SUKABUMI – Di negeri yang gemar menggelar lomba untuk mencari anak-anak terbaik, terkadang yang menjadi lawan terbesar bukanlah soal Matematika, IPA, atau logika. Melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: listrik yang tiba-tiba menghilang.
Itulah yang dialami Nadya Putrinda Paramitha, siswi SDN Gandasoli, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang mendadak viral di media sosial setelah videonya menangis karena gagal menyelesaikan Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 menyentuh jutaan hati masyarakat Indonesia.
Bukan karena tidak mampu menjawab soal. Bukan karena kurang belajar. Dan bukan pula karena menyerah di tengah jalan.
Perjuangan berbulan-bulan itu terhenti karena sebuah pemadaman listrik.
Ironisnya, ketika kecerdasan sedang diuji, justru infrastruktur yang lebih dulu menyerah.
Video yang diunggah melalui akun Instagram @nanad.0814 memperlihatkan Nadya menangis setelah lomba yang dipersiapkannya siang dan malam harus berakhir sebelum waktunya.
“Gagal menyelesaikan OSN karena tiba-tiba ada pemadaman listrik di menit ke-32. Sakit hati banget. Anak udah belajar berbulan-bulan, siang dan malam, malah berakhir seperti ini,” tulis unggahan tersebut.
Kalimat sederhana itu berhasil mewakili perasaan banyak orang tua Indonesia yang memahami betapa mahalnya sebuah perjuangan anak.
Menurut keterangan keluarga, pemadaman listrik terjadi pada Senin, 8 Juni 2026, dan berlangsung lebih dari empat jam.
Masalahnya bukan hanya lampu yang padam.
Di era digital, listrik mati berarti internet ikut lumpuh. Data seluler yang biasanya menjadi penyelamat juga ikut tumbang. Mengirim pesan WhatsApp saja tidak bisa, apalagi mengikuti kompetisi nasional berbasis daring.
Akhirnya, Nadya hanya mampu bertahan hingga menit ke-32 sebelum sistem dan keadaan memaksanya berhenti.
Sebuah ironi yang sulit dijelaskan kepada anak seusianya.
Bagaimana menjelaskan bahwa kerja keras selama berbulan-bulan bisa berakhir bukan karena kemampuan, melainkan karena kabel yang tak lagi dialiri daya?
Bagaimana menjelaskan bahwa dalam perlombaan ilmu pengetahuan, nasib justru ditentukan oleh kestabilan jaringan listrik?
Mungkin inilah satu-satunya olimpiade di mana peserta harus menguasai IPA, Matematika, internet, sinyal, kuota, dan keberuntungan sekaligus.
Meski kecewa, Nadya menunjukkan kedewasaan yang bahkan tidak dimiliki sebagian orang dewasa yang gemar mengamuk di media sosial.
Melalui unggahan terbaru, keluarga menyampaikan bahwa Nadya telah mengikhlaskan kejadian tersebut.
“Insya Allah sekarang Nanad udah ikhlas, udah ceria lagi, udah senyum lagi.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan pelajaran besar.
Bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya tentang memenangkan lomba.
Pendidikan juga tentang bagaimana seseorang bangkit ketika keadaan tidak adil.
Tentang menerima kenyataan pahit tanpa kehilangan semangat untuk melangkah lagi.
Tentang memahami bahwa hidup kadang memberikan soal yang tidak pernah diajarkan di sekolah.
Dan Nadya, di usia yang masih sangat muda, telah berhasil menjawab soal kehidupan itu dengan nilai yang sangat baik.
Setelah kisahnya viral dan ditonton lebih dari 5,5 juta kali, perhatian publik pun mengalir deras.
Ribuan warganet memberikan dukungan dan doa.
Tak lama kemudian, perwakilan PLN Sukabumi datang langsung ke SDN Gandasoli untuk menyampaikan permohonan maaf atas pemadaman yang terjadi.
Pihak keluarga mengapresiasi itikad baik tersebut.
Namun semua pihak juga memahami satu kenyataan yang tak bisa diubah.
Permintaan maaf bisa datang.
Simpati bisa mengalir.
Dukungan bisa berdatangan.
Tetapi waktu lomba yang hilang tidak bisa kembali.
OSN yang terlewat tidak dapat diulang.
Kesempatan yang lewat tidak memiliki tombol “restart”.
Bukan Sekadar Kisah Viral, Tapi Alarm Untuk Sistem
Peristiwa yang dialami Nadya seharusnya tidak berhenti sebagai konten viral yang mengundang air mata lalu dilupakan esok hari.












