Scroll untuk baca artikel
NASIONAL

Gunung Anak Krakatau Meletus Lagi, 10 Kali Erupsi dalam 24 Jam: Dentuman Terdengar hingga Bandung

×

Gunung Anak Krakatau Meletus Lagi, 10 Kali Erupsi dalam 24 Jam: Dentuman Terdengar hingga Bandung

Sebarkan artikel ini
Gunung Anak Krakatau Naik ke Level III Siaga

LAMPUNG SELATAN — Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi. Erupsi terjadi pada Sabtu (5/9/2026) pukul 00.01 WIB, setelah pada hari sebelumnya gunung api di Selat Sunda itu sudah sembilan kali mengalami erupsi.

Dalam rentang kurang dari 24 jam, tercatat 10 kali erupsi, sementara suara dentuman dan gemuruh dilaporkan terdengar dari sejumlah wilayah Banten hingga Jawa Barat, termasuk Bandung.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, Suwarno, membenarkan erupsi terbaru tersebut. Menurutnya, secara visual letusan tidak teramati, tetapi aktivitas erupsi masih berlangsung ketika laporan dibuat.

Pada Jumat (4/9/2026), erupsi tercatat masing-masing pukul 04.11, 04.19, 04.28 dan 05.46 WIB, kemudian kembali terjadi pada pukul 22.03, 22.11, 22.42, 22.53 dan 23.07 WIB.

BACA JUGA :  Semeru Menggeliat! 21 Kali Erupsi dalam 6 Jam, Pendakian Ditutup Total

Pada erupsi pukul 05.46 WIB, kolom abu teramati sekitar 300 meter di atas puncak atau 457 meter di atas permukaan laut, berwarna hitam dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat dan barat laut.

Aktivitas GAK juga diiringi laporan dentuman dan gemuruh berulang yang terdengar hingga Banten dan Jawa Barat. Kepala PVMBG Rita Susilowati mengatakan suara dentuman turut terdengar dari Pos Pengamatan GAK di Pasauran, Banten.

Laporan serupa diterima dari sejumlah wilayah Jawa Barat dan diduga berkaitan dengan aktivitas GAK yang berlangsung pada waktu bersamaan.

Sejumlah warga bahkan melaporkan kaca jendela dan pintu rumah bergetar. Gunung boleh berada di tengah laut, tetapi suaranya rupanya tidak mengenal batas administrasi.

Berdasarkan data laporan Pos Pengamatan GAK, aktivitas gunung api tersebut tergolong tinggi sepanjang Juli hingga awal September 2026.

BACA JUGA :  Ribuan Masyarakat Tuntut IUP PT LIP Dicabut

Sedikitnya 121 kali erupsi tercatat sejak Juli hingga 5 September 2026, terdiri atas 20 erupsi pada Juli, 91 erupsi selama Agustus, dan 10 erupsi pada September hingga Sabtu (5/9/2026).

Tingginya frekuensi tersebut menegaskan bahwa aktivitas GAK masih harus dipantau secara ketat, terlebih status gunung api itu masih berada pada Level III atau Siaga.

Badan Geologi Kementerian ESDM melalui PVMBG mengingatkan masyarakat untuk tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas GAK.

Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar, awan panas, serta hujan abu lebat.

Masyarakat di pesisir Lampung dan Banten diminta tetap tenang, menjalankan aktivitas sesuai kondisi setempat, dan mengikuti arahan BPBD maupun otoritas kebencanaan.

Di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, kondisi warga dilaporkan masih aman dan aktivitas masyarakat berlangsung normal. Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi, Syamsiar, mengatakan suara erupsi masih terdengar, tetapi warga tidak merasakan getaran maupun guncangan yang membuat rumah bergetar.

BACA JUGA :  Erupsi Anak Krakatau Mengintai, Bupati Lampung Timur Perintahkan Jalur Evakuasi dan Logistik Disiapkan

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa suara dentuman yang terdengar jauh tidak otomatis berarti dampak fisiknya sama di setiap wilayah; masyarakat tetap perlu mengandalkan informasi resmi, bukan kepanikan atau spekulasi media sosial.

Dengan aktivitas yang terus berulang, Gunung Anak Krakatau kini bukan sekadar kembali erupsi, tetapi sedang menunjukkan fase aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan serius. Masyarakat dapat memantau perkembangan terbaru melalui kanal resmi PVMBG dan aplikasi MAGMA Indonesia.

Status Siaga jangan diperlakukan seperti lampu kuning di persimpangan yang bisa diterobos ketika jalan terlihat kosong: batas aman dan rekomendasi petugas tetap menjadi pegangan utama.***