JAKARTA – Jagat media sosial kembali membuktikan satu hal bahwa di era TikTok dan Instagram, pejabat publik bisa berubah jadi meme nasional hanya dalam hitungan jam. Kali ini yang jadi “korban sekaligus bintang panggung” adalah Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.
Lagu absurd berjudul “My Little Bolu Ketan” mendadak berseliweran di FYP dengan lirik yang terdengar seperti gabungan pujian, gombalan bapak-bapak grup WhatsApp, dan halu kolektif netizen:
“MBG: Mas Bahlil Ganteng, buah apa yang paling manis? Buaaahhlil… tambah ganteng aja, my little bolu ketan…”
Kalau dibaca sekilas memang terdengar seperti candaan receh. Tapi di tangan netizen Indonesia, receh bisa berubah jadi senjata satire massal.
Lagu ini disebut-sebut berasal dari kumpulan komentar warganet yang kemudian dirangkai menjadi audio viral. Hasilnya? Sebuah mahakarya internet yang membuat publik bingung: ini bentuk dukungan tulus, kultus digital, atau justru roasting halus berkedok pujian?
Sekjen Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, memilih santai menanggapi fenomena tersebut. Menurutnya, Golkar tidak merasa terganggu dengan viralnya lagu “Mas Bahlil Ganteng”.
“Lagunya cukup cute dan menghibur. Kalau rakyat senang, Golkar juga senang,” kata Sarmuji kepada wartawan sebagaimana dilansir Wawai News, Jumat (29/5).
Jawaban itu terdengar diplomatis. Tapi publik internet tentu membaca lebih jauh. Sebab di media sosial Indonesia, ketika seorang pejabat mulai dijadikan bahan lagu lucu, biasanya ada dua kemungkinan: sedang dipuja habis-habisan atau justru sedang dijadikan karakter komedi nasional.
Dan netizen Indonesia terkenal tidak pernah benar-benar netral.
Di satu sisi, Golkar menganggap viralnya lagu itu sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras Bahlil dalam menjaga stok BBM dan menghadapi gejolak energi global. Sarmuji juga menyebut masih banyak kinerja Bahlil yang belum terekspos, mulai dari lifting minyak, listrik desa hingga sumur minyak rakyat.
Namun di sisi lain, publik malah lebih hafal “buah apa yang paling manis? Buaaahlil…” ketimbang capaian sektor energi.
Itulah kerasnya politik era digital: kerja teknokratis bisa kalah viral dari satu potongan audio 15 detik.
Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana citra politik sekarang tidak lagi dibentuk lewat pidato formal atau konferensi pers, melainkan lewat meme, remix, sound TikTok, dan candaan absurd yang sulit dibedakan antara dukungan dan ejekan.
Hari ini dipanggil “Mas Bahlil Ganteng”, besok bisa saja berubah jadi template parodi berjilid-jilid.
Karena di internet Indonesia, siapa pun yang terlalu sering muncul di FYP biasanya tidak sedang aman-aman saja.***











