PRINGSEWU – Malam di Pekon Bulukarto, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Sabtu (25/7/2026), berubah menjadi lautan manusia. Sejak senja hingga fajar menyingsing, ribuan warga memilih bertahan di pelataran pertunjukan, larut dalam alunan gamelan, tembang Jawa, dan kisah penuh makna yang dibawakan Ki Dalang Supardi Romo Putra.
Di bawah langit Bulan Suro atau Muharram, pagelaran wayang kulit semalam suntuk kembali digelar sebagai tradisi tahunan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Bukan sekadar tontonan, pertunjukan ini menjadi napas budaya sekaligus ritual spiritual yang terus dijaga masyarakat Bulukarto.
Sanggar Karawitan Mustika Buana dari Ambarawa Pringsewu dipercaya menghidupkan malam sakral tersebut dengan lakon “Wahyu Tohjali”, sebuah kisah yang sarat makna tentang wahyu yang dipercaya turun pada Bulan Suro.
Dalam tradisi kejawen, Wahyu Tohjali diyakini sebagai simbol keselamatan. Konon, mereka yang mampu menyaksikan pertanda wahyu itu akan memperoleh keberkahan, perlindungan, serta keselamatan dalam menjalani kehidupan di dunia hingga akhirat.
Suasana semakin terasa magis ketika denting gamelan mengalun berpadu dengan suara sinden yang memecah keheningan malam. Sorot lampu panggung menari di balik kelir, sementara bayangan tokoh-tokoh wayang bergerak mengikuti kisah yang membuat penonton terpaku hingga dini hari.
Yang membuat suasana semakin istimewa adalah antusiasme masyarakat. Tak hanya warga Bulukarto, masyarakat dari berbagai pekon di sekitar Gadingrejo juga berdatangan. Anak-anak, remaja hingga orang tua duduk berdampingan menikmati setiap adegan yang dimainkan sang dalang.
Di balik kemeriahan itu, sosok Kepala Pekon Bulukarto, Nurdin, turut menjadi perhatian. Kedekatannya dengan masyarakat dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat tradisi bersih desa dan pagelaran wayang kulit tetap lestari serta selalu mendapat dukungan penuh dari warga.
Bagi masyarakat Bulukarto, wayang kulit bukan hanya hiburan. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan, doa bersama agar dijauhkan dari mara bahaya, sekaligus momentum introspeksi diri di Bulan Muharram yang dalam ajaran Islam juga dianjurkan memperbanyak amal kebaikan.
Sejak pagi hingga malam, rangkaian kegiatan telah digelar. Diawali dengan pengajian dan doa bersama, kemudian dilanjutkan berbagai kegiatan masyarakat sebelum mencapai puncaknya pada pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
Acara turut dihadiri Camat Gadingrejo Eko Purwanto, Danramil Gadingrejo Kapten Inf. Rendi Kurniawan, Kapolsek Gadingrejo Iptu Sugiyanto, perwakilan KUA, Babinsa, Bhabinkamtibmas, praja binmas, perangkat pekon, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Dalam sambutannya, Kepala Pekon Bulukarto, Nurdin, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak, terutama para donatur yang telah memberikan dukungan dan sumbangsih sehingga acara bersih desa dan pagelaran wayang kulit ini dapat berlangsung meriah. Tanpa dukungan semua pihak, rasanya sangat sulit menghadirkan kegiatan sebesar ini. Semoga kebersamaan ini terus terjaga dan tradisi leluhur tetap lestari,” ujar Nurdin.
Hingga pertunjukan berakhir menjelang pagi, semangat penonton tak surut sedikit pun. Tepuk tangan, gelak tawa, dan kekaguman terus mengiringi setiap adegan.
Di Bulukarto, Bulan Suro bukan hanya pergantian waktu dalam kalender. Ia menjadi momen ketika budaya, spiritualitas, dan kebersamaan berpadu dalam satu panggung, membuktikan bahwa warisan leluhur masih hidup, dicintai, dan terus dijaga oleh generasi masa kini. ***













