“Beberapa laporan menyampaikan partisipasinya cukup tinggi, ada yang sampai 90 sampai 95 persen. Itu secara umum saja karena belum secara real penghitungan partisipasinya,” ujar Hudaya saat memantau pelaksanaan Pilkades secara virtual dari Command Centre Diskominfosantik, Kompleks Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat.
Menurut Hudaya, tingginya partisipasi tidak lepas dari kedekatan emosional antara calon kepala desa dan masyarakat.
Pilkades, kata dia, memiliki karakteristik berbeda karena calon dan pemilih umumnya berada dalam lingkungan sosial yang sama.
Bahkan, warga yang bekerja di luar daerah disebut rela pulang untuk menggunakan hak pilihnya.
“Biasanya kalau Pilkades partisipasinya tinggi karena hubungan emosional antara yang dipilih dengan yang memilih lebih dekat,” katanya.
Dalam konteks Lambangsari, kedekatan itu bertemu dengan sejarah politik lokal yang cukup panjang. Yaceu bukan nama baru bagi masyarakat desa. Ia pernah memimpin, kalah, kemudian kembali bertarung.
Dan kali ini, kursi yang pernah lepas delapan tahun lalu berhasil direbut kembali.
Puting Beliung hingga TPS Digital
Pelaksanaan Pilkades Serentak Kabupaten Bekasi 2026 juga tidak sepenuhnya berjalan tanpa gangguan.
Salah satu kendala terjadi di TPS Desa Sukamukti, Kecamatan Bojongmangu, yang terdampak angin puting beliung sekitar pukul 12.15 WIB.
Namun, menurut Pemkab Bekasi, kejadian tersebut tidak mengganggu proses pemungutan maupun penghitungan suara. Angin disebut hanya merusak bagian tenda TPS, sedangkan surat suara tetap aman.
“Surat-surat suara tidak ada yang terkena angin puting beliung, cuma tendanya saja. Bahkan, penghitungan di desa tersebut sudah selesai,” kata Hudaya.
Selain kondisi lapangan, Pilkades 2026 Kabupaten Bekasi juga menjadi momentum uji coba TPS Digital.
Digitalisasi diterapkan di sejumlah lokasi sebagai bagian dari upaya menguji penggunaan teknologi dalam proses pemilihan kepala desa.
Hudaya mengatakan, secara umum penerapannya berjalan baik. Kendati sempat terjadi kendala teknis di salah satu desa di Kecamatan Cibarusah, persoalan tersebut dapat ditangani tim teknologi informasi yang disiapkan Pemkab Bekasi.
“Setelah dikabari ke tim IT, langsung ditangani dan semuanya berjalan normal kembali,” ujarnya.
Pemkab Bekasi berharap penerapan teknologi tersebut dapat terus dievaluasi dan dikembangkan untuk mendukung proses Pilkades yang lebih efektif.
Namun pada akhirnya, secanggih apa pun TPS-nya, keputusan tetap kembali ke tangan warga di bilik suara.***













