LAMPUNG TIMUR — Aksi pencurian di kawasan peladangan Desa Gunung Sugih Besar, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, kini makin bikin warga geleng kepala. Bukan cuma nekat, para pelaku juga dinilai makin brutal dan seperti kehilangan akal sehat.
Kalau biasanya maling datang diam-diam lalu kabur membawa hasil curian, kali ini ceritanya berbeda. Karena gagal membawa motor, pelaku justru diduga memilih membakarnya sampai hangus. Sebuah aksi yang membuat warga bertanya-tanya: ini pencuri atau manusia yang sedang latihan jadi villain film kelas teri?
Korban dalam peristiwa tersebut adalah Sugiono (63), warga Desa Bauh Gunung Sari, Kecamatan Sekampung Udik. Ia menjadi korban percobaan pencurian saat sedang beraktivitas di ladang pada Kamis pagi (28/5/2026).
Seperti rutinitas petani pada umumnya, Sugiono pagi itu datang ke peladangan untuk mengecek tanaman sekaligus mencari rumput pakan ternak. Motor Honda Supra X miliknya diparkir di pinggir jalan ladang.
Namun karena kondisi wilayah memang dikenal rawan pencurian, korban ternyata sudah mengambil langkah antisipasi ekstra. Motor dirantai dan dikunci menggunakan gembok agar tidak mudah dibawa kabur.
“Sudah saya rantai dan saya gembok, lalu saya tinggal masuk ke ladang mengecek tanaman,” ujar Sugiono.
Sayangnya, pengamanan ala “benteng terakhir rakyat kecil” itu rupanya membuat maling frustrasi.
Sekitar 40 menit kemudian, Sugiono kembali ke lokasi parkir. Bukannya menemukan motor utuh, ia justru mendapati sepeda motornya sudah dilalap api. Di lokasi, ia sempat melihat sosok pelaku yang kemudian langsung melarikan diri ke area peladangan.
Diduga karena tidak mampu membuka rantai dan gembok, pelaku memilih jalan paling barbar: membakar motor korban.
“Kemungkinan malingnya tidak bisa membuka rantai dan gembok yang saya pasang. Karena gagal mengambil, motor saya dibakar begitu saja,” katanya.
Sugiono sempat berusaha mengejar pelaku. Namun usia yang tidak lagi muda membuat upaya tersebut sia-sia. Pelaku berhasil kabur memanfaatkan area ladang yang luas dan sepi.
Akibat kejadian itu, satu unit Honda Supra X milik korban hangus total dan tidak bisa digunakan lagi. Bagi sebagian orang mungkin hanya motor tua, tetapi bagi petani, kendaraan seperti itu adalah urat nadi kehidupan alat mencari nafkah, pergi ke ladang, hingga menopang aktivitas sehari-hari.
Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan keresahan warga yang sudah lama hidup berdampingan dengan ancaman pencurian di wilayah peladangan. Menurut warga, pelaku kini tidak lagi memilih barang. Apa pun yang punya nilai ekonomis akan diembat: kelapa, jagung, singkong, hingga kendaraan petani.
Ironisnya, para petani yang setiap hari berkeringat di bawah panas matahari demi menghidupi keluarga justru harus bertaruh dengan rasa aman ketika pergi ke ladang. Sementara maling tampaknya makin percaya diri berkeliaran seperti sedang patroli wilayah kekuasaan sendiri.
Warga pun berharap aparat kepolisian dan unsur keamanan lingkungan meningkatkan patroli rutin di kawasan rawan, khususnya area peladangan yang jauh dari permukiman.
Sebab jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin petani ke depan harus membawa cangkul di tangan kanan dan rasa waswas di tangan kiri setiap kali berangkat mencari nafkah.***













