Scroll untuk baca artikel
LAMPUNGLAMPUNG TIMUR

Warga dan Pemuda Dusun 3 Sukadana Ilir Bangkit Lawan Maraknya Pencurian, Ronda Malam Kembali Dihidupkan

×

Warga dan Pemuda Dusun 3 Sukadana Ilir Bangkit Lawan Maraknya Pencurian, Ronda Malam Kembali Dihidupkan

Sebarkan artikel ini
Suasana, Desa Sukadana Ilir saat malam hari, warga dan pemuda terlihat berkeliling kampung dan sebagian menyalakan api, (foto_jali)

LAMPUNG TIMUR – Ketika ayam mulai merasa tidak aman tidur di kandang dan pompa air alias Sanyo mendadak punya “keinginan” untuk pindah rumah, warga Dusun 3, Desa Sukadana Ilir, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, memilih tidak tinggal diam.

Bukan dengan main hakim sendiri. Bukan pula menunggu maling mengetuk pintu terlebih dahulu. Warga memilih cara klasik yang belakangan terasa semakin relevan, ronda malam.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Keresahan akibat sejumlah kasus kehilangan dalam beberapa pekan terakhir mendorong warga, khususnya para pemuda dan bapak-bapak di RT 11, kembali menghidupkan sistem keamanan lingkungan secara bergilir.

Sejumlah warga mengaku kehilangan barang dan hewan peliharaan. Di antara yang dilaporkan hilang adalah ayam dan pompa air (Sanyo).

Kondisi tersebut membuat warga mulai meningkatkan kewaspadaan. Sebab, kalau keamanan kampung hanya mengandalkan gembok dan berharap maling sedang libur, tentu risikonya cukup besar.

Pemuda dan Bapak-Bapak Turun Gunung

Gerakan ronda malam ini berawal dari keresahan warga RT 11 yang kemudian sepakat bahwa keamanan lingkungan tidak bisa hanya dibicarakan dari balik pintu rumah.

Tokoh pemuda Fendy Syaputra menjadi salah satu penggerak kegiatan tersebut. Ia mengajak pemuda dan warga untuk kembali membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

BACA JUGA :  Bermodal Izin Lingkungan, Bangunan Permanen Berdiri di Lahan Register 38 Desa Bandar Agung

Bagi warga, ronda bukan sekadar berjalan keliling kampung sambil membawa senter. Lebih dari itu, ronda menjadi ruang untuk membangun komunikasi, saling mengenal kondisi tetangga, sekaligus mempersempit ruang gerak orang-orang yang berniat melakukan kejahatan.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengamankan lingkungan di sekitar wilayah Dusun 3. Kegiatan dihadiri sebagian besar bapak-bapak dan pemuda Dusun 3,” demikian disampaikan dalam kegiatan warga.

Malam pun tidak lagi hanya menjadi waktu untuk mematikan lampu, menarik selimut, lalu menyerahkan seluruh urusan keamanan kepada orang lain.

Para warga bergiliran menyusuri sejumlah titik permukiman dan lokasi yang dianggap rawan. Mereka memantau situasi sekaligus memastikan lingkungan tetap dalam kondisi aman.

Saat Maling Bikin Warga “Tidak Bisa Nyenyak”

Maraknya kehilangan membuat sebagian warga tentu merasa waswas. Barang yang selama ini dianggap aman di halaman atau sekitar rumah ternyata bisa berubah menjadi incaran.

Ayam yang biasanya berkokok membangunkan pemiliknya, misalnya, justru bisa menjadi “alarm” yang hilang lebih dulu.

Begitu pula pompa air. Barang yang biasanya hanya bertugas mengalirkan air, tiba-tiba harus masuk daftar inventaris keamanan kampung.

Humor tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi keresahan warga sebenarnya bukan perkara sepele.

Kehilangan satu ekor ayam bagi sebagian keluarga bisa berarti kehilangan aset kecil yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Pompa air juga bukan barang yang bisa begitu saja diganti tanpa memikirkan biaya. Karena itu, warga memilih mengubah keresahan menjadi gerakan bersama.

BACA JUGA :  Hari Keenam Pencarian, IWO Lampung Timur Gelar Doa untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

Ronda Bukan Sekadar Keliling Kampung

Semangat warga Dusun 3 menunjukkan bahwa keamanan lingkungan sejatinya bukan hanya urusan aparat kepolisian.

Aparat tetap memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam penegakan hukum. Namun masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan masing-masing, terutama melalui kewaspadaan dan komunikasi. Ronda malam menjadi salah satu bentuk partisipasi tersebut.

Dengan sistem bergilir, warga dapat memantau lingkungan sekaligus mempercepat penyampaian informasi apabila menemukan aktivitas mencurigakan.

Yang paling penting, kegiatan tersebut tidak diarahkan untuk melakukan tindakan main hakim sendiri.

Jika ditemukan sesuatu yang mencurigakan, warga diharapkan segera berkoordinasi dengan perangkat desa maupun pihak kepolisian. Sebab, menjaga kampung bukan berarti berubah menjadi polisi dadakan.

Kebersamaan Jadi “Senjata” Utama

Ada satu hal menarik dari gerakan warga Dusun 3, ronda bukan hanya mempertemukan orang-orang yang sedang berjaga, tetapi juga mempertemukan kembali semangat kebersamaan. Pemuda turun. Bapak-bapak ikut. Warga saling berkoordinasi.

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin sibuk, kegiatan sederhana seperti ronda justru menjadi ruang sosial yang perlahan mulai hilang.

Orang yang biasanya hanya bertemu saat berpapasan di jalan, kini duduk bersama, berbincang dan membicarakan kondisi kampung. Dari situlah kewaspadaan tumbuh.

BACA JUGA :  Desa Wana, Tiyuh Tradisi Budaya Melinting di Tenggara Lampung

Sebab maling mungkin bisa menghindari satu rumah, tetapi akan lebih sulit menghadapi satu kampung yang kompak.

Jangan Tunggu Kampung Sepi Baru Panik

Warga berharap ronda malam dapat dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya muncul ketika kasus pencurian sedang ramai.

Sistem keamanan lingkungan membutuhkan konsistensi. Jadwal ronda yang teratur, komunikasi antarwarga dan koordinasi dengan aparat menjadi bagian penting agar keamanan tidak bergantung pada momentum.

Warga juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dengan kendaraan, barang berharga, hewan peliharaan maupun fasilitas yang berada di luar rumah.

Jika ada orang atau aktivitas yang mencurigakan, masyarakat diminta tidak mengambil tindakan sendiri, melainkan segera melapor kepada perangkat desa atau aparat kepolisian.

Gerakan Dusun 3 Sukadana Ilir pada akhirnya memberi pesan sederhana: keamanan kampung tidak selalu dimulai dari pos polisi atau kamera CCTV mahal. Kadang, ia dimulai dari tetangga yang mau keluar rumah, membawa senter, lalu berkata, “Malam ini kita jaga kampung.”

Dan mungkin, bagi para pelaku pencurian, kabar buruknya sederhana pula, kampung yang sebelumnya dianggap mudah disasar, kini sudah mulai terjaga. ***