JAKARTA — Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan ketahanan kuat hingga Juli 2026. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 8,98 juta, naik 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di saat ekonomi global masih penuh ketidakpastian, pariwisata justru terus menjadi penggerak ekonomi daerah dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan capaian tersebut patut disyukuri, namun momentum pertumbuhan harus dijaga melalui mitigasi, penguatan strategi pasar dan kolaborasi. Kinerja itu juga diperkuat devisa pariwisata Semester I 2026 yang mencapai US$8,43 miliar atau sekitar Rp145,13 triliun, tumbuh 2,88 persen dari tahun sebelumnya.
Dampak ekonomi tidak berhenti pada angka devisa. Berdasarkan Tourism Satellite Account BPS, kontribusi langsung pariwisata terhadap PDB pada 2025 mencapai 4,78 persen atau sekitar Rp1,139 triliun, meningkat dari Rp1,057 triliun pada 2024. Transaksi wisatawan di hotel, kuliner hingga produk UMKM menjadi rantai ekonomi yang manfaatnya diharapkan semakin luas.
Dari pasar domestik, sepanjang Januari-Juli 2026 tercatat 737,85 juta perjalanan wisatawan nusantara, tumbuh 3,34 persen. Sebaliknya, perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri mencapai 5,26 juta dan turun 3,25 persen. Industri hotel juga ikut menguat dengan tingkat okupansi 49,13 persen, naik 2,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pemerintah kini mendorong pariwisata yang tidak sekadar mengejar jumlah kunjungan, tetapi lama tinggal, belanja wisatawan dan dampak ekonomi di destinasi. Arah tersebut diperkuat melalui event, desa wisata, promosi berbasis segmentasi pasar serta program S’RASA untuk memperkenalkan rempah Indonesia melalui gastrodiplomasi. Hingga 1 September 2026, Indonesia telah memiliki 6.400 desa wisata.
Aspek keselamatan juga menjadi perhatian. Kementerian Pariwisata memperkuat pelatihan keselamatan wisata bahari di delapan provinsi, mencakup identifikasi bahaya, informasi cuaca, tanggap darurat dan teknik penyelamatan. Pemerintah juga menyiapkan 125 event melalui Karisma Event Nusantara (KEN) 2027, dengan penekanan bahwa event harus menghasilkan manfaat bagi destinasi, UMKM dan pekerja seni.
Namun, pertumbuhan pariwisata menghadapi ujian dari bencana. Kebakaran kawasan Bromo-Tengger-Semeru sempat menghentikan aktivitas wisata, sementara gempa di Flores berdampak pada sejumlah destinasi, akomodasi, aksesibilitas dan desa wisata. Pemerintah melakukan koordinasi pemulihan dengan daerah dan pelaku industri, dengan prinsip pembukaan destinasi tetap mengutamakan keselamatan wisatawan.
Erupsi Anak Krakatau juga memberi dampak besar terhadap sektor penerbangan di Lampung, Banten, Jakarta dan Jawa Barat, dengan pembatalan 4.132 penerbangan yang berdampak pada sekitar 450 ribu penumpang. Kementerian Pariwisata mengimbau OTA dan biro perjalanan menerapkan kondisi force majeure, termasuk pengembalian biaya tiket 100 persen serta kemudahan reschedule tanpa biaya tambahan.
Widiyanti menegaskan capaian tersebut harus dijaga hingga akhir 2026 melalui kolaborasi pemerintah, daerah, industri, komunitas dan masyarakat. Tantangannya bukan lagi sekadar mendatangkan wisatawan, tetapi memastikan setiap kunjungan menghasilkan nilai ekonomi, destinasi tetap aman, dan manfaat pariwisata benar-benar mengalir ke masyarakat.***












