BANDUNG — Tragedi tabrakan kereta yang mengguncang Bekasi akhirnya mendapat respons cepat dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Seluruh biaya pengobatan korban ditanggung penuh, sementara santunan sebesar Rp50 juta disiapkan bagi setiap korban meninggal dunia.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab nyata pemerintah terhadap warganya.
“Semua biaya perawatan korban kami tanggung. Untuk korban meninggal dunia, santunan sebesar Rp50 juta diberikan kepada ahli waris,” ujar Dedi, Selasa (28/4/2026).
Insiden bermula dari situasi yang terdengar sepele namun berujung fatal sebuah taksi listrik mogok tepat di lintasan rel. KRL rute Jakarta–Bekasi terpaksa berhenti mendadak. Nahas, di saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melaju dari arah belakang dan tabrakan pun tak terhindarkan.
Kalau diibaratkan, ini seperti “rem mendadak di jalan tol tanpa lampu hazard” bedanya, yang terlibat adalah kereta dengan kecepatan tinggi.
Dampak Tragis
Akibat kecelakaan tersebut:
- 14 orang meninggal dunia
- 84 orang mengalami luka-luka
Angka yang tidak kecil, dan jelas bukan sekadar statistik setiap angka adalah nyawa, keluarga, dan cerita yang terputus.
Dedi Mulyadi menyampaikan duka mendalam atas tragedi ini, sekaligus berharap kejadian serupa tidak terulang.
Ia juga mengajak masyarakat Jawa Barat untuk mendoakan para korban dan keluarga yang ditinggalkan agar diberi kekuatan dan ketabahan.
“Semoga ini menjadi kecelakaan terakhir,” ucapnya. ***












