwarga,
  • Dan lebih penting lagi, pengingat bahwa tradisi tak perlu kalah dari perkembangan zaman.
BACA JUGA :  Wat-wat Gawoh, Pipis Sembarangan Warga Seputih Banyak Kena Bogem Anak Punk

“Zaman berubah, tapi kalau tradisi hilang, kampung ini kehilangan rohnya,” ujar seorang tokoh masyarakat sambil memandangi adonan yang terus diaduk.

Di saat banyak tradisi di daerah lain hanya tinggal arsip foto, Sukajaya menolak menyerah. Mereka mempertahankan ritual sederhana yang tidak menghasilkan uang, tetapi menghasilkan sesuatu yang jauh lebih mahal harganya: rasa memiliki.

Dodol: Manisnya Rasa, Manisnya Kebersamaan

Dengan berakhirnya proses pembuatan dodol hari itu, warga tinggal menanti puncak acara pernikahan yang digelar beberapa hari lagi. Tapi jujur saja, pesta itu hanyalah babak akhir.

Babak yang paling bermakna justru terjadi di dapur besar tadi, di antara tawa, kepulan asap, tangan pegal, dan aroma gula merah yang menempel di udara seperti kenangan yang enggan pergi.

Di Sukajaya, dodol adalah bukti bahwa kebersamaan tidak lekang dimakan zaman dan kalau pun ada yang meleleh, itu hanya adonannya, bukan tradisinya.***