Scroll untuk baca artikel
Agama

KDM Gaungkan Gerakan Kembali ke Surau: Jangan Bangga Masjid Megah Jika Sepi Jamaah

×

KDM Gaungkan Gerakan Kembali ke Surau: Jangan Bangga Masjid Megah Jika Sepi Jamaah

Sebarkan artikel ini
Foto: KDM Gaungkan Gerakan Kembali ke Surau: Jangan Bangga Masjid Megah Jika Sepi Jamaah

BANDUNG – Di tengah tren pembangunan rumah ibadah berarsitektur megah dan menjadi destinasi wisata religi, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi justru melontarkan gagasan yang berbeda.

Alih-alih membangun lebih banyak masjid besar dengan kubah menjulang dan halaman luas, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana memprioritaskan pembangunan tajuk, surau, atau masjid-masjid kecil yang benar-benar hidup bersama masyarakat.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Pesan itu disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Masjid Raya Al Jabbar, Bandung, Selasa (9/6/2026).

Menurut pria yang akrab disapa KDM tersebut, Jawa Barat saat ini tidak kekurangan bangunan masjid megah. Yang dibutuhkan masyarakat justru tempat ibadah yang dekat, mudah dijangkau, dan hadir dalam kehidupan sehari-hari warga.

“Kami ingin membangun masjid yang ada jamaahnya, tempat anak-anak mengaji, tempat rakyat beribadah setiap hari,” ujar KDM.

Bagi Dedi, ukuran bangunan bukanlah ukuran keberhasilan sebuah masjid. Sebab kemakmuran rumah ibadah tidak ditentukan oleh tinggi menara atau luas halaman, melainkan oleh seberapa banyak orang yang datang untuk salat, belajar agama, dan membangun kehidupan sosial di dalamnya.

BACA JUGA :  Menag Tetapkan Idul Adha 20 Juli

Ketika Masjid Berubah Jadi Tempat Rekreasi

Dalam kesempatan tersebut, KDM juga menyoroti fenomena yang menurutnya mulai terjadi di sejumlah tempat, yakni bergesernya fungsi masjid dari pusat spiritualitas menjadi lokasi rekreasi.

Ia menilai rumah ibadah seharusnya menjadi ruang untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar menjadi latar belakang foto yang menarik untuk diunggah ke media sosial.

“Kalau masjid menjadi sarana rekreasi dan bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan menjadi tempat selfie, bukan tempat tafakur,” kata Dedi.

Pernyataan tersebut sontak menjadi perhatian banyak pihak karena menyentuh realitas yang kini sering terlihat di era digital.

Tak sedikit masyarakat yang rela menempuh perjalanan jauh untuk mengunjungi masjid megah demi mengabadikan foto, namun belum tentu rutin mendatangi musala atau surau yang berada beberapa langkah dari rumahnya.

Surau Kecil, Peran Besar

Dedi menjelaskan, program pembangunan tajuk dan surau rakyat nantinya akan dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan berbagai pihak.

BACA JUGA :  Abaikan Aturan Baru Pajak Kendaraan, Kepala Samsat Soekarno-Hatta Bandung Dinonaktifkan Gubernur

Konsep yang diusung bukan sekadar membangun fisik bangunan baru, melainkan menghidupkan ruang-ruang ibadah yang telah ada di tengah masyarakat.

Menurutnya, surau kecil memiliki fungsi sosial dan spiritual yang sangat penting.

Di tempat itulah anak-anak belajar mengaji, warga berkumpul, para lansia beribadah, dan nilai-nilai keagamaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Yang ingin kami bangun adalah tempat ibadah yang benar-benar digunakan masyarakat,” tegasnya.

Tuhan Tidak Tinggal di Bangunan Megah

Dalam refleksi Tahun Baru Islam tersebut, KDM juga mengajak masyarakat memahami kembali hakikat ibadah.

Menurutnya, hubungan manusia dengan Tuhan tidak ditentukan oleh kemewahan tempat yang dikunjungi.

Tafakur dan perenungan spiritual dapat dilakukan di mana saja selama hati mampu menghadirkan keikhlasan.

“Bertafakur bisa di kamar tidur, di bawah pohon, di tepi sawah, di pinggir danau, di gunung, atau di tepi samudra. Tempat tidak memiliki makna jika jiwa tidak menghadirkan Tuhan,” ujarnya.

BACA JUGA :  Sekarang, Ribuan Kitab Hadis Bisa Diakses di Elipski, Ayo Cek

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa agama pada dasarnya mengajarkan kesederhanaan, ketulusan, dan kedekatan batin dengan Sang Pencipta.

Menghidupkan Spirit Islam dari Lingkungan Terkecil

Gagasan membangun surau dan tajuk di lingkungan masyarakat sejatinya bukan hanya soal pembangunan fisik.

Lebih dari itu, program ini menjadi upaya menghidupkan kembali tradisi Islam yang tumbuh dari lingkungan terkecil, dari kampung, gang, dan permukiman warga.

Sebab dalam sejarah panjang masyarakat Nusantara, surau dan musala kecil sering kali menjadi pusat pendidikan, pembentukan karakter, serta tempat lahirnya nilai-nilai kebersamaan.

Di tengah era modern yang serba cepat, KDM tampaknya ingin mengingatkan bahwa membangun peradaban tidak selalu harus dimulai dari bangunan yang besar.

Kadang, perubahan justru lahir dari surau kecil yang setiap hari dipenuhi anak-anak mengaji, warga salat berjamaah, dan masyarakat yang masih menjaga hubungan dengan Tuhannya.

Karena pada akhirnya, kemegahan sebuah masjid bukan diukur dari seberapa tinggi kubahnya menjulang ke langit, melainkan seberapa banyak hati yang sujud di dalamnya.