Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Heboh Pertamax Naik Jadi Rp16.250! Ternyata Harga BBM Indonesia Masih Murah Dibanding Negara Tetangga

×

Heboh Pertamax Naik Jadi Rp16.250! Ternyata Harga BBM Indonesia Masih Murah Dibanding Negara Tetangga

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi -Mobil angkot saat melakukan pengecoran BBM dipagi hari jenis Pertalite di SPBU Simpang GSB, Sekampung udik, Lampung Timur, foto diambil Sabtu 11 November 2023- foto dok Wawai News
Foto Ilustrasi - Mobil angkot saat melakukan pengecoran BBM dipagi hari jenis Pertalite di SPBU Simpang GSB, Sekampung udik, Lampung Timur, foto diambil Sabtu 11 November 2023-foto dok wawai news

JAKARTA – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Setiap kali harga di SPBU berubah, dompet langsung siaga dan grup WhatsApp keluarga mendadak ramai. Namun, di tengah keluhan yang muncul, ada satu fakta yang menarik untuk dicermati: Indonesia ternyata masih belum masuk jajaran negara dengan harga BBM termahal di Asia Tenggara.

Gelombang kenaikan harga energi yang melanda sejumlah negara di kawasan tidak bisa dilepaskan dari memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah dunia merangkak naik. Dampaknya terasa hampir di seluruh negara, termasuk Indonesia.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

PT Pertamina (Persero) pun melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi per 10 Juni 2026. Kenaikan paling mencolok terjadi pada Pertamax dan Pertamax Green 95 yang melonjak cukup signifikan dibandingkan harga sebelumnya.

Meski demikian, pemerintah masih mempertahankan harga BBM bersubsidi sehingga Pertalite dan Biosolar tetap menjadi “tameng” bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Daftar Harga BBM Pertamina per 10 Juni 2026

  • Pertamax (RON 92): naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter
  • Pertamax Green 95: naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter
  • Pertamax Turbo: tetap Rp20.750 per liter
  • Dexlite: tetap Rp23.000 per liter
  • Pertamina Dex: tetap Rp24.800 per liter
  • Pertalite: tetap Rp10.000 per liter
  • Biosolar: tetap Rp6.800 per liter
BACA JUGA :  Pemerintah Resmi Naikkan Harga BBM, Begini Daftar Terbaru

Kenaikan tersebut memang membuat sebagian pengendara mengelus dada. Namun jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, posisi Indonesia ternyata masih relatif kompetitif, terutama untuk BBM bersubsidi.

Singapura Masih Rajanya Harga BBM Mahal

Jika ada penghargaan untuk harga BBM paling “premium” di Asia Tenggara, Singapura tampaknya masih sulit disaingi.

Berdasarkan data harga BBM per 8 Juni 2026, bensin di Negeri Singa mencapai sekitar Rp42.971 per liter. Angka itu hampir tiga kali lipat lebih mahal dibanding harga Pertamax terbaru di Indonesia.

Untuk diesel bahkan lebih mencengangkan, mencapai Rp54.301 per liter.

Dengan harga seperti itu, pengendara Indonesia mungkin masih bisa bersyukur ketika melihat angka di dispenser SPBU lokal.

Perbandingan Harga Bensin di Asia Tenggara

NegaraHarga Bensin per Liter
SingapuraRp42.971
LaosRp31.945
ThailandRp28.910
KambojaRp27.761
MyanmarRp25.085
FilipinaRp22.158
MalaysiaRp16.448
Indonesia (Pertamax)Rp16.250

Dari daftar tersebut terlihat bahwa harga Pertamax Indonesia masih sedikit lebih murah dibanding rata-rata harga bensin di Malaysia dan jauh lebih murah dibanding Thailand, Filipina, Laos, maupun Singapura.

BACA JUGA :  Harga Jagung Hancur, Beras Tetap Meroket di Lampung, Petani: Jogetin Aja

Pertalite Masih Jadi “Bintang Utama”

Yang membuat Indonesia berbeda adalah keberadaan BBM bersubsidi.

Saat harga bensin di banyak negara ASEAN sudah berada di kisaran Rp16 ribu hingga Rp43 ribu per liter, masyarakat Indonesia masih dapat membeli Pertalite seharga Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

Inilah yang membuat beban kenaikan harga energi global belum sepenuhnya dirasakan langsung oleh mayoritas pengguna kendaraan di Tanah Air.

Namun di sisi lain, kebijakan subsidi juga menjadi tantangan tersendiri bagi keuangan negara karena pemerintah harus menanggung selisih harga yang tidak sedikit.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Pengamat energi menilai gejolak harga saat ini merupakan dampak langsung dari ketidakpastian geopolitik global.

Ketika kawasan Timur Tengah memanas, pasar langsung bereaksi. Harga minyak mentah naik, biaya distribusi meningkat, dan negara-negara pengimpor energi harus melakukan penyesuaian.

BACA JUGA :  Dihantam Pandemi, Gaido Travel Justru Buka Cabang Baru

Efek domino inilah yang kemudian merambat hingga ke SPBU di berbagai negara, termasuk Asia Tenggara.

Indonesia Masih Relatif Kompetitif

Meski kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green memicu keluhan, jika dilihat dalam konteks regional, harga BBM Indonesia masih tergolong kompetitif.

Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki bantalan berupa subsidi energi yang cukup besar dibanding sebagian negara tetangga.

Namun satu hal yang pasti, baik di Jakarta, Kuala Lumpur, Bangkok, maupun Singapura, para pengendara memiliki kesamaan nasib: setiap kali harga minyak dunia naik, meteran SPBU selalu menjadi perhatian pertama.

Kesimpulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi memang membuat masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam. Namun dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia masih termasuk negara dengan harga BBM yang relatif lebih rendah, terutama karena keberadaan Pertalite dan Biosolar bersubsidi.

Jadi, ketika melihat harga Pertamax Rp16.250 per liter terasa berat, ingatlah bahwa pengendara di Singapura harus membayar hampir Rp43 ribu untuk setiap liter bensin yang mereka isi ke tangki kendaraan. Sebuah pengingat bahwa mahal itu ternyata relatif, tergantung SPBU mana yang sedang kita lihat.