Scroll untuk baca artikel
Lampung

Jalan Rusak Puluhan Tahun di Pringsewu: Anak Sekolah Bertaruh Nyawa, Pemerintah Masih Sibuk Hitung Janji

×

Jalan Rusak Puluhan Tahun di Pringsewu: Anak Sekolah Bertaruh Nyawa, Pemerintah Masih Sibuk Hitung Janji

Sebarkan artikel ini
Foto: Jalan penghubung menuju Lebak Damar, Kabupaten Pesawaran itu kondisinya bukan lagi rusak biasa, melainkan seperti sengaja dipelihara agar tetap hancur, (foto_kolase)

PRINGSEWU — Di saat banyak daerah sibuk memamerkan pembangunan dan berlomba memasang baliho pencitraan, warga Pekon Rantau Tijang, Kecamatan Pardasuka, justru masih akrab dengan kubangan lumpur yang disebut jalan kabupaten. Jalan penghubung menuju Lebak Damar, Kabupaten Pesawaran itu kondisinya bukan lagi rusak biasa, melainkan seperti sengaja dipelihara agar tetap hancur.

Yang paling miris, jalan tersebut menjadi akses utama anak-anak menuju sekolah. Setiap pagi mereka harus melewati lintasan berlubang, licin, penuh genangan, dan siap menjegal siapa saja yang melintas terutama saat musim hujan datang. Alih-alih menjadi jalan pendidikan, kondisinya lebih cocok dijadikan arena uji nyali.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Ironisnya lagi, di sekitar lokasi berdiri SMP Satu Atap yang semestinya menjadi solusi pendidikan masyarakat sekitar. Namun karena akses jalannya memprihatinkan, minat siswa bersekolah di sana justru minim. Banyak pelajar memilih sekolah lebih jauh ke Pardasuka dibanding harus berjibaku dengan “sirkuit off-road” warisan pemerintah daerah.

Warga pun mulai lelah mendengar janji demi janji yang datang silih berganti, sementara jalan tetap setia dalam keadaan rusak.

“Sejak Kabupaten Pringsewu berdiri, jalan ini belum pernah benar-benar disentuh pembangunan. Jadi wajar kalau masyarakat merasa dianaktirikan. Kalau dibanding daerah lain, mungkin ini jalan paling tertinggal di Pringsewu,” ujar warga setempat didampingi Bendahara Pekon Rantau Tijang, Agus Efendi.

BACA JUGA :  Program KPB Lampung Dilaunching, Ini Kemudahan Bagi Petani

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi menampar keras. Sebab di tengah jargon pemerataan pembangunan, masih ada wilayah yang seperti lupa dimasukkan ke dalam peta perhatian pemerintah.

Agus Efendi mengaku perjuangan warga bukan tanpa usaha. Proposal perbaikan jalan sudah berkali-kali dibawa hingga ke tingkat Provinsi Lampung. Nama anggota DPRD disebut, berkas diajukan, harapan dititipkan. Namun hasilnya masih sama: jalan tetap rusak, proposal mungkin hanya sehat saat difoto lalu sakit setelah masuk meja birokrasi.

“Saya sudah membawa proposal sampai ke DPRD Provinsi Lampung agar jalan ini diperbaiki. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pekon Rantau Tijang, Rudianto, membenarkan bahwa kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung sangat lama, bahkan sebelum dirinya menjabat.

BACA JUGA :  KPU Lamtim, Mulai Distribusikan Logistik Pemilu 2019

“Mudah-mudahan tahun depan ada anggaran pembangunan dari Pemkab Pringsewu supaya masyarakat benar-benar merasakan pembangunan. Karena faktanya memang sampai sekarang belum tersentuh,” ujarnya, sebagaimana dikutip Wawai News Kamis (28/05/).

Pernyataan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik pidato pembangunan dan laporan serapan anggaran, masih ada masyarakat yang setiap hari harus berdamai dengan jalan rusak demi sekolah, bekerja, dan bertahan hidup.

Entah sampai kapan warga harus menunggu. Sebab di negeri yang kadang lebih cepat memperbaiki citra daripada memperbaiki jalan, lubang-lubang ini tampaknya belum cukup viral untuk dianggap penting.***