Scroll untuk baca artikel
NASIONAL

Massa Pati Dapat Respons DPR, Langsung Pulang? Ojol Jakarta Kecewa: Solidaritas Kok Ditinggal Begitu Saja!

×

Massa Pati Dapat Respons DPR, Langsung Pulang? Ojol Jakarta Kecewa: Solidaritas Kok Ditinggal Begitu Saja!

Sebarkan artikel ini
Koordinator AMPB Supriyono alias Botok

JAKARTA — Solidaritas di jalanan rupanya tidak selalu berakhir dengan foto bersama dan ucapan terima kasih. Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) mengaku kecewa setelah massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) disebut meninggalkan kawasan DPR RI, Jakarta, begitu saja usai perwakilan mereka diterima pimpinan DPR RI, Kamis (27/8/2026).

Massa AMPB yang dikoordinasikan Supriyono alias Botok sebelumnya datang ke Jakarta untuk menyampaikan tuntutan. Dalam aksinya, mereka mendapat dukungan dari sejumlah elemen, termasuk komunitas pengemudi ojol.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namun, setelah perwakilan AMPB keluar dari Gedung DPR RI dan mendapat respons terkait tuntutan mereka, rombongan massa Pati disebut langsung meninggalkan lokasi.

Di titik inilah kekecewaan muncul.

Bagi sebagian pengemudi ojol yang sejak awal ikut menyambut dan memberikan dukungan, kepergian rombongan tersebut dinilai terlalu mendadak. Tak sedikit yang merasa komunikasi antar-elemen pendukung terputus begitu saja.

Solidaritas sudah dibangun bersama, tapi ketika urusan di dalam gedung selesai, yang di luar justru ditinggal tanpa kabar.

Ketua Umum Garda Indonesia, Igun Wicaksono, mengatakan komunitas ojol sejak awal ikut menyambut dan mendukung kedatangan massa Pati ke Jakarta.

BACA JUGA :  Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.094 Triliun! Naik 4,4 Persen, BI Ungkap Siapa yang Paling Banyak Berutang

Menurutnya, persoalan yang membuat pengemudi ojol kecewa bukan karena tuntutan AMPB mendapat perhatian dari DPR. Sebaliknya, mereka justru mempertanyakan mengapa tidak ada koordinasi atau komunikasi terlebih dahulu dengan kelompok yang sebelumnya ikut memberikan dukungan.

“Setelah keluar dari Gedung DPR dan memperoleh kesepakatan terkait tuntutannya, massa langsung meninggalkan lokasi tanpa lebih dulu berkoordinasi dengan elemen pendukung lainnya,” demikian inti kekecewaan yang disampaikan komunitas ojol.

Tuntutan Direspons, Pendukung Malah Bingung Cari Rombongan

Kekecewaan tersebut memperlihatkan satu hal yang cukup ironis dalam dinamika aksi massa: solidaritas sering kali terasa sangat kuat ketika tujuan belum tercapai, tetapi bisa mendadak renggang ketika salah satu kelompok merasa urusannya sudah selesai.

Bahasa sederhananya, selama perjuangan masih berlangsung, semua disebut kawan seperjuangan. Tapi setelah pintu audiensi terbuka dan tuntutan mendapat respons, sebagian kawan bisa tiba-tiba berubah menjadi rombongan yang sudah lebih dulu pulang.

Igun menegaskan, komunitas ojol tidak mempermasalahkan jika tuntutan warga Pati mendapat perhatian dari DPR RI.

Yang dipersoalkan adalah etika komunikasi.

Sebab, kelompok ojol merasa sebelumnya mereka ikut memberikan dukungan selama massa AMPB berada di Jakarta. Ketika kemudian rombongan memutuskan meninggalkan lokasi tanpa koordinasi, sebagian pendukung merasa solidaritas yang diberikan tidak memperoleh perlakuan yang sama.

BACA JUGA :  Nelayan Cirebon "Curhat" Soal Kelangkaan Solar Kepada Jokowi

Bukan soal ikut menuntut atau tidak, melainkan soal jangan sampai sudah sama-sama berdiri di bawah panas matahari, tetapi ketika bubar satu pihak harus mencari-cari kabar sendiri.

Aksi di Senayan Tetap Berjalan, Massa Pati Sudah Pulang

Di sisi lain, aksi di kawasan Senayan tidak serta-merta berakhir setelah rombongan dari Pati meninggalkan lokasi.

Mahasiswa, pelajar, serta sejumlah kelompok masyarakat lainnya masih bertahan di sekitar kompleks parlemen untuk menyampaikan aspirasi masing-masing.

Situasi tersebut semakin menonjolkan perbedaan posisi antar-elemen aksi. Ketika AMPB dinilai telah memperoleh respons atas tuntutannya dan memilih meninggalkan lokasi, kelompok lain masih berada di lapangan.

Kondisi itu kemudian memicu pertanyaan soal koordinasi dan komunikasi antar-elemen yang sebelumnya berada dalam satu ruang aksi.

Karena dalam demonstrasi, rupanya yang sulit bukan hanya menyatukan tuntutan.

Menyatukan jadwal pulang juga bisa jadi persoalan.

Botok Minta Maaf kepada Ojol dan Warga Jabodetabek

Merespons kekecewaan tersebut, Koordinator AMPB Supriyono alias Botok menyampaikan permintaan maaf kepada para pengemudi ojol dan masyarakat Jabodetabek.

BACA JUGA :  Menaker Pastikan JHT Kembali ke Aturan Lama

Permintaan maaf itu disampaikan setelah rombongan massa Pati meninggalkan lokasi aksi di depan Gedung DPR RI.

Langkah tersebut menjadi upaya meredakan kekecewaan kelompok pendukung yang merasa tidak mendapatkan komunikasi sebelum rombongan memutuskan pulang.

Meski demikian, peristiwa tersebut menjadi catatan penting dalam dinamika solidaritas antar-kelompok masyarakat.

Sebab, aksi bersama bukan hanya soal siapa yang paling keras berteriak atau siapa yang lebih dulu diterima pejabat.

Ada satu hal yang kadang lebih sederhana, tetapi justru mudah terlupakan: komunikasi dengan orang-orang yang sejak awal ikut berdiri di belakang perjuangan.

Kini, setelah permintaan maaf disampaikan, polemik kepergian mendadak massa AMPB diharapkan dapat mereda.

Namun, peristiwa itu meninggalkan satu pelajaran satir dari jalanan Senayan:

Kalau datang bersama-sama untuk memperjuangkan aspirasi, setidaknya sebelum pulang jangan sampai pendukung baru tahu rombongan sudah berangkat setelah melihat lokasi aksi mendadak sepi.

Sebab dalam solidaritas, ucapan terima kasih memang tidak membutuhkan anggaran, tidak perlu rapat paripurna, dan tampaknya juga tidak harus menunggu pembahasan hingga akhir tahun.