LAMPUNG SELATAN – Banyak orang menghabiskan perjalanan kapal dengan tidur, bermain ponsel, atau menikmati kopi di kantin. Namun bagi Nopianto (35), perjalanan Bakauheni-Merak pada Kamis malam (4/6/2026) berubah menjadi pertarungan hidup dan mati yang bahkan sulit dipercaya jika hanya diceritakan lewat obrolan warung kopi.
Warga Desa Mulyorejo I, Kecamatan Bunga Mayang, Kabupaten Lampung Utara itu terjatuh ke laut saat kapal penyeberangan yang ditumpanginya baru meninggalkan Pelabuhan Bakauheni menuju Merak, Banten.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang mendengar.
Dan yang lebih mengerikan, tidak ada yang tahu bahwa seorang penumpang telah hilang dari kapal yang terus melaju membelah gelapnya Selat Sunda.
Malam itu, Nopianto berdiri di bagian buritan kapal. Seperti banyak penumpang lainnya, ia menikmati pemandangan laut dan kerlip lampu pelabuhan yang perlahan menjauh.
Namun beberapa detik kemudian, sebuah terpeleset mengubah segalanya.
Tubuhnya jatuh ke laut.
Kapal terus berjalan.
Sementara dirinya tertinggal sendirian di tengah perairan yang gelap dan dingin.
“Korban sempat berteriak meminta pertolongan, namun tidak ada yang mengetahui dirinya jatuh dari kapal,” ujar Kasat Polair Polres Lampung Selatan, Iptu Panpan Hermayadi.
Di tengah kegelapan Selat Sunda, teriakan manusia ternyata kalah keras dibanding suara mesin kapal.
Ironisnya, saat ratusan penumpang mungkin sedang asyik bermain media sosial atau tertidur pulas di kursi kapal, seorang pria sedang berjuang agar tidak tenggelam.
Berjam-jam Nopianto terombang-ambing di laut.
Arus membawa tubuhnya menjauh.
Gelombang datang silih berganti.
Namun menyerah bukan pilihan.
Dalam kondisi kelelahan, ia melihat sebuah titik samar di kejauhan. Kelipan mercusuar yang terlihat dari sebuah pulau kecil menjadi satu-satunya harapan yang tersisa.
Tanpa pelampung.
Tanpa perahu.
Tanpa bantuan.
Ia memutuskan berenang.
Keputusan yang mungkin terdengar nekat, tetapi justru menyelamatkan nyawanya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Nopianto berenang menuju Pulau Penjurit, sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang berada di kawasan konservasi perairan Kabupaten Lampung Selatan.
Jaraknya diperkirakan mencapai dua hingga tiga kilometer dari lokasi yang diyakini menjadi titik korban jatuh ke laut.
Setelah perjuangan panjang melawan arus dan kelelahan, ia berhasil mencapai daratan.
Namun perjuangannya belum selesai.
Pulau itu kosong.
Tak ada penduduk.
Tak ada warung.
Tak ada sinyal kehidupan.
Hanya pasir, batu karang, semak belukar, dan seorang manusia yang baru saja lolos dari maut.
Nopianto menghabiskan malam hingga pagi hari seorang diri di pulau tersebut sambil menunggu keajaiban datang.
Dan keajaiban itu benar-benar datang.
Jumat pagi (5/6/2026) sekitar pukul 06.30 WIB, sejumlah nelayan yang sedang memancing melihat sosok pria sendirian di pantai Pulau Penjurit.
Awalnya mereka mengira ada orang yang sedang berkemah atau tersesat.
Namun setelah didekati, mereka baru mengetahui bahwa pria tersebut adalah korban yang terjatuh dari kapal pada malam sebelumnya.
Nelayan kemudian mengevakuasi Nopianto dan melaporkan kejadian tersebut kepada aparat kepolisian.
“Korban ditemukan dalam keadaan selamat oleh warga yang sedang memancing dan selanjutnya diserahkan kepada petugas untuk penanganan lebih lanjut,” kata Panpan.
Polisi kini masih melakukan pendalaman terkait kronologi lengkap kejadian tersebut, termasuk memastikan kapal yang ditumpangi korban serta rangkaian peristiwa sebelum dirinya terjatuh ke laut.
Satpolair Polres Lampung Selatan juga berkoordinasi dengan Ditpolairud Polda Lampung dan Polsek Kawasan Pelabuhan Bakauheni untuk melengkapi data serta memastikan seluruh fakta kejadian.
Sebelum insiden itu terjadi, Nopianto diketahui berangkat dari Bandar Jaya, Lampung Tengah, menggunakan Bus Sari Indah dengan tujuan Yogyakarta.
Siapa sangka, perjalanan antarpulau yang biasanya ditempuh dalam hitungan jam justru berubah menjadi perjalanan bertahan hidup yang akan dikenangnya seumur hidup.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa laut tidak pernah bisa dianggap remeh.
Satu langkah yang salah bisa berubah menjadi bencana.
Namun di sisi lain, kisah Nopianto juga membuktikan bahwa naluri bertahan hidup manusia terkadang jauh lebih kuat daripada yang dibayangkan.
Jika ada penghargaan “penumpang paling tangguh tahun ini”, mungkin namanya layak masuk daftar nominasi.
Sebab ketika sebagian besar orang panik kehilangan sinyal internet selama beberapa menit, Nopianto justru berhasil bertahan semalaman di tengah Selat Sunda dan berenang menuju pulau tak berpenghuni untuk menyelamatkan nyawanya.
Dan yang paling penting, ia masih hidup untuk menceritakan kisah luar biasa tersebut.***












