Scroll untuk baca artikel
Budaya

Sekappung Limo Migo Bukan Properti Baliho: Ketika Adat Lampung Diingat di Momen Politik

×

Sekappung Limo Migo Bukan Properti Baliho: Ketika Adat Lampung Diingat di Momen Politik

Sebarkan artikel ini
Baliho Selamat Datang Jokowi di gerbang pintu masuk ke Taman Purbakala, Pugung Raharjo bertulis Sekappung Limo Migo menuai kontroversi - foto dok

Ketika Budaya Mendadak Populer Saat Musim Politik

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Lampung.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di banyak daerah, budaya sering mengalami apa yang bisa disebut sebagai “musim panen perhatian”.

Saat ada agenda besar, kunjungan tokoh nasional, atau momentum politik tertentu, simbol budaya mendadak tampil di barisan depan.

Pakaian adat dikenakan.

Tarian tradisional dipentaskan.

Nama marga dan kebandaran dicetak besar di spanduk.

BACA JUGA :  Target 2 Juta Dosis Vaksin, Jokowi Minta TNI-Polri Berperan Aktif

Budaya mendadak menjadi primadona.

Namun setelah acara selesai dan panggung dibongkar, masyarakat sering kembali bertanya:

Siapa yang selama ini menjaga tradisi itu tetap hidup?

Siapa yang mengajarkan sejarahnya kepada generasi muda?

Siapa yang merawat situs-situs budaya ketika tidak ada kamera yang menyorot?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi refleksi bahwa pelestarian budaya tidak cukup diwujudkan melalui baliho, seremoni, ataupun dokumentasi media sosial.

Pelestarian budaya membutuhkan penghormatan terhadap sejarah, tokoh adat, situs budaya, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

BACA JUGA :  Serahkan Zakat, Jokowi Luncurkan Gerakan Cinta Zakat

Politik Datang dan Pergi, Adat Tetap Berdiri

Masyarakat adat menegaskan mereka tidak menolak penggunaan nama Sekappung Limo Migo.

Yang mereka minta hanyalah penghormatan terhadap struktur adat dan keterlibatan pemangku adat dalam setiap penggunaan identitas kebandaran tersebut.

Sebab politik memiliki siklus.

Hari ini ramai.

Besok bisa berganti.

Baliho bisa dicetak ulang.

Spanduk bisa diturunkan.

Jabatan bisa berakhir.

Namun adat dan budaya diwariskan lintas generasi.

Karena itu masyarakat berharap Festival Sekappung Limo Migo ke-2 benar-benar menjadi ruang pelestarian budaya, bukan sekadar panggung simbolik yang memanfaatkan nama besar warisan leluhur.

BACA JUGA :  Legend, Lomba Kereta Peti Sabun Kembali Digelar di Bandung Setelah 35 Tahun Vakum

Sebab pada akhirnya budaya tidak membutuhkan politik untuk tetap hidup.

Sebaliknya, politiklah yang sering membutuhkan budaya agar tampak memiliki akar di tengah masyarakat.

Dan ketika adat dihormati sebagaimana mestinya, yang terjaga bukan hanya tradisi leluhur, tetapi juga martabat sejarah yang telah berdiri jauh sebelum baliho-baliho itu dipasang.***