BANDAR LAMPUNG – Sebuah gagasan menarik muncul dari masyarakat terkait pemanfaatan ruko-ruko di Terminal Kemiling, Kota Bandar Lampung, yang selama ini dinilai belum dimanfaatkan secara optimal dan sebagian kondisinya mulai mengalami kerusakan.
Siswanto, salah seorang warga Bandar Lampung, mengusulkan agar deretan ruko di kawasan Terminal Kemiling disulap menjadi Pusat Ikan Murah Terbesar di Bandar Lampung. Menurutnya, terobosan tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
“Kalau ruko-ruko di Terminal Kemiling dijadikan pusat ikan murah terbesar di Bandar Lampung, termasuk pasar ikan hias, saya yakin masyarakat akan senang dan gembira, terutama ibu-ibu rumah tangga karena bisa mendapatkan kebutuhan ikan dengan harga yang lebih terjangkau,” ujar Slamet salah satu pegiat Ikan Hias di wilayah Bandar Lampung, Minggu (21/6/2026).
Menurutnya, keberadaan pusat ikan murah tidak hanya membantu masyarakat memperoleh bahan pangan bergizi dengan harga terjangkau, tetapi juga berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi dan pendapatan daerah.
Ia menilai Pemerintah Kota Bandar Lampung dapat menjalin kerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mendapatkan dukungan program dan anggaran dari pemerintah pusat.
“Wali Kota Bandar Lampung bisa berkoordinasi dengan Gubernur Lampung dan kementerian terkait untuk menjemput program dan anggaran dari APBN. Kalau ada kemauan, saya yakin peluangnya terbuka,” katanya.
Dari pantauan di lapangan, sejumlah bangunan ruko di Terminal Kemiling terlihat mulai mengalami kerusakan, terutama pada bagian atap dan beberapa fasilitas penunjang lainnya.
Menurutnya, apabila kondisi tersebut dibiarkan tanpa terobosan pemanfaatan, bangunan yang dibangun menggunakan anggaran daerah itu berpotensi semakin terbengkalai.
“Kalau terus dibiarkan, bangunan akan rusak dan akhirnya menjadi aset yang tidak produktif. Padahal, ini bisa menjadi pusat ekonomi baru bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Kota Bandar Lampung berani mengambil langkah strategis dan inovatif untuk memanfaatkan aset daerah demi kepentingan masyarakat luas.
Sebab, menurutnya, pembangunan tidak hanya diukur dari banyaknya bangunan yang berdiri, tetapi dari sejauh mana fasilitas tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Warga tentu lebih senang melihat ruko dipenuhi pedagang ikan dan pembeli yang ramai ketimbang hanya menjadi “monumen sepi” yang setiap tahun menunggu nasib tanpa kepastian.
Karena pada akhirnya, aset daerah yang baik bukanlah bangunan yang megah tetapi kosong, melainkan bangunan yang hidup, produktif, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat.***













