Scroll untuk baca artikel
Lampung

Malam Gemerlap Muli Mekhanai 2026: Saat Generasi Z Lampung Unjuk Pesona, Bukan Sekadar Tebar Senyum di Atas Panggung

×

Malam Gemerlap Muli Mekhanai 2026: Saat Generasi Z Lampung Unjuk Pesona, Bukan Sekadar Tebar Senyum di Atas Panggung

Sebarkan artikel ini
Malam Grand Final Pemilihan Muli Mekhanai Provinsi Lampung 2026 di Ballroom Radisson Lampung Kedaton, Kamis (21/5/2026) - foto doc

LAMPUNG – Bandar Lampung kembali jadi pusat sorotan. Ballroom Radisson Hotel Lampung berubah bak panggung “mini Indonesia” ketika Grand Final Pemilihan Muli Mekhanai Provinsi Lampung 2026 digelar meriah pada Kamis malam (21/5/2026). Lampu panggung berkilau, gaun dan tapis Lampung bersinar, sementara para finalis tampil penuh percaya diri seolah sedang membuktikan bahwa anak muda Lampung bukan cuma jago bikin konten TikTok, tapi juga punya isi kepala.

Ajang tahunan bergengsi ini mempertemukan putra-putri terbaik dari seluruh kabupaten/kota di Lampung. Namun di balik parade senyum, catwalk elegan, dan jawaban diplomatis ala “Indonesia Emas”, tersimpan misi yang lebih serius: mencari generasi muda yang mampu menjadi wajah budaya dan pariwisata Lampung di era digital.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Gubernur Lampung yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesra, M. Firsada, menegaskan bahwa Muli Mekhanai bukan sekadar lomba adu tampang dan kepintaran merangkai kata-kata indah.

“Yang dicari bukan hanya pintar bicara, tapi juga punya karakter kuat, wawasan budaya, kepedulian sosial, dan mampu membaca perkembangan zaman,” ujarnya dalam sambutan.

BACA JUGA :  Covid-19 di Tanggamus Bertambah 8 Kasus Terkonfirmasi Baru

Pernyataan itu terasa seperti sindiran halus bagi generasi yang kadang lebih hafal tren sound viral ketimbang sejarah daerah sendiri. Di tengah derasnya budaya digital, para finalis diingatkan agar tetap berpijak pada falsafah hidup masyarakat Lampung seperti Piil Pesenggiri dan Nemui Nyimah nilai tentang harga diri, keramahan, dan penghormatan terhadap sesama.

Pesannya jelas modern boleh, kehilangan identitas jangan.

“Anak muda Lampung harus kreatif, inovatif, dan melek teknologi,” lanjutnya.

Kalimat yang terdengar sederhana itu sesungguhnya adalah alarm sosial. Sebab di era sekarang, promosi wisata bukan lagi soal brosur lusuh di meja hotel atau baliho setengah roboh di pinggir jalan. Promosi daerah kini ditentukan oleh siapa yang paling kreatif mengemas cerita di media sosial. Dan tampaknya, pemerintah sadar betul bahwa masa depan promosi wisata Lampung kini ada di tangan generasi yang hidupnya tak jauh dari kamera depan dan koneksi WiFi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Lampung, Tony Ferdinansyah, menjelaskan bahwa tahun ini terdapat 45 finalis terbaik yang lolos dari proses seleksi ketat sejak April 2026.

BACA JUGA :  LP3RI Soroti Penggunaan Anggaran di BPKAD Lamtim

Selama karantina, para peserta dibekali berbagai materi mulai dari public speaking, personal branding, entrepreneurship, budaya Lampung, hingga sosialisasi keamanan kosmetik dan obat-obatan. Paket lengkap untuk mencetak duta wisata yang bukan hanya fotogenik, tetapi juga siap tampil profesional di ruang publik.

Dan akhirnya, mahkota kehormatan itu jatuh kepada Maura Cantyqa Candra asal Lampung Selatan sebagai Muli 2026, serta Muhammad Davito Winarta asal Lampung Timur sebagai Mekhanai 2026.

Keduanya sukses menyisihkan puluhan finalis lainnya lewat kombinasi penampilan, kecerdasan, komunikasi, dan tentunya kemampuan menjawab pertanyaan yang kadang lebih menegangkan daripada sidang skripsi.

Sementara itu, daftar runner-up juga diisi nama-nama muda potensial dari berbagai daerah:

Kategori Muli

  • Runner-up 1: Ayu Rexy Dian
  • Runner-up 2: Ananda Kavoena Cleoputri
  • Runner-up 3: Nikita Sasikirana
  • Runner-up 4: Zahra Artha Mei Via

Kategori Mekhanai

  • Runner-up 1: Yoglendy Joshbert D.T
  • Runner-up 2: Rizky Nanda Febrio Adha
  • Runner-up 3: Firazh Abraham
  • Runner-up 4: Ahmad Fatih Fauzan
BACA JUGA :  Arinal Klaim Angka Kemiskinan dan Pengangguran di Lampung Menurun

Di tengah sorotan lampu dan tepuk tangan meriah, satu hal menjadi jelas: Muli Mekhanai kini bukan lagi sekadar simbol pariwisata daerah dengan selempang dan mahkota. Mereka dituntut menjadi influencer budaya, komunikator publik, bahkan “sales promotion berjalan” bagi Lampung.

Tugas yang tidak ringan. Sebab mereka harus mampu meyakinkan dunia luar bahwa Lampung bukan cuma terkenal karena jalan berlubang yang kadang viral di media sosial, tetapi juga kaya budaya, ramah wisatawan, dan penuh potensi ekonomi kreatif.

Malam grand final pun berakhir dengan glamor, tawa, dan harapan besar. Sementara publik berharap, para pemenang tidak hanya aktif saat kamera menyala dan panggung berdiri megah, tetapi juga benar-benar hadir di tengah masyarakat sebagai wajah muda Lampung yang inspiratif.

Karena pada akhirnya, gelar duta wisata bukan sekadar soal siapa paling anggun mengenakan tapis atau paling lantang menjawab pertanyaan juri. Tapi siapa yang benar-benar mampu membawa nama Lampung bersinar bahkan setelah lampu panggung dimatikan.