LAMPUNG TIMUR – Tanah Lampung Timur ternyata menyimpan lebih banyak cerita daripada yang selama ini terlihat di permukaan. Di balik kehidupan masyarakat dan hamparan wilayahnya, tersimpan jejak peradaban berusia ratusan tahun yang kini mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Empat peninggalan sejarah dari Kabupaten Lampung Timur resmi naik peringkat menjadi Cagar Budaya Nasional (CBN). Bukan benda biasa, keempatnya menyimpan cerita tentang kekuasaan, kepercayaan, kebudayaan, hingga tata kelola perdagangan pada masa lampau.
Keempat benda bersejarah itu adalah Prasasti Bungkuk, Arca Pewujudan Bodhisattva, Arca Megalitik Gunung Langkap, dan Prasasti Dalung Bojong. Penetapan peningkatan peringkat tersebut diputuskan melalui sidang pleno Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nasional di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Pengakuan ini sekaligus menjadi penanda bahwa Lampung Timur bukan sekadar wilayah yang memiliki kekayaan alam dan potensi pertanian. Daerah ini juga menyimpan kepingan penting sejarah peradaban Nusantara.
Di balik keputusan tersebut, ada perjalanan panjang para pegiat pelestarian sejarah. Benda-benda yang sebelumnya berstatus cagar budaya tingkat kabupaten dan provinsi itu akhirnya berhasil menembus pengakuan nasional.
Ketua TACB Provinsi Lampung, Anshori Djausal, menyampaikan apresiasi kepada TACB Nasional dalam sidang pleno yang dipimpin Dr. Junus Satrio Atmojo. Sidang berlangsung secara daring, dengan TACB Nasional mengikuti dari Jakarta, sementara TACB Provinsi Lampung dan TACB Kabupaten Lampung Timur mengikuti dari Ruang Sidang Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung.
Bagi Anshori dan jajaran tim ahli, keputusan tersebut menjadi buah dari perjuangan panjang. Sebab, menaikkan status sebuah benda bersejarah bukan perkara sekadar mengumpulkan benda tua, memotretnya, lalu memberinya label sejarah.
Ada proses penelitian, pengkajian, penelusuran nilai penting, hingga pembuktian bahwa benda tersebut memiliki arti bagi perjalanan kebudayaan bangsa.
Menurut Anshori, keempat peninggalan itu memiliki keistimewaan dan keunikan masing-masing. Nilainya tidak hanya terletak pada usia atau bentuk fisiknya, tetapi juga pada informasi sejarah yang dapat dikembangkan untuk kepentingan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Sidang tersebut dihadiri anggota TACB Provinsi Lampung, yakni Anshori Djausal, Maskun, Diana Lisa, Hermansyah, serta Heni Astuti, M.IP, yang juga menjabat Penjabat Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Lampung.
Dari TACB Kabupaten Lampung Timur hadir Ni Putu Galih Pratiwi, Kian Amboro, Ahmad Hambali, dan Roliyanti, didampingi perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Timur. Turut hadir Ketua Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Lampung, Kuswanto.
Prasasti Bungkuk: Pesan Keras dari Masa Sriwijaya
Salah satu peninggalan yang mendapat pengakuan nasional adalah Prasasti Bungkuk. Sebuah batu andesit yang mungkin sekilas terlihat sederhana, tetapi menyimpan pesan penting tentang kekuasaan dan kehidupan politik pada masa klasik Hindu-Buddha.
Prasasti ini ditemukan pada 25 Maret 1985 di Dusun Karanganyar, Desa Bungkuk, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur.
Berukuran panjang dan lebar masing-masing 63 sentimeter, tinggi 70 sentimeter, serta tebal 25 sentimeter, prasasti tersebut memiliki 13 baris tulisan menggunakan aksara Pallawa dengan bahasa Melayu Kuno.
Sayangnya, sebagian tulisan sudah mengalami kerusakan sehingga tidak seluruh isinya dapat dibaca secara utuh.
Namun, justru dari kepingan tulisan yang tersisa, para ahli menemukan hubungan historis yang menarik. Prasasti Bungkuk memiliki kemiripan dengan Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Karang yang berkaitan dengan Kedatuan Sriwijaya di wilayah Lampung.
Prasasti tersebut memuat sapatha atau kutukan yang berkaitan dengan kekuasaan dan kesetiaan pada masa itu.
Jika hari ini pemerintah menggunakan regulasi, surat keputusan, dan perangkat hukum untuk mengatur kehidupan masyarakat, pada masa Sriwijaya pesan kekuasaan juga dapat disampaikan melalui prasasti batu. Bedanya, dokumen administrasi sekarang bisa tersimpan di lemari arsip, sedangkan pesan dari masa lampau dipahat agar bertahan melintasi zaman.
Kini, Prasasti Bungkuk disimpan di Rumah Informasi Cagar Budaya Nasional di kawasan Taman Purbakala Pugung Raharjo, Lampung Timur.
Arca Bodhisattva: Jejak Kepercayaan dan Pengaruh Majapahit
Peninggalan kedua adalah Arca Pewujudan Bodhisattva, sebuah karya seni batu andesit yang diperkirakan berasal dari abad XIV Masehi.
Arca ini memiliki lebar 46 sentimeter, tinggi 90 sentimeter, dan diameter 65 sentimeter. Kondisinya relatif baik dan memperlihatkan karakter seni serta kepercayaan yang berkembang pada masa Hindu-Buddha.
Secara historis, arca tersebut diduga merupakan perwujudan seorang tokoh penguasa atau bangsawan lokal yang dimuliakan dalam bentuk Bodhisattva.
Penafsiran tersebut antara lain didasarkan pada sikap tangan atau mudra yang disebut bhadragrimudra.
Keberadaan arca ini memperlihatkan adanya hubungan antara masyarakat di wilayah Lampung dengan tradisi keagamaan dan pusat-pusat peradaban Buddha di Jawa.
Pengaruh politik dan kebudayaan Majapahit juga menjadi bagian penting dalam membaca konteks sejarah peninggalan tersebut.
Lebih dari sekadar patung batu, arca ini merupakan rekaman visual tentang bagaimana masyarakat masa lampau mengenal kekuasaan, penghormatan terhadap tokoh, dan ekspresi keagamaan.
Di zaman sekarang, orang mungkin membutuhkan buku sejarah untuk mengenal kebudayaan masa lalu. Namun, masyarakat pada masa itu meninggalkan cerita melalui karya yang dipahat dengan tangan, yang kini menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.
Arca Megalitik Gunung Langkap: Seni Lokal yang Tidak Kehilangan Identitas
Peninggalan ketiga memiliki cerita yang tidak kalah menarik. Awalnya dikenal dengan nama Arca Gramadewata, tetapi setelah melalui kajian dalam rapat pleno, namanya diubah menjadi Arca Megalitik Gunung Langkap, sesuai lokasi penemuannya.
Arca berbahan batu andesit ini memiliki lebar 40 sentimeter, tinggi 100 sentimeter, dan diameter 47 sentimeter. Usianya diperkirakan berasal dari abad XIV hingga XV Masehi.
Bentuknya antropomorfik, menggambarkan sosok laki-laki dalam posisi duduk bersila di atas lapik berbentuk lingkaran polos.
Kondisi arca tergolong baik, meskipun terdapat keausan pada permukaan akibat perjalanan waktu.
Yang menarik, karakter anatominya terlihat kaku, proporsi tubuh tidak naturalistis, sementara ornamen yang digunakan relatif sederhana.
Namun, justru di situlah nilai artistiknya.
Arca tersebut memperlihatkan karakter seni lokal yang memadukan tradisi masyarakat setempat dengan pengaruh ikonografi Hindu-Buddha.
Artinya, kebudayaan masa lampau di Lampung Timur tidak sekadar menjadi penerima pengaruh dari pusat-pusat peradaban besar. Masyarakat lokal juga memiliki cara sendiri dalam menerjemahkan dan mengembangkan ekspresi budayanya.
Sebuah pelajaran menarik bahwa peradaban tidak selalu harus tampil megah untuk memiliki nilai sejarah. Kadang-kadang, bentuk sederhana justru menyimpan cerita panjang tentang identitas sebuah masyarakat.
Prasasti Dalung Bojong
Jika tiga peninggalan sebelumnya memperlihatkan jejak peradaban Hindu-Buddha, Prasasti Dalung Bojong membawa cerita berbeda.













