Scroll untuk baca artikel
Opini

Trump, Xi, dan Dunia yang Diam-Diam Dikuasai Korporasi

×

Trump, Xi, dan Dunia yang Diam-Diam Dikuasai Korporasi

Sebarkan artikel ini
Bobby Ciputra Ketua AMSI (Angkatan Muda Sosialis Indonesia)

Maka ketegangan dipelihara, tetapi konflik total dihindari.

Karena di balik pidato nasionalisme masing-masing negara, para korporasi tetap harus untung.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Itulah sebabnya pertemuan Trump-Xi terasa seperti perundingan bisnis bernilai raksasa, bukan sekadar diplomasi antar kepala negara.

Indonesia: Kaya Sumber Daya, Tapi Belum Tentu Berdaulat

Di sinilah posisi Indonesia menjadi sangat penting sekaligus rawan.

Sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia, Indonesia kini berada tepat di pusat perebutan rantai pasok kendaraan listrik dan teknologi AI global.

Nikel hari ini bukan lagi sekadar bahan tambang. Ia sudah berubah menjadi instrumen geopolitik.

BACA JUGA :  Trump Adu Mulut dengan Presiden Ukraina, Berujung Pengusiran Zelensky dari Gedung Putih

Ketika Trump dan Xi berbicara soal rare earth, AI, baterai, dan industri teknologi di Beijing, sesungguhnya mereka juga sedang membicarakan masa depan Indonesia—tanpa Indonesia duduk penuh di meja pengambilan keputusan.

Ini persoalan serius.

Karena negara-negara Global South seperti Indonesia berpotensi hanya menjadi “ladang bahan baku” dalam perang ekonomi dua kekuatan besar.

Kita menjual mineral mentah, sementara nilai tambah industri tetap dinikmati negara maju dan korporasi global.

Ironinya, kita sering merasa berdaulat hanya karena punya sumber daya. Padahal dalam ekonomi global modern, yang menentukan kekuatan bukan siapa yang punya bahan mentah—tetapi siapa yang menguasai teknologi, pasar, pembiayaan, dan rantai distribusi.

BACA JUGA :  Pelaku Penembakan Kandidat Capres AS Tewas, Trump Aman Mesti Mengalami Luka Bagian Telinga

Dunia Baru Sedang Dibentuk, Tapi Tidak Semua Negara Diberi Kursi

Inilah problem terbesar tatanan global hari ini.

Keputusan-keputusan strategis dunia semakin sering lahir dari ruang tertutup yang mempertemukan elite politik dan elite korporasi.

Negara-negara berkembang hanya menerima dampaknya.

Harga komoditas berubah. Investasi berpindah. Teknologi dibatasi. Jalur perdagangan diatur. Tetapi banyak negara tidak pernah benar-benar ikut menentukan aturan mainnya.

Demokrasi global perlahan berubah menjadi oligarki global.

Dan jika negara-negara seperti Indonesia tidak memperkuat kemandirian industri, diversifikasi mitra strategis, dan keberanian diplomasi ekonomi, maka kita hanya akan menjadi penonton dalam permainan raksasa yang menentukan masa depan dunia.

BACA JUGA :  Xi Jinping dan Donald Trump Bertemu di Beijing, Dunia Menanti: Dari Perang Dagang hingga Ancaman Taiwan

Pertemuan Trump dan Xi di Beijing memberi satu pelajaran penting: dunia sedang berubah sangat cepat.

Kedaulatan hari ini tidak cukup dijaga dengan tentara dan bendera. Kedaulatan kini ditentukan oleh siapa yang mengendalikan teknologi, data, energi, rantai pasok, dan modal global.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah negara masih berdaulat.

Tetapi: seberapa besar negara masih mampu mengatakan “tidak” kepada pasar global yang semakin kuat daripada pemerintah itu sendiri.***