Ini adalah pengingat bahwa ketika Indonesia mendorong digitalisasi pendidikan, kesiapan infrastrukturnya juga harus ikut diuji.
Jangan sampai anak-anak diminta bersaing di level nasional dengan sistem daring, sementara nasib mereka masih bergantung pada faktor-faktor teknis yang berada di luar kendali mereka.
Karena sesungguhnya, yang paling menyedihkan bukanlah listrik yang padam.
Yang paling menyedihkan adalah ketika mimpi seorang anak ikut padam bersamanya.
Untungnya, Nadya membuktikan satu hal penting.
Meskipun layar komputer mati.
Meskipun koneksi internet terputus.
Meskipun lomba tidak selesai.
Semangat belajar seorang anak bernama Nadya ternyata tetap menyala.
Dan cahaya itu jauh lebih terang daripada listrik yang sempat padam selama empat jam.***












